oleh

Pilih Kasih Kebijakan: Ibadah Kembali Ditiadakan, Proyek Dipersilakan

 

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd, alumni Pascasarjana Unlam

Peringatan hari raya Idul Adha 2021 sebentar lagi tiba. Namun, dengan alasan mencegah kerumunan di masa pandemi pemerintah melalui Menteri Agama memutuskan meniadakan shalat Idul Adha dan takbiran di wilayah yang memberlakukan PPKM darurat.

Namun anehnya, meski kegiatan peribadatan ditiadakan, pelaksanaan kegiatan konstruksi atau proyek pembangunan dipersilakan 100 persen dengan menerapkan Prokes yang lebih ketat.

Niat baik pemerintah untuk mendisiplinkan rakyat tentu tidak mudah. Di lapangan sering terjadi pelanggaran bahkan menimbulkan masalah baru. Persoalannya peraturan tersebut tidak seiring dengan kebijakan pelonggaran pada sektor lain.

Bagaimana tidak, berhubungan dengan agama pemerintah meniadakan sedangkan berhubungan ekonomi dipersilakan. Tentu akan menghasilkan perasaan pilih kasih yang berbeda bahwa ekonomi lebih penting dibanding peribadatan.

Hal tersebut menyiratkan kondisi karakter kepemimpinan kapitalistik. Penguasa yang berkarakter sekuler tidak akan menjadikan pelaksanaan ibadah publik sebagai prioritas. Meski ibadah tersebut merupakan syi’ar yang harus ditampakkan di tengah masyarakat.

Salah satunya, pelaksanaan ibadah Qurban. Aktivitas seperti takbiran, penyembelihan, dan shalat hari raya merupakan syi’ar Islam yang jika ditiadakan maka akan terhapus syiar Islam. Padahal, syi’ar tersebut wajib ditampakkan karena merupakan eksistensi agama Islam.

Dalam kitab Mausu’ah Al Fiqhiyyah tertulis:
“Wajib hukumnya atas kaum muslim untuk menegakkan syi’ar-syi’ar Islam yang bersifat zahir, dan juga wajib menampakkanya di tengah masyarakat, baik syi’ar itu sendiri sesuatu yang hukumnya wajib maupun yang sunnah”.

Firman Allah Swt:
“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (TQS. Al-Hajj: 32)

Demikianlah akibat kesalahan penanganan pendemi di awal, ibadah yang termasuk syi’ar-syi’ar Islam banyak yang tidak terlaksana. Jelas ini adalah bentuk kegagalan dari penguasa sekuler dalam menghadapi pandemi hingga mengorbankan tidak terlaksananya syi’ar Islam.

Memang dalam kondisi pandemi perlu mengurangi kerumunan dan membatasi mobalitas warga untuk mencegah penularan. Namun sayangnya, kebijakan pengetatan dibarengi dengan pelonggaran di sektor lain.

Satu sisi pintu ibadah ditutup tetapi di sisi lain pintu berwisata di buka. Masyarakat dilarang keluar masuk daerah tetapi warga lain bebas keluar masuk negeri. Padahal, peluang ketidaktaatan Prokes justru terjadi di tempat umum dibanding tempat ibadah yang hanya sebentar pelaksanaannya.

Wajarlah pandemi berkepanjangan bahkan semakin parah dengan muculnya varian baru. Wajar pula kepercayaan masyarakat semakin hilang dan tidak peduli dengan aturan penguasa.

Masyarakat seakan hidup sendiri tanpa kepengurusan penguasa. Kebijakan penguasa pun pilih kasih, perintah dan larangan kepada masyarakat sedangkan untuk penghasil materi bagi mereka (para Kapital) pemerintah seakan manggut-manggut sehingga jalan mereka dipersilakan.

Hal ini sangat berbeda dengan penguasa dalam sistem Islam. Penguasa dalam Islam akan mengurus rakyatnya secara sungguh-sungguh, melindungi rakyat, baik dari ancaman kelaparan, kemiskinan, termasuk penyakit.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Jika pemimpin bertakwa dan amanah, ia akan benar-benar sekuat tenaga mencurahkan segala potensi yang ada untuk menyelesaikan wabah. Dia akan memahami bahwa kepemimpinannya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Swt.

Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dia pimpin.” (HR Bukhari)

Sebagai pemimpin, ia tidak akan main-main dengan urusan nyawa rakyatnya. Ia memahami sabda Rasul saw:
“Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR An-Nasa’i dan At-Tirmidzi)

Demikian penguasa dalam Islam, dia akan peduli dan tidak akan pilih kasih kepada warganya. Penguasa dalam Islam pasti lebih mengutamakan nyawa rakyat. Termasuk mengutamakan keberlangsungan syi’ar Islam agar tetap berlangsung.

Tentunya pandemi dicegah secara cepat dan tepat sehingga hal-hal mudarat dapat dicegah sebelum gawat. Semoga Nasrullah segera datang dengan hadirnya penguasa dan sistem yang benar-benar peduli dengan rakyatnya. Wallahu’alam…

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed