oleh

Pengalaman Spiritual Senopati GMRI, Mayjen Purn. AD. Joko Warsito Semasa Bertugas

Jacob Ereste :

Jakarta, 9 September 2021, BARANEWS |  Silaturachmi GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia), Rabu, 8 September 2021 berkenan menyambangi
Mayjen Purn. Joko Warsito, Direktur Kartika Aston Grogol, Jakarta Barat. Cerita panjang pun terurai hingga nostalgia semasa pendidikan di Magelang yang aktif juga ikut menyimak kiprah
seniman di Yogtakarta dan sekitarnya. Hingga sosok Presiden Penyair Molioboro, Umbu Landu Paranggi yang melegenda dalam catatan budaya maupun benak seniman khususnya penyair Indonesia, menjadi bagian dari tajuk bincang besama Senopati Mayor Jendral (Purn) AD Joko Warsito yang ditasbihkan oleh Eko Sriyanto Galgendu, selaku Ketua Umum GMRI dengan posisi Paran Narendra Pati GMRI.

Sosok Jendral kelahiran Pacitan ini terkesan cukup mengagumi Cak Nun (Emha Ainun Najib) yang mbling itu. Setidaknya, dari catatan Cak Nun tentang keunikan Umbu Landu Paranggi saat kasmaran pada seorang wanita pujaan hatinya, memberi kesan tersendiri bagi Joko Warsito hingga menjadi bagian obrolan kami yang asyik pada saat menjelang petang, di Aston Kartika, komplek hotel dan perkantoran yang dilengkapi pertokoan di kawasan elite Grogol, Jakarta Barat.

Sosok Jendral Joko Warsito sungguh tampak lebih muda dari usia umumnya para pensiunan. Kini ia menjabat Direktur Aston Kartika sejak beberapa waktu lalu yang diresmikan oleh Jendral Andika Perkasa setelah peletakan batu pertamanya oleh Mayjen Adi Mulyono.

Selalu Senopai (Paran Nerendra Pati) GMRI, Jendral Joko Warsito pun memberi fisilitas tempat untuk GMRI berkantor di kawasan mewah Jalan Raya Kyai Tapa, Jakarta Barat. Karena Joko Warsito pun berharap GMRI dapat segera mampu berbuat lebih banyak bagi bangsa dan negara Indonesia yang memerlukan gerakan-gerakan besar untuk dapat membangun atas dasar potensi spiritual suku bangsa Indonesia yang sangat luar biasa dakhsatnya.

Pengalaman spiritual Joko Warsito juga nyata dialami langsung saat tsunami besar di Aceh pada 26 Desember 2004. Ketika tsunami terjadi, selaku Komandan Kodim (Komando Daerah Militer) di Aceh, Joko Warsito saat itu sedang hendak menghantar kepulangan pasukan dari Aceh ke Jawa, setelah beberap lama bertugas di Aceh.

Saat peritiwa yang dramatik itu terjadi, katanya sedang berada di dalam kendaraan paling depan dari jejeran konvoi kendaraan menuju pemberangkan pasukan yang hendak pulang itu. “Saat itu saya melihat keajaiban air bah setinggi gunung di hadapan kami. Maka, seketika itu sopir kendaraan yang saya tumpsngi langsung berbalik arah untuk krmudian masuk ke perkampungan penduduk”, tutur Jendral Joko Warsito.

Saat itu pula dia memerintahkan pada semua pasukan yang berada di atas kendaraan untuk memberi bantuan dan penyelamatan kepada warga setempat seraya meminta kepada seluruh warga yang masih kuat untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan aman letaknya.

Dalam suasana seperti itu dia melihat banyak sekali uang yang bertebaran. Dia sendiri pun terheran, setelah lama berselang dan merenungkan peristiwa itu, ternyats ada kekuatan tertentu sehingga ia tidak merasa sedikit pun tergoda oleh tumpukan uang yang dia perkirakan berasal dari Bank yang ikut dilantak oleh tsunami. Bahkan saat sibuk memberikan pertolongan langsung secara fisik dilapangan, Joko Warsito tidak sempat teringat pada anak dan istrinya di rumah. Karenanya, saat pulang ia melihat rumahnya dalam keadaan kosong. Anak dan istrinya tercinta sudah ikut mengungsi bersama warga masyarakat setempat ke tempat yang aman.

Mayjen (Purn) TNI AD Joko Warsito, sungguh memiliki pengalaman spiritual yang unik, banyak bermuatan keajaiban. Utamanya, selama menunaikan tugas hingga pensiun dan kini menjadi Ketua Yayasan alumni Akabri — Gema 86 — sampai sekarang yayasan itu telah memiliki gedung perkantoran di kawasan Sumur Batu Jakarta Timur.

Di sepenjang koridor hotel Aston Kartika Grogol yang super mewah dan super jumbo ini, sedang berlangsung pasar murah serta pameran karya seni lukis hasil karya anak bangsa seperti kerajinan rakyat serta karya sejumlah seniman Indonesia yang kondang.

Menurut Eko Sriyanto Galgendu, inilah bentuk nyata kepedulian dari sosok teladan purnawirawan perwira tinggi yang patut dicontoh, karena selalu ingin berada di tengah warga masyarakat. Dan GMRI pun bangga memiliki Senopati seperti Jendral Jolo Warsito, kata Ketua Umum GMRI dangan ekspresi senyumannya yang bungah.

Pengalaman spiritual Joko Warsita selaku Senopati GMRI juga terjadi saat bertugas di Makassar. Uniknya saat memenuhi undangan dari seorang tokoh di Bulukumba, dia merasa adanya kekuatan ghaib itu sungguh nyata. Sebab dari sahibul hajat yang mengundangnya ketika itu di Bulukumba, ia dapat merasakan betapa ampuhnya sosok seorang nelayan yang buta hutuf itu sangat piawai mencari ikan di laut. Sehingga semua kapal miliknya, selalu dapat membawa pulangikan hasil tangkapannya dalam jumlah yang berlimpah. Dan misterinya, dapat semakin membuat bingung, seperti saat menikmati sajian makanan yang terdiri dari beragam macam lauk pauk yang serba ikan itu. Menurut Jendral Joko Warsito, rasa dari ikan yang dia santap menjadi sangat berbeda rasanya. Tapi toh, nelayan yang buta huruf itu sudah membuktikan dirinya mampu menjadi orang terkaya di Bulukumba.

“Pendeknta, semua kapal untuk menangkap ikan miliknya sangat banyak memperoleh ikan Hasil tangkapan ikan yang didapat oleh semua kapal miliknya itu, selalu melimpah” kata Senopati GMRI ini terkagum-kagum.

 

Connects once per page in :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed