oleh

Untuk Mewujudkan Pertahanan dan Ketahanan Pangan, GMRI Siap Menautkan Potensi Muhamadiyah & Kadin Indonesia

Jacob Ereste :

Laku spiritual yang lebih nyata menurut Ketua Umum GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia), Sriyanto Galgendu adalah seperti yang dilakukan oleh Ormas (Organisai Massa) Muhamadiyah yang spontan bergerak dengan cara membeli hasil panen para petani yang terancam anjlok harganya yang jatuh di pasar saat panen raya. Langkah nyata yang bijak ini sangat perlu dan jenial jika dapat terus dilanjutkan dengan membuka semacam koperasi yang mau membeli atau menampung semua hasil panen para petani sehingga tidak lagi menjadi mangsa para tengkulak yang selalu menekan harga penjualan terendah dari hasil pertanian yang sudah petani lakukan dengan cucuran keringatnya itu.

Demikian ungkap Eko Sriyanto Galgendu yang juga menjadi salah satu Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia. Karena menurut dia kebutuhan para petani Indonesia pantas untuk disediakan kebutuhannya oleh koperasi yang dapat dikelola secara profesional oleh Pengurus Muhamadiyah yang tidak berorientasi provit. Sehingga petani Indonesia dapat segera diposisikan menjadi garda terdepan dalam pertahanan dan ketahanan pangan Indonesia.

Orientasi gerakan sosial organisasi Muhamadiyah yang berdimensi ekonomi patut dipuji sebagai inisiatif cemerlang guna mengingatkan pada lembaga resmi pemerintah yang terlalu asyik membangun infrastruktur di berbagai tempat dan berbiaya mahal, namun abai pada kondisi nyata yang sedang dihadapi rakyat kebanyakan.

Kepekaan sosial organisasi massa semacam Muhamadiyah yang memiliki perhatian pada masalah yang sedang menghimpit warga masyarakat kecil ini patut menjadi contoh bagi lembaga atau instansi lain untuk memberi solusi nyata dari upaya pemberdayaan masyarakat untuk berperan sebagai soko guru bangsa dalam konteks pertahanan dan keamanan yang tidak hanya dalam arti sosial belaka, tapi juga meliputi aspek kehidupan yang lebih luas — budaya politik dan ekonomi rakyat. Seperti dalam bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang sudah terbilang sukses dilakulan Muhamadiyah.

Setidaknya kata Eko Sriyanto Galgendu, petani yang tengah bersedih karena harga hasil panennya jatuh anjlok tidak sesuai dengan harga yang diharapkan semula, seperti harga padi di Lampung, harga Cabai di Kudus, harganya, ikan dari daerah Jawa Barat dan harga telur di Tangerang atau harga ayam potong di Blitar yang dihasilkan mereka itu perlu dibantu semampu mungkin. Karena semua jenis usaha para petani sangat erat terkait dengan hidup dan penghidupan orang banyak. Bukan hanya sebatas petani yang bersangkutan saja, imbuh Eko Sriyanto Galgendu yang juga menjadi Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Perencanaan dan Kerjasama Strategis. Namun dampak dari kekecewaan petani terhadap hasil panen yang telah menguras seluruh daya dan tenaga mereka itu bisa berakibat vatal bila kemudian mereka beralih pada pekerjaan lain yang berada di luar sektor pertanian.

Akibat dari petani beralih profesi dari bidang pekerjaan yang selama ini mereka tekuni itu, maka lahan pertanian bisa merana dan hasil pertanian kita bisa semakin tergantung pada hasil pangan impor yang lebih menguntungkan para tengkulak, baik di lapangan maupun pada tingkat kebijakan yang dominan melibatkan pemerintah.

Aksi nyata dari Muhammadiyah dengan LazisMu yang berinisiatif membeli hasil bumi dari petani yang terancam tidak laku itu dengan cara membeli semua hasil panenan mereka, jelas merupakan langkah bijak yang tidak hanya perlu dipertahankan, tapi sangat pantas untuk terus dikembangkan hingga menjadi kekuatan nyata bagi ketahanan dan pertahanan pangan sekaligus memberdayakan para kaum petani
Indonesia yang selama ini kurang mendapat perhatian dari pihak manapun, termasuk pemerintah.

Aplikasi dari tuntunan agama seperti kewajiban mengamalkan surat Al Ma’un untuk berbuat baik dan memberi pertolongan atau bantuan untuk orang lain, bahkan memberi makan, menolong orang yang kesusahan adalah bagian dari laku ibadhah yang dapat semakin mendekatkan diri kapada Tuhan Yang Maha Esa, seperti keyakinan semua warga bangsa Indonesia terhadap sila-sila Pancasila.

Tuntunan dari Kiai Haji Achmad Dahlan sendiri sebagai tokoh sekaligus pendiri organisasi kemasyarakatan yang terbilang besar dan sukses di Indonesia ini, telah banyak memberi contoh, dalam usaha mendorong kemajuan umat melalui bidang sosial seperti sekolah mulai dari tingkat terendah hingga perguruan tinggi — seperti rumah sakit — yang juga telah tersebar dan bertumbuhan di kota besar hingga ke pelosok tanah air Indonesia. Karenanya, upaya Muhammadiyah menjalankan missi dan visinya yang mulia ini sungguh pantas dijadikan model atau contoh yang konsisten berpegang pada tuntunan dan ajaran agama. Sebab kandungan Al Qur’an itu tidak hanya cukup dihapalkan saja, tetapi justru harus lebih nyata untuk diamalkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Sebab sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang berbuat baik dan dapat memberikan banyak manfaat bagi orang lain.

Konsepsi dasar Muhammadiyah memang hendak merefleksikan perintah-perintah serta tuntunan Al-Qur’an, seperti dalam surat Ali ‘Imran ayat 104 yang tegas mengatakan; hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; karena merekalah orang-orang yang beruntung, atau disayangi Tuhan.

Ayat 104 Surat Ali Imran ini menurut kalangan tokoh Muhammadiyah sendiri memang mengisyaratkan agar melakukan inisiatif untuk umat dalam menjalankan dakwah Islam secara terorganisasi. Karena penegasan tentang hidup berorganisasi, seperti tercantum dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (butir ke-6) yang mengarahkan guna melancarkan amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi, betapa pentingnya organisasi sebagai alat pergerakan yang niscaya itu.

Atas dasar inilah, Ketua Umum GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia), Eko Sriyanto Galgendu akan berupaya menautkan sinergitas antara Muhamadiyah dengan KADIN (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia yang dinaunginya untuk memadukan kedua potensi yang ada guna membangun kekuatan bersama rakyat menjadi ketahan dan pertahanan pangan yang berbasis ekonomi kerakyatan melalui pertanian. Karenanya, dia pun berjanji untuk mengadakan silaturrahmi dalam upaya menjajagi pihak organasasi Muhamadiyah untuk ditautkan dengan KADIN Indonesia guna mewujudkan soko guru bangsa dan soko guru negara, agar dapat segera meminimalisir kegandrungan pada bahan pangan impor yang abai pada hasil petani yang pasti asli anak kandung negeri ini.

 

Jakarta, 16 September 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed