oleh

Tabik dan Salut Kepada Denny JA Ingin Memuliakan Penulis Indonesia Lewat Satupena

 

Jacob Ereste :

Semilir angin surga tetasa ditiupkan aktivis dan penulis kondang Denny JA dari Jakara hingga rerasa di Banten, tempat saya tinggal. Angin surga yang sejuk itu dia tiupkan saat terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum Satupena dan Hatipena, satu perhimpunan penulis yang telah mengikrarkan diri akan serius memperjuangkan nasib para penulis agar sejahtera dengan tetap menekuni profesinya.

Release yang tersebar luas diujung bulan Agustus 2021, seakan hendak menuntaskan kekecewaan banyak orang dari janji Proklamasi 17 Agustus 76 tahun silam itu yang tak kunjung terwujud sampai hari ini.

Itulah sebabnya salam pekik merdeka di berbagai tempat dan forum di negeri ini, masih acap menyambut pekik merdeka itu yang disauti dengan kata belum merdeka !

Sungguh, saya tidak ingat pasti realase tentang Ketua Umum Satupena dan Satuhati itu, terbaca melalui media apa. Tapi yang pasti, seperti saat mendengar dan melihat kiprah Denny JA yang gagah itu dulu saat di Yogyakarta, diabl memang selalu menampilkan ide dan gagasan besar jingga terus melejit ke maduk lingkaran elite di negeri ini.

Atas dasar itulah saya jadi menaruh kepercayaan — meski tak pernah diajak — dengan program yang mulia itu, sebab sebagai penekun pekerjaan menulis, saya memang harus konsisten dengan profesi ini. Selain itu, sejujurnya memang tak ada satu pun jenis profesi pekerjaan lain yang mampu saya lakukan.

Ketua Umum Satupena atau Hatipena, Denny JA memang sudah berikrat untuk memperjuangkan para penulis agar bisa sejahtera, supaya tidak panggah sebatas janji belaka, karena memang belum pernah terwujud. Apalagi hendak dicercapi nikmatnya hasil dari pekerjaan sebagai penulis.

Yang pasti, hari Minggu 29 Agustus 2021 saya membaca tentang akadnya Satupena dan Satuhati ingin menebar kesejahteraan — hingga dalam angan-angan saya yang liar — kesejahteraan itu tidak cuma sebatas laptop, komputer dan peralatan tulis menulis melulu, tapi juga bahan pangan dan sandangan lain termasuk dana yang cukup untuk sekolah dan kuliah anak seperti kebutuhan dasar manusia secara umum. Apalagi sampai sekarang pendemi Covid-19 semakin galak menggasak semua sektor kehidupan, lantas PPKM pun (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) terpaksa dilakukan oleh pemerintah. Dan rakyat — termasuk penulis seperti saya — ikut didera derita akibat terhambat melakukan kegiatan yang harus dilaksanakan di luar rumah.

Jadi wajar, ketika Denny JA dinobatkan sebagai “Dewa Penyelamat” para penulis yang terlantar di negeri ini — karrna memang nssib penulis di negeri ini tak seperti penulis di negeri tetangga yang memberi honoraria khusus untuk kelanjutan hidup penulis — yang pertama terbatang dalam imajiasi saya paling sedikit akan segera membagi sembako atau bansos dalam bentuk lain dengan cara yang praktis dan simple tanpa birokrasi berbelit seperti yang dilakukan banyak pihak, utamanya dari instansi pemerintah. Sementara ujud bansos yang diterima tak lagi utuh, karena digunting disana sini, seperti yang dilakukan Mensos.

Sebagai seorang penulis yang selalu mengintip kiprahnya Denny JA, sungguh dapat diyakini bahwa dia tidak main-main dengan nawaitu yang baik dan luhur itu. Karena bila tidak, itu artinya dia tengah menghina dirinya sendiri lebih nista, karena Denny JA sungguh seorang penulis yang saya tahu serius. Maka janji yang dia ikrarkan hendak memperjuangkan nasib para penulis di negeri ini, sungguh ide dan gagasan serta suatu itikat baik yang sangat mulia dan brillyan. Apalagi pada saat sekarang ini kerja para penulis untuk media cetak maenstrim tidak lagi bisa diharap bisa mencukupi kebutuhan hidup bersama istri, dan pasti lebih berat lagi bila masih harus membiayai sekolah dari anak-anak mereka.

Dalam narasi yang tertulis dalam siarkan pers, hari Sabtu, 28 Agustus 2021), di Jakarta, perjuangan untuk kesejahteraan para penilis itu akan dilakukan Denny JA melalui tujuh program unggulan, selama menjabat Ketua Umum untuk periode pertama ini, 2021-2026.

Para penulis yang dia harap dapat kembali ke khittah mengambil peran signfikan dalam mewarnai batin zamannya. Maka itu para penulis perlu berhimpun, menyatukan aspirasi. Karena hanya dengan kebersamaan, eksistensi penulis akan lebih kuat dan lebih mampu mengikuti irama kebijakan publik secara lebih ramah. Karena dengan berhimpun dalam wadah Satupena atau Hatipena, upaya untuk dapat memperjuangkan kesejahteraan penulis melalui tujuh program unggulan itu dia yakini dapat dilakukan dengan mudah. Milui dari
Award yang akan diberikan kepada penilis setiap tahun seperti saat menyambut 17 Agustus, hari kemerdekaan RI, maka Satupena atau Hatipena akan memberi award kepada penulis terbaik dalam bentuk hadiah berupa sertifikat dan uang tunai.

Kecuali itu, lewat perpustakaan dunia Satupena atau Hatipena akan menyediakan ribuan jurnal akademik di JSTOR, dan mrmiliki akses pada srjumlah perpustakaan terbaik dunia. Dan juga, kata Denny JA, ajan segera dijajaki juga library of congres di AS dan Inggris. Tentu saja semua itu bisa juga dengan membuka akses ke perpustakan nasional dan DPR RI.

Sementara itu ada juga usaha Satupena atau Hatipena yang akan bekerja sama dengan usaha print on demand. Lalu tim kurator akan membantu teman teman yang menjadi anggota untuk menerbitkan bukunya hingga ke layout dan ISBN. Hasilnya bisa jual on demand cara bagi hasil dengan porsi 75 persen untuk penulis dan 25 persen untuk organisasi Satupena atau Hatipena

Tim Youtube
Satupena atau Hatipena juga akan membuat akun untuk dua pekan sekali melakukan wawancara dengan penulis yang berprestasi, atau yang baru saja menerbitkan karya tulisnya.

Forum serupa ini, kata Denny JA dimaksudkan untuk memberi inspirasi dan tukar pengalaman sesama penulis. Lantaran sungguh sangat ideal dan selaras dengan khayalan saya yang selalu mrngimpikan ide cemerlang seperti itu dapag diwujudkan dengan penuh pengharapan realisasinya yang nyata. Bukan cuma janji kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yang tidak pernah diwujudkan sampai sekarang. Janji-jandi untuk kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia seperti yang termaktub dalam UUD 1945 yang sudah berkali-kali diemandemen itu dan masih akan diamendemen ulang dalam waktu dekat. Toh, janji untuk anak terlantar dan fakir miskin tidak jelas urusannya. Jadi saya tak pernah bernyali untuk mengkhayalkan nasib pemulis bisa mrmbaik seperti yang diyakini oleh Denny JA. Minimal toh, Denny JA telah berikrar untuk memberi perhatian pada kesejahteraan penulis. Meski sampai tulisan ini dipublish, saya sendiri belum juga pernah dia jawil, meski sekedar pekabaran saja. Namun saya tetap wajib mendukung nawaitu yang baik dan mulia itu. Sebab dikepala saya banyak ide yang bagud dan luhur untuk dapat lebih memuliakan hidup maupun eksistensi penulis di negeri ini. Hanya saja saya tak pernah punya nyali seperti Denny JA yang mengagumkan ini.

Banten, 1 September 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed