oleh

Sengketa Tanah Berujung Maut, Satu Warga di Desa Cunca Wulang Tewas Dianiaya

Pelaku MS (33) tiba di Polres Manggarai Barat sekitar pukul 03.00 Wita di kawal ketat guna menjalani pengembangan kasus, Minggu (4/7). Foto Rikardus Nompa.

LABUAN BAJO- HH (60), Warga Kampung Warsawe Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, tewas mengenaskan setelah dianiaya pelaku MS (33) menggunakan senjata tajam berupa sebilah parang. Sedangkan tempat kejadian peristiwa penganiayaan, berlokasi di persawahan Rentung Desa setempat, Sabtu (3/7/2021) petang sekitar pukul 16.00 Wita.

Informasi yang dihimpun Baranewsaceh.com dari Humas Polres Manggarai Barat pada Minggu (04/07) Malam, korban HH (60) itu, merupakan seorang petani. Mereka (Korban dan Pelaku-red) adalah warga kampung Wersawe, Desa Cunca Wulang.

Korban HH (60) meninggal setelah dianiaya pelaku MS (33) dengan menggunakan senjata tajam (Sajam) dengan sebilah parang. Sedangkan tempat kejadian peristiwa penganiayaan, berlokasi di persawahan Rentung Desa setempat.

Kapolres Manggarai Barat AKBP Bambang Hari Wibowo, S.I.K., M.Si. melalui Kasat Reskrim IPTU Yoga Darma Susanto, S.Tr.K. mengatakan, usai mendapat informasi tersebut, Satuan Reserse Kriminal Polres Manggarai Barat yang terdiri dari Tim Jatanras Komodo dan Tim Inafis langsung turun ke lokasi kejadian.

“Pelaku telah kita amankan beserta barang bukti dan lakukan olah TKP serta memasang garis polisi di lokasi kejadian, untuk korban telah menjalani visum et repertum di RSUD Pratama Komodo Labuan Bajo tadi malam,” ungkapnya. Minggu (04/07/2021) pagi.

Setelah di lakukan olah TKP dan pemeriksaan oleh Dokter dari RSUD Pratama Komodo bahwa korban dinyatakan meninggal dunia akibat terjadinya pendarahan pada luka–luka yang di alami oleh korban.

“Korban mengalami luka pada tangan kanan hingga putus, luka pada tangan kiri hingga putus dan masih menempel pada kulit, luka pada bahu kanan, luka pada tangan dan bahu kiri, luka pada leher bagian kanan, leher bagian kiri dan leher bagian belakang,” terang Kasat Reskrim.

Menurutnya, motif kejadian penganiayaan tersebut diduga persoalan sengketa tanah dan sudah ada dendam antara keduanya, sehingga motif tersebut akan didalami penyidik Polres Manggarai Barat.

“Diduga tindakan penganiayaan itu bermotif masalah sengketa lahan dan ada dendam lama, karena sebelumnya pada tahun 2020 antara pelaku dan korban juga pernah terlibat dalam kasus penganiayaan yang menyebabkan pelaku MS (33) mendapat 11 jahitan di kaki bagian kirinya setelah mendapat tebasan parang dari korban HH (60),” katanya.

Alumnus Akpol Angkatan 2016 itu juga mengungkapkan kronologis kejadian awal menurut pangakuan sementara pelaku kepada Polisi, pada awalnya korban HH (60) berada di kebun miliknya, pada saat korban hendak meninggalkan kebun miliknya, korban bertemu pelaku MS (33) di perjalanan yang mana pelaku hendak menuju ke kebun milik pelaku.

“Karena korban melihat pelaku yang hendak menuju kebun, korban kembali menuju kebun miliknya,” ungkap Kasat.

Pada saat pelaku MS (33) sedang memotong ranting–ranting yang menghalangi jalan menuju kebun milik pelaku, korban HH (60) melampar batu kearah pelaku. Kemudian pelaku menghindar untuk melindungi diri dan saat bersamaan pelaku juga kembali melempar batu kearah korban.

“Saat membersihkan ranting pohon, pelaku melihat korban sedang mengikutinya dari belakang dan melemparkan sebuah batu ke arah pelaku. Setelah itu antara korban dan pelaku saling menyerang dengan menggunakan batu,” ujarnya.

Selanjutnya, korban hendak mengeluarkan parang dari sarungnya yang terikat pada pinggang korban untuk menyerang pelaku MS (33) namun pelaku yang merasa tidak terima atas tindakan korban HH (60) kepada dirinya tersebut, kemudian pelaku langsung menyerang korban duluan dengan sebilah parang miliknya secara berulang kali.

“Yang mana serangan pertama mengenai tangan kanan dan pada saat pelaku hendak melakukan serangan yang kedua korban hendak menangkis serangan pelaku sehingga mengakibatkan pergelangan tangan kanan korban terputus, kemudian pelaku melakukan serangan ketiga dan keempat yang mengenai leher dari korban yang mengakibatkan korban jatuh ke tanah dan pelaku menyerang secara berulang kali hingga korban meninggal dunia,” jelas mantan Kapolsek Lembor itu.

Setelah melihat korban yang sudah tergeletak bersimbah darah, pelaku langsung lari meninggalkan korban di lokasi kejadian dan langsung mendatangi Kantor Desa Cunca Wulang

“Pelaku langsung mengamankan diri di Kantor Desa Cunca Wulang dan melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Desa, kemudian dilanjutkan kepada pihak Polsek Sano Nggoang,” tambahnya.

Sementara itu, guna meredam situasi, Polisi mengimbau keluarga korban agar tidak terprovokasi melakukan aksi balas dendam dan berjanji akan menindak tegas pelaku yang melakukan tindak pidana tersebut.

“Kita sudah memberikan imbauan agar tidak terprovokasi aksi balas dendam dan dari pihak keluarga korban pun sudah menyerahkan kasus ini sepenuhnya ke Polres Manggarai Barat,” tutup IPTU Yoga Darma Susanto, S.Tr.K.

Adapun sejumlah barang bukti yang diamankan dari pelaku antara lain, sebilah parang yang terdapat bekas darah, 2 (dua) buah batu, 1 (satu) buah Mata tombak yang terpisah dari gagangnya, 1 (satu) buah kayu gagang tombak, 1 (satu) buah topi warna biru dan 1 (satu) pasang sandal jepit warna biru.

Atas perbuatannya, pelaku disangkakan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. [RS/RN]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed