oleh

Menyoal Kemelut Vaksin Covid-19 Berbayar

Oleh : Siti Jubaidah

Keputusan pemerintah untuk menerapkan program berbayar vaksin covid-19 telah tertuang dalam Permenkes No.19/2021 sebagai perubahan no.10/2021. Penjualan vaksin gotong royong (VGR) melalui perusahaan BUMN PT Bio farma dan PT Kimia Farma Tbk, dengan merek sinopharm. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan tarif vaksin Covid-19 individu melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/4643/2021 tentang Penetapan Besaran Harga Pembelian Vaksin Produksi Sinopharm yang bisa dibeli di sejumlah gerai Kimia Farma dengan harga pembelian Rp 321.600 per dosis dan tarif maksimal pelayanan Rp 117.910.
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menegaskan, program vaksinasi gotong royong untuk individu ini dibuka demi memperluas cakupan vaksinasi. Sasaran utamanya, ujar Nadia, adalah warga negara asing (WNA) di Indonesia. “Untuk memperluas vaksinasi, terutama untuk WNA ya. Tapi warga Indonesia juga boleh membeli,” kata Nadia. (Republika.co.id 11/7/21)

Keputusan inipun banyak yang mengkritik dan pada akhirnya melalui sekretaris Kabinet Pramono Agung “presiden Jokowi Vaksin berbayar ini dibatalkan dan dicabut.
Wacana vaksin berbayar sudah bergulir di tahun 2020 dan muncul Kembali di tahun 2021 dan banyaknya kritikan serta respon dari masyarakat akhirnya dibatalkan dan dicabut, tetapi Pramono mengatakan vaksinasi Gotong Royong tetap digelar lewat mekanisme perusahaan, di mana perusahaan yang akan menanggung biaya vaksinasi bagi seluruh karyawannya.(Cnnindonesia.com (17/7/21)

Menyoal kemelut vaksin berbayar ini bukan permasalahan banyaknya kritik dari masyarakat tetapi yang diperhatikan bagaimana menyikapi kebijakan yang sudah ditetapkan dan tidak menjadi keresahan di masyarakat. Vaksinasi merupakan salah satu program kebijakan pemerintah yang menjadi daya tawar terhadap negara produsen vaksin dan pemerataannya dan dengan kenyataan ini, jangan menjadi alasan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena covid-19, akan mencapai kekebalan kelompok (herd immunity). Negara menjadikan corong kapitalis untuk mencari keuntungan dari masyarakat dengan alasan-alasan ini. Penanganan covid -19 masih sangat minim, banyaknya berita-berita kematian akibat melawan serangan virus ini, layanan rumah sakit yang tidak mampu menampung pasien covid, langkanya oksigen dan ventilatornya dan masih banyak persoalan-persoalan lainnya.

Solusi dalam menangani wabah harusnya tidak menjadikan negara sebagai regulator dalam melancarkan bisnis kapitalis, karena wabah penyakit pernah ada dari zaman ke zaman, yang merupakan keputusan (qadha) Allah SWT. Dalam paradigma Islam Ketika menghadapi wabah dengan salah satu cara ri’ayah (mengurusi dan mengayomi rakyat). Dalam islam kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Rosulullah saw bersabda “setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dia pimpin” (HR Al-Bukhori).
Dalam islampun pemimpin harus benar-benar berupaya sekuat tenaga dan berikhtiyar dalam menyelesaikan wabah dan wajib menjaga nyawa manusia karena islam mengajarkan bahwa nyawa manusia harus dinomorsatukan. Rosulullah saw bersabda “ hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa haq “(HR An-nasa’i dan at-Tirmidzi). Dalam hal ini nyawa manusia harus diutamakan, melebihi hal ekonomi, pariwisata dan lainnya.
Kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus disediakan oleh negara secara gratis, tidak tebang pilih, ataupun tarik ulur kebijakan, sehingga rakyat sehat dan dapat berkarya secara maksimal dan beribadah secara total. Solusi secara syari’ah dapat menangani wabah dan bernilai ibadah. Jika ajaran islam benar-benar diamalkan, InsyaAllah dalam waktu singkat wabah akan segera berakhir. Baik masyarakat dan para pemimpinnya juga mendapat pahal karena kesabaran dan ikhtiar mereka berdasarkan Islam. Wallahu’alam bisawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed