oleh

Persatuan & Kebersamaan Untuk Pertahanan & Ketahanan Bangsa Indonesia

Jacob Ereste

Demokrasi dalam khazanah budaya kita memang tidak ada. Dalam perbendaharaan bahasa Indonesia pun, istilah demokrasi baru ada setelah dipungut dari bangsa asing. Jadi memang acap terkesan aneh dan janggal.

Dari tradisi dan budaya kita ada yang namamya musyawarah. Semua keputusan penting dibicarakan dalam lingkungan keluarga kecil. Kerabat, paguyunan atau suku bangsa masing-masing untuk merespon atau menanggapi suatu sikap atau masalah yang ada kaitannya dengan suku bangsa lain. Masalah yang ada menjari bahasan bersama untuk dicarikan jalan keluar guna mengatasinya.

Adapun liputan masalah yang dibahas mulai dari soal yang muncul diantara keluarga, kerabat hingga yang ada kaitannya dengan suku bangsa lain itu, bisa saja mengenai masalah hubungan yang terjadi antara orang seorang, atau juga masalah yang lebih luaa karena menyangkut kepentingan orang banyak.

Tradisi mysyawarah dan mufakat sebagai bentuk dari perwujudan cara demokrasi di negeri kita sepatutnya dapat lebih lestari dan langgeng digunakan untuk menyekesaikan berbagai masalah yang muncul, sehingga tidak perlu menggunakam cara lain yang tidak baik untuk kebaikan dari kelangsungan hidup bagi segenap warga bangsa Indonesia yang sudah sepakat bersatu dalam satu kebersamaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga apapun bentuk dan upaya pihak lain untuk memecah-belah Negara Bangsa Imdonesia yang terbingkai dalam pagaman dari pengertian inti Bhineka Tunggal Ika bisa segera ditangkal dan dihindari atau bahkam dicegah, tanpa pernah bisa menggoyah kesatuan dan persatuan bangsa. Karena itu pergesekan antara agama, suku bangsa hingga disparitas antara orang kaya dengan orang miskin harus dapat terus menerus ditekan, bukan saja agar tidak sampai berkembang, tetapi juga tidak boleh tumbuh di negeri tercinta kita ini. Oleh karena itu, ragam macam dan pernik dari demokrasi tidak perlu dipaksakan untuk diterapkan dalam tata budaya masyarakat kita yang telah miliki caranya sendiri untuk mengatasi berbagai masalah dengan cara musyawarah dan mufakat serta bergotong royong bahkan saling memberi dengan cara dan model yang dipahami serta diyakini seperti untuk saling berbagi, bahkann rela bersedekah dengan ikhlas.

Konsepsi dari musyawarah dan mufakat hingga tatanan sistem gotong royong ini sesungguhnya lebih dominan memiliki bobot religius yang bermula dari pemahaman kesadaran bahwa sifat-sifat cinta dan kasih serta energi sayang menyayangi itu merupakan bagian dari cahaya ilahi rabbi yang sangat jelas mencerminkan jati diri segenap warga bangsa Indonesia serius menghayati nilai-nilai keagaman sebagai penuntun hidup untuk lebih beradab.

Nilai-nilai luhur yang sudah padat termuat dalam sila-sila Pancasila harus dan wajib diamalkan agar tidak cuma jadi pemanis bibir belaka, karena patut menjadi cermin pemantul cahaya dari jati diri bangsa yang sejati.

Agaknya, hanya dengan begitu katahanan dan pertahanan bangsa dapat lebih tangguh, berdaulat, mandiri serta berkepribadian yang tangguh menangkis dan melawan tekanan dominasi serta tekanan bangsa asing.

Banten, 28 Juni 2019

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed