oleh

Pertautan Dua Sahabat Spiritual GMRI Memintal Tali Persaudaraan Yang Sejati : (Banthe Dammasubho Mahathera & Eko Sriyanto Gangendu) (I)

 

Jacob Ereste :

Kenangan indah puluhan tahun bersahabat, sungguh menjadi kenangan tersendiri. Meski tak tersurat seperti akad spiritual yang tidak terucap antara Banthe Dammasubho Mahathera bersama Eko Sriyanto Galgendu di Wisma Sangha Theravada, kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada dua puluh tahun silam itu.

Pertemuan antara sahabat pada 21 September 2021 ini ikut menyibak kenangan lama, seperti kesaksian Mas Wowok Prastowo, katanya ketika Mas Eko Sriyanto Galgendu saat awal sedang memulai usaha di Jakarta. Bantuan Banthe Dammasubho sungguh tidak bisa dilupakan” ungkap Mas Wowok Prastowo memberikan kesaksian yang menemaninya dengan setia kemana-mana. “Bayangkan saja mulai dari sabun mandi dan handuk diberi oleh Banthe Dammadubho”, kata Mas Wowok, Kamis 23 September 2021 saat minum kopi bersama di RM. Ayam Ancur, Juanda No. 4.A Jakarta Pusat.

Penampilan sosok Banthe Dammasubho Mahathera memang super sederhana. Apalagi ditimpali dengan pakaian Bhikku yang khas berwarna kuning bata tua yang menyejukkan hati.

Sesampai di Wisma Sangha Theravada yang apik itu, sikap ramahnya dalam menyambut Tim GMRI seperti tanpa beban. Ia tetap santai seperti pertama kali penulis jumpa dan mengenalnya saat memenuhi undangan pada acara berbuka puasa delapan tahun silam di tempat yang sama.

Acara dialog pun dimulai dengan suguhan teh pakai
gula aren khusus dari Badui. Cara menikmati teh itu pun diterangkan oleh Banthe secara kocak dan jenaka. Hingga sungguh terkesan Banthe ingin sekali menghibur serta menyenangkan hati para tamunya.

“Tamu itu artinya adalah harus ditata dan dijamu”, kata Banthe dalam nada berseloroh, sambil terus mempersilahkan menikmati teh dengan potongan gula merah hasil olahan dari saripati air pohon aren yang nikmat itu.

Hingga paparan spiritualnya pun menukik masuk ke wilayah agama. Setidaknya untuk perihal spiritual dan keagamaan yang acap menimbulkan kegaduhan, dia anggap perlu memberi pesan khusus. “Ya, hendaknya agama jangan pernah dibanding-bandingkan. Meski agama bisa saja untuk disandingkan yang satu dengan yang lain, agar supaya masing-masing pihak dapat saling memahami nilai-nilai kemuliaannya. Hingga dengan begitu kerukunan ummat beragama dapat semakin kondusif. Karena dalam keyakinan Buddhis, sangat percaya jika semua orang menjadi Budhis, dunia pasti akan aman, kata Banthe dalam nada selorohnya yang khas.

“Jadi agama itu tidak bisa dibanding-bandingkan, tapi bisa saja disandkngkan”, tandasnya dalam pesan moralnya yang dianggap penting untuk dipahami oleh banyak orang.

Ikhwal surga pun yang diyakini para Buddhis diakuinya berbeda-beda. Sebab dalam keyakinan para Buddha, surga itu ada 20 great atau kelas. Dan yang tertinggi namanya surga Nirwana, tempat para Bhikku setelah meninggalkan dunia ini nanti, kata Banthe Dammsubho sambil tersenyum. “Sebab kalau surgs untuk saya nanti sama dengan orang kebanyakan yang berbuat dosa, ngapain saya mau begini”, katanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Karena itu dia percaya, surga untuk seorang Bikhu pasti berbeda untuk orang kebanyakan banyak dosanya.

“Ya, tentu saya percaya dengan semua itu. Kalau tidak, ngapain saya mau seperti ini, kalau surga untuk saya sama dengan surga untuk mereka yang banyak dosanya, kata Banthe Dammasubho meyakinkan.

Jadi Nirwana itu adalah surga yang paling sakral dalam agama Buddha, kata Banthe Dammasubho kemudian, seraya merinci great dari 20 klasifikasi dari ragam macam surga dalam keyakinan ajaran Buddha.

Dalam tradisi ajaran Buddha pun ada tata caranya bila hendak menebang sebatang pohon. Waktunya tidak boleh dilakukan pada sembarang waktu. Tapi lain di jaman sekarang ini. Tuhan dalam terminologi sebagian orang sudah digradasi. Apalagi otoritas Tuhan, karena manusia merasa sudah lebih pintar dari Tuhan, maka penebangan pohon dilakukan sesuka hatinya sendiri. Padahal dalam tata krama manusia terhadap alam, menurut Banthe Dammasubho, ada persyaratannya. Persis seperti tuntunan Buddha saat menyembelih hewan, untuk yang makan daging hewan sembelihan itu syaratnya tidak boleh melihat, tidak boleh mendengar suara hewan yang disembelih itu merintih. Dan tidak boleh memesan. Jadi hidangan makanan daging yang dihidangkan itu saja yang boleh dimakan. Tetapi untuk mereka yang vegerarian, sama sekali tidak makan semua jenis daging itu.

Soal type manusia menurut Banthe ada tiga type dalam persepsi Buddha. Yang pertama adalah mereka yang idealis, dinamis dan pluralis. Adapun mereka yang idealis itu cenderung fanatis seoerti orang yang percaya pada bahasa buku, ya jadi kaku. Lalu mereka yang terbilang dinamis adalah orang yang menghamba. Jadi berbeda dengan kaum pluralis, berprinsip tegas tapi tidak keras, kata Bhikku yang relatif fasih dan hafal ayat-ayat Al Qur’anul karim ini. Bahkan dia bisa mengartikan terjemahan surat Al Fatihah secara sempurna.

Banthe Dammasubho pun sempat berkisah pengalaman spiritualnya saat keliling Timur Tengah dan Eropa berkat sponsor dari ummat Buddha di Makassar. Ia pun merasakan pengalaman spiritual itu saat mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan berjumpa langsung dengan Paus di Patikan.

Yang harus selalu diibgat oleh semua orang berafama adalah kebaikan Tuhan. Karena Tuhan sudah sangat memuliakan manusia, maka manusia pun patut memuliakan sesama manusia”.

Jakarta – Bandung,25 September 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed