oleh

Proyek SPAM Wae Mese II Sumber Kecelakaan Baru di Jalan Nggorang-Ruteng

Kondisi tumpukan material berupa gundukan cadas di tanjakan-menurun di Jalan Trans Nggorang-Ruteng, Minggu (31/1/2022). Foto Rikardus Nompa.

LABUAN BAJO, BARANEWS –Proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Perpipaan Wae Mese II di Jalan Trans Labuan Bajo-Ruteng membuat pengguna jalan harus ekstra hati-hati.

Sebab, terlihat terhenti dan mangkrak sejak 2021, kini menimbulkan masalah dan sangat membahayakan masyarakat khususnya pengguna jalan yang melintasinya.

Di lingkungan Pilipo, Desa Nggorang, Kecamatan Komodo misalnya, proyek pembangunan pipa milik Kementerian PUPR semakin semrawut dengan banyaknya material yang ditumpuk hingga ke badan jalan.

Permasalahan ini timbul akibat adanya tumpukan material untuk pembangunan pipa air minum, entah keteledoran atau unsur kesengajaan yang di biarkan tergeletak menumpuk memakan hampir sepertiga ruas jalan tersebut. Akibatnya membuat kendaraan yang melintas harus exstra hati-hati.

Akibat penyempitan ruas jalan sulit dilalui kendaraan yang melintas secara bersamaan terasa mengganggu serta sangat membahayakan pengguna jalan dan dapat menimbulkan terjadinya kecelakaan.

Seperti yang di keluhkan penguna jalan saat berbagi cerita dengan awak Baranewsaceh.com, Minggu (31/1/2022) dilokasi usai terseret tumpukan material tersebut. Dihimpun Minggu sore, Marten
mengatakan, hampir merenggut nyawa di turunan lingkungan Pilipo Desa Nggorang, Kecamatan Komodo akibat tumpukan material.

Kondisi tumpukan material berupa gundukan cadas di tanjakan-menurun di Jalan Trans Nggorang-Ruteng, Minggu (31/1/2022). Foto Rikardus Nompa.

Marten mengisahkan perjalanan dari arah Ruteng hendak ke Labuan Bajo, ia mengaku sesampainya di menurun dirinya dikagetkan dengan mobil jenis Fuso.

“Saya kan dari arah Ruteng ini Bang, tiba-tiba secara bersamaan saya kaget oleh mobil Fuso begitu. Tepat ditumpukan cadas itu saya kebingungan campur takut, karna disamping tumpukan itu terdapat lubang galian. Terpaksa saya gas terus, dan naik paksa itu tumpukan cadas demi menghindari mobil tersebut, karna mobil itu makan semua badan jalan”, kisahnya dengan nada kesal.

Marten menduga, tumpukan material tersebut sengaja dibiarkan dan terkesan ada unsur kesengajaan dari pihak perusahaan.

“Keberadaan tumpukan cadas itu sudah lama. Itu tumpukan dari tahun kemarin masih saja ada, hemat saya ada kesan pembiaran disni”, jelas Marten.

Bahkan, menurutnya, di lokasi tersebut ada saja kejadian yang menimpa para pengendara saat hendak melintas.

“Lokasi ini rawan kecelakaan Bang, itu dikaranakan medannya. Bayangkan dari arah Ruteng, pelintas ataupun pemilik dikendaraan itu langsung berhadapan dengan tikungan, menurun kembali dibalas tikungan lagi. Begitu juga dari arah Labuan Bajo, langsung berhadapan dengan tikungan lanjut dengan tanjakan dan tikungan lagi. Di daerah ini kita harus hati-hati Bang, kalau ini tetap di biarkan, bisa menelan korban jiwa”, ungkapnya.

Dirinya mendesak berbagai pihak termasuk Polres Manggarai Barat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di lokasi tersebut. “Saya selaku warga Manggarai Barat yang setiap harinya melintasi jalur ini mendesak Satlantas Polres Mabar segera meminta pertanggung jawaban baik dari perusahan maupun dinas tekait”, kata Marten.

Pantauan media ini di lokasi, terdapat tumpukan material berupa gundukan tanah cadas sebanyak 4 Ret. Terlihat gundukan cadas tersebut berserakan hingga ke badan jalan. Terdapat lubang galian yang belum dipadati, dan batu besar sebanyak tiga buah. Tidak ditemukan rambu rambu pengingat para pengendara untuk tetap hati-hati saat melintas.

Dihimpun Baranewsaceh.com, Proyek Kementerian PUPR melalui Direktorat Jendral (Ditjen) Cipta Karya Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Wilayah II yang dikerjakan PT Amarta Karya (Persero) II dengan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Perpipaan Wae Mese II.

Proyek ini menelan anggaran senilai Rp 144,5 M yang dibangun di Desa Watu Ngelek, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kondisi tumpukan material berupa gundukan cadas di tanjakan-menurun di Jalan Trans Nggorang-Ruteng, Minggu (31/1/2022). Foto Rikardus Nompa.

Untuk diketahui, Proyek pembangunan SPAM Wae Mese II dan Jaringan Perpipaannya dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) Tahun 2020-2021 dengan total nilai kontrak sekitar 144,5 M. Proyek tersebut diharapkan akan menyuplai kebutuhan air bersih bagi masyarakat dan hotel-hotel di Kota Labuan Bajo.

Pembangunan tersebut terbagi dalam 2 (dua) paket proyek, yakni 1). Pembangunan SPAM Wae Mese II berkapasitas 2×50 L/DTK, terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan dikerjakan oleh PT. AMKA dengan nilai kontrak sebesar Rp. 95.500.000.000. Nomor kontrak: KU.03.04/PPK.PSPAM-NTT/FSK-APBN/17, tanggal kontrak :27 November 2020. Waktu pelaksanaan: 400 hari kelender, Tahun Anggaran 2020-2021.

2). Pembangunan Jaringan Perpipaan SPAM Wae Mese II, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Sumber dana: APBN 2020-2021. Nilai Kontrak sebesar Rp 49.010.820.000,- Nomor Kontrak : KU.03.04/PPK.PSPAM-NTT/FSK-APBN/12, tertanggal 06 November 2020. Waktu Pelaksanaan 420 hari, waktu pemeliharaan 180 hari.

Kembali dihimpun, Dalam kunjungan kerja Bupati Manggarai Barat (Mabar), Edistasius Endi, mengatakan, Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Wae Mese II, Kota Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar), ditargetkan rampung pada Desember 2021.

Informasi tersebut disampaikan Edi Endi, sapaan akrab Bupati Mabar, saat meninjau pelaksanaan proyek SPAM bersama jajaran PDAM Wae Mbeliling di Jembatan Wae Mese, Desa Watu Nggelek, Manggarai Barat, Rabu (10/3/2021) sore.

“Nantinya kapasitas air SPAM Wae Mese II mencapai 2 X 50 liter/detik dan dipastikan dapat memenuhi kebutuhan air minum bersih Kota Labuan Bajo,” tutunya kepada media.

Menurut Edi Endi, kebutuhan air bersih untuk warga Kota Labuan Bajo wajib terpenuhi. Bahkan, menurutnya, jika pembangunan proyek tersebut rampung, stok airnya bisa mencapai hingga 2040.

Dengan debit air seperti itu mampu menjawab kegelisahan warga Labuan Bajo terhadap krisis air bersih.

Atas terlaksananya proyek tersebut, politikus Nasdem itu menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR yang dijabarkan Direktorat Jendral (Ditjen) Cipta Karya Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Wilayah II dengan PT Amarta Karya (Persero) II.

“Atas nama masyarakat Mabar, saya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada pemerintah pusat, sehingga proyek ini terlaksana dengan baik,” kata mantan Ketua DPRD Mabar tersebut.

Edi Endi menegaskan, berkaitan persoalan teknis dan non teknis di lapangan, itu menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Mabar.

Hingga berita ini diterbitkan beberapa pihak belum berhasil dikonfirmasi. [RN]

Connects once per page in :

Jangan Lewatkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.