Positioning Papua Di Pusaran Global Supply Chain, Ekonom : Ketimpangan Bisa Diatasi

BARA NEWS

- Tim Kreatif

Rabu, 3 Januari 2024 - 18:39 WIB

5098 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Ekonom asal Papua, Dr. Jean Richard Jokhu, SE., MM menjelaskan secara praktis terkait Global Supply Chain. Rantai Pasok Global merupakan istilah yang selama 50 tahun didengungkan pasca perang dunia kedua. Semua negara berlomba mengambil kesempatan ikut serta dalam rantai pasok global mulai dari negara berkembang hingga negara maju sekalipun ingin ikut serta dalam skema rantai pasok global.

Jean mengatakan mata rantai pasok global merupakan hal yang harus dimengerti secara sistematis tanpa
mengurangi arti atau makna sebenarnya.
Kata rantai pasok sendiri merupakan terjemahan dari bahasa aslinya supply chain. Kata ini
memiliki makna Supply dan Chain. Supply merupakan bahan baku atau bahan dasar dari
sebuah produk. Sering dimaknai sebagai bahan mentah bagi para pelaku usaha. Bentuk dari bahan baku ini umumnya berupa komoditi hasil tambang (nikel, emas, perak, dll), atau hasil
pertanian (padi, kedelai, jagung, dll).

Kedua, ada rantai atau chain. Kata Chain merupakan makna dari seluruh proses yang terjadi dalam transformasi bahan baku atau mentah menjadi barang jadi. Dari jagung hingga jadi snack, seluruh proses yang ikut serta dalam menciptakan produk barang atau jasa adalah
‘rantai’. Mulai dari proses menanam jagung, mengantar jagung ke pabrik, mengolah jagung jadi snack hingga pengiriman ke toko retail, seluruh proses ini merupakan bagian dari chain dalam supply chain.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu jebolan doktoral termuda di Fakuktas Ekonomi dan Bisinis (FEB) Universitas Indonesia, Jean menjelaskan dalam skala kecil rantai pasok dapat dilakukan oleh satu perusahaan saja dimana mereka
dapat mengontrol mulai dari menanam jagung hingga pengiriman jagung ke toko ritel. Namun dalam skema global rantai pasok memudahkan sebuah pemain global untuk melakukan ekspansi supplier dan customer.

Sebagai contoh Tesla, sebagai salah satu pemain besar dalam
industri mobil listrik mampu menyematkan mobilnya dalam persaingan global.
Padahal Tesla
sendiri merupakan perusahaan yang memproduksi batre saja. Komponen mobil yang lain merupakan hasil produksi dari berbagai perusahaan lain.

Contoh lain Iphone 15 smartphone
yang memiliki identitas ekslusif, meskipun demikian mereka menggunakan LCD milik samsung. Ini artinya semua perusahaan berkompetisi sekaligus berkolaborasi.

Tuntutan menjadi pemain global harus dijawab pemerintah indonesia dengan membangun dan
mempersiapkan SDM manusia yang baik. Pemerataan pembangunan manusia dari sabang sampai merauke harus menjadi misi pemerintah dalam menyelaraskan pembangunan dengan
kebutuhan rantai pasok global.

Banyak perusahaan internasional yang masuk ke Indonesia yang fokus pada daerah maju di Indonesia sehingga meninggalkan daerah tertinggal dan terbelakang.
Jawa-Sumatra
merupakan daerah tujuan utama perusahaan asing dalam mengembangkan rantai pasok mereka ke daerah asia. Pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Papua masih jauh dari tujuan rantai pasok dunia.

Hal ini disebabkan karena ketertinggalan mempersiapkan SDM manusia di Papua. Visi
pemerintah dalam membangun infrastruktur Papua harus sejalan dengan kesiapan SDM.
Perusahaan tambang Freeport merupakan penanaman modal asing pertama yang melakukan investasi di Indonesia tahun 1967. Dua tahun setelah Papua bergabung dengan Indonesia.

Namun selang 56 tahun kemudian tidak ada dampak signifikan bagi Papua. Papua merupakan provinsi pertama yang seharusnya menjadi episentrum dari rantai pasok global dalam hal
tambang dan turunannya. Namun apakah Papua dapat merasakan hasil buminya?

Presiden RI saat ini Bapak Joko Widodo telah berinisiatif untuk membangun Papua. Jokowi telah memberikan atensi khusus bagi Papua. Mulai dari kebijakan satu harga hingga
pembangunan jalan trans Papua. Di tengah isu HAM dan keamanan beliau mampu
mendongkrak perhatian Indonesia terhadap Papua, ucap Jean.

Namun sayangnya seluruh kebijakan
tersebut tidak bersinergi dengan kebutuhan dasar masyarkat Papua yaitu menjadi tuan di
tanahnya sendiri.
Kebijakan percepatan pembangunan seperti BP3OKP dan RIPPP mengusung misi besar
Papua sehat, Papua cerdas dan Papua Produktif seharusnya mampu menjawab masalah Papua saat ini.
Penyelesaaian komprenesif harus disertai dengan operasional yang definitif.

Berdasarkan Data BAPENAS mencatat 2001 – 2018 Papua menempati posisi 34 dari 34 provinsi saat itu dan
pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 tercatat minus 15%. Sementara dana otsus yang sudah
diberikan sebesar 53 Trilliun Rupiah. Ini menunjukan adannya permasalahan holistik di Provinsi Papua.

Sebagai putra asli Papua, Jean mengatakan bahwa potensi alam Papua memberikan kesempatan yang luar biasa harus dipersiapkan untuk
mengikuti trend global. Bukan hanya tambang hasil bumi dari pertanian Papua masih ‘eksentrik’
bagi potensi pasar global. Dengan adanya pemekaran wilayah menjadi 5 provinsi baru Papua harus bisa menangkap kebutuhan global.

Sebagai contoh paling sederhana pegunungan Jayawijaya yang terkenal akan hasil alamnya
berupa kopi, jika Papua mampu mengekslorasi pemanfaatan kopi dan turunannya mulai dari biji kopi, bubuk kopi seluruhnya dibangun di Papua dengan sistem penanaman tradisional maka Provinsi Papua pegunungan dapat mendominasi pasar global kopi dengan penanaman yang
masih tradisional tentu memperhatikan nilai nilai lokal.

Di Kosta Rica plantasi kopi dengan
produksi di ketinggian 1500 – 2000 MDPL menjadi atraksi turis dengan memberikan pendapatan sebesar 1.7 milliar dollar per tahun. Angka itu diperoleh dari pendapatan solemly dari kopi saja maka jika Papua pegunungan jika mampu mendapatkan 30% dari angka tersebut dengan jumlah penduduk kurang dari 400 ribu orang maka provinsi ini akan menjadi provinsi yang mandiri. Tentu ikut serta dalam rantai pasok global OAP harus diperlakukan secara adil dan merata. Posisi inilah yang harus dipersiapkan oleh pemerintah.

Pemerintah harus menjadi instrumen yang memediasi provinsi dengan permintaan global. Mulai dari menyediakan pelatihan dan sosialisasi turunan dan peluang industri kopi di mata global. Kopi dari Papua akan dijual atau menjadi pelengkap bagi makanan dunia, ungkap Jean.

Provinsi lain, Provinsi Papua Selatan dengan ibu kota Merauke. Dengan luas lahan 4 juta hektar dengan hasil kayu dan perkebunan menjadi salah satu tonggak kebutuhan masyarakat lokal. Potensi dengan daerah yang subur menjadikan provinsi ini menjadi pusat produksi Pangan Nasional. Tentu ini menjadi salah satu daya saing dalam persaingan. Bukan hanya menjual pangan untuk kebutuhan nasional melainkan pangan dengan kualitas internasional. Dengan
skema pertanian global petani OAP harus memiliki kemampuan untuk mengenal trend pangan yang sustainable.

Pertanian berbasis sustainable agriculture practices artinya proses pertanian yang memperhatikan dan tidak merusak lingkungan. Menurut data FAO Uganda sudah
memastikan penggunaan sustainable agricultural practice dalam sistem pangannya.

Selanjutnya Thailand, Equador dan triniad sudah mensosialisasikan program ini bagi warganya. Pertanian bukan lagi hanya sekedar lahan produksi melainkan bisa menjadi kawasan agrowisata.

Permintaan pasar global akan sustainable practivee sejalan dengan permintaan rantai pasok
global. Perusahaan dunia tidak akan ingin mengambil bahan baku atau komponen dari daerah yang masih mengekslopitasi linngkungan. Hal ini terkait dengan hati nurani konsumen dalam
mengkonsumsi produk tersebut. Oleh karena itu dari dua contoh provinsi di atas dapat disimpulkan bahwa Papua memiliki
peluang besar dalam pasar global. Maka kereta dengan tujuan rantai pasok sudah bergerak saatnya Papua ikut dalam gerbong rantai pasok global, pungkas Jean.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Agus Flores, Pimpinan Tinggi Memegang Tongkat Komando Organisani Bukan Anggota
Komplotan Oknum Koruptor di PWI Segera Dilaporkan ke APH, Wilson Lalengke Minta Hendry dan Sayid Dicekal
Ekosangmalam Rilis Lagu “Terdiam”, Indonesia Records Gandeng Tege Coconuttreez
Harlah ke 78 Muslimat NU, Trisya Suherman Ketum Moeldoko Center bahagia diundang resmi dan jumpa Presiden Jokowi
Simpul Relawan Ganjar-Mahfud Sepakat Terus Fokus Targetkan Raup Suara Generasi Millenial dan Generasi Z
Menjadikan Literasi Milenial Selaku Inkubator Bisnis
Refleksi Akhir Tahun : Mega Penentu Kemenangan Pilpres
Hody Hadir Berpatisipasi di Jakarta Halal Jakarta Convention Center

Berita Terkait

Senin, 24 Juni 2024 - 22:49 WIB

Lagi…Polres Batu Bara “Gempur” Jaringan Narkoba, 1 Bandar Berhasil Diamankan

Senin, 24 Juni 2024 - 17:42 WIB

Lagi…Polres Batu Bara “Gempur” Jaringan Narkoba, 1 Bandar Berhasil Diamankan

Senin, 24 Juni 2024 - 17:26 WIB

LIRA Soroti Anggaran Milyaran Untuk Penindakan Narkoba di Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara

Sabtu, 22 Juni 2024 - 18:02 WIB

Kanit Binmas Polsek Medang Deras, Antisipasi Kejahatan Atau Premanisme Hubungi 110 Call Center

Sabtu, 22 Juni 2024 - 09:58 WIB

Antisipasi Pelanggaran laka Lantas dan C3 di Daerah Rawan Unit Lantas Polres Batu Bara Patroli Blue Light

Jumat, 21 Juni 2024 - 22:37 WIB

Lapas Labuhan Ruku Kanwil Kemenkumham Sumatera Utara Menghadiri Rangkaian Kegiatan Menjelang HUT Bhayangkara ke-78

Kamis, 20 Juni 2024 - 18:33 WIB

LIRA : Satreskoba Polres Aceh Tenggara Terkesan Apatis Terhadap Bandar Narkoba

Kamis, 20 Juni 2024 - 17:03 WIB

Polres Subulussalam Gelar Donor Darah Dalam Rangka Memperingati HUT Bhayangkara ke-78

Berita Terbaru