oleh

Menyikapi Praktik Asosial, Mengumandangkan Persahabatan


Oleh: Raymundus Tanu

Hidup bersama dengan yang lain sudah merupakan sebuah keharusan yang mutlak perlu bagi setiap individu manusia yang menyandang hakikatnya sebagai ens sociale. Menjalin hidup bersama dengan yang lain adalah bentuk perealisasian kondisi dan situasi kodrati manusia sebagai pribadi yang selalu mengada bersama dengan yang lain. Dinamika hidup individu manusia selalu dikonsepkan dalam paradigma bersama dengan yang lain. Kehadiran yang lain menjadi pelengkap cerita hidup mengadanya manusia dalam realitas keduniawian. Sebab tak dapat disangkal bahwa manusia hanya dapat menjadi manusia melalui manusia yang lain. Tetapi segala konseptual tersebut menjadi nihil, tak bermakna, tatkala direfleksikan dengan kenyataan hidup manusia akhir-akhir ini. Kebersamaan sekarang ini adalah kebersamaan yang berintensikan persaingan: kedudukan, popularitas, dan individualistik-egoistik. Sesama manusia tidak dilihat sebagai pribadi yang hadir bersama-sama untuk saling melengkapi. Tetapi keberadaan sesama direduksi maknanya menjadi objek yang siap diperangi, diperdayakan. Hal-hal tersebut menyata dalam praktik hidup manusia dewasa ini, semisal intoleransi, rasisme, radikalisme, peperangan, pembunuhan, dan aksi terorisme. Mirisnya lagi bahwa segala bentuk tindakan asosial tersebut masih terus terjadi sekalipun pandemi covid-19 terus menguak dan menyebar. Rasa kepedulian dan solidaritas terhadap mereka yang terkontaminasi covid-19 pun justru dipolitisasi untuk kepentingan pribadi.

Terhadap kenyataan hidup seperti itu, penulis mencoba untuk menawarkan suatu jalan keluar dengan mengajak para pembaca untuk lebih dalam memaknai hidup bersama, dengan tesis dasarnya adalah sesama manusia merupakan saudara dan sahabat. Anggapan bahwa yang lain sebagai sahabat dan saudara sudah merupakan tuntutan mutlak dari beradanya manusia. Sebab dalam dan melalui dinamika persabahatan, tindakan atau relasi ke-salingan dapat terjadi secara riil. Pengakuan akan eksistensi yang lain mengharuskan setiap individu untuk menciptakan relasi ‘saling’ yang urgen dalam tuntutan ranah persabahatan. Senada dengan ini, konsep persahabatan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Aristoteles, dimaknai sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari eksistensi dan kehidupan manusia. Persahabatan merupakan strategi hidup dalam kebersamaan dengan yang lain. 

Urgensitas Dinamika Persahabatan

Pertama-tama perlu diketahui tentang konsep filosofis persahabatan. Oleh sebab itu, terhadap ini penulis bercermin pada gagasan filosofis dari Aristoteles dalam konsep etikanya, bahwa persahabatan yang autentik dan sempurna (teleia) adalah persahabatan yang terarah kepada semua kebaikan (he tòn agathòn), yaitu ketika semua menghendaki perwujudan segala bentuk kebaikan secara konkret dalam seluruh relasi persahabatannya, termasuk dalam mengusahakan hal-hal yang berguna dan yang menyenangkan bagi sahabatnya. Persahabatan merupakan hal yang sangat penting sebab sahabat dapat memberikan sesuatu yang sangat berguna, yang membuat hidup layak dihidupi atau membantu individu untuk membangun moral yang lebih baik. Inilah alasan mengapa tidak seorang pun memiliki bentuk hidup tanpa teman. Persahabatan demikian merupakan suatu bentuk keutamaan.  Lebih dari itu persahabatan merupakan satu dari kebutuhan pokok hidup manusia. Lebih lanjut, persahabatan juga diartikan sebagai kesalingan cinta (mutual love) yang bersumber dari sifat. Dengan kata lain, persahabatan diartikan sebagai hubungan dua orang yang memiliki afeksi satu terhadap yang lain dan saling mengakui afeksi masing-masing itu. Sehingga suatu sahabat merupakan satu jiwa dalam dua orang.

Dinamika persahabatan pada umumnya diklasifikasi dalam tiga bentuk menurut kajian etika Aristoteles, yakni persahabatan demi suatu kegunaan (le utile), persahabatan demi suatu kesenangan atau kenikmatan (le agréable), dan persahabatan demi suatu kebaikan (le bon). Jalinan persahabatan yang sejati adalah untuk suatu telos yang mulia yakni kebaikan (le bon). Kebaikan sebagai kebajikan ontologis menjadi kunci utama dari adanya relasi persahabatan. Kebaikan menjadi tanda dan harapan ‘yang belum’, tetapi ‘dalam proses’ mewujud pada relasi persahabatan. Dan untuk terealisasi ritme persahabatan model ‘le bon’, dituntut keutamaan cinta sebagai landasan dasar yang fundamen. Artinya, relasi ‘saling’ dalam persahabatan harus berbasiskan cinta, sebab hanya cintalah yang memungkinkan tercapainya tujuan dari adanya persahabatan itu.

Merangkul: Jalan Transformasi Diri

Perwujudan makna cinta yang otentik dalam persahabatan adalah melalui tindakan saling merangkul. Hal ini sebenarnya pula telah ditegaskan oleh seorang Teolog Kontemporer dari Kroasia, Miroslav Volf. Dalam bukunya, Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness and Reconciliation, Volf menawarkan salah satu kiat yang perlu ditumbuhkembangkan dalam relasi persahabatan, yakni dinamika merangkul. Ia memaknai relasi ‘saling’ antar manusia dengan menafsirkan tindakan saling merangkul. Ia sendiri menggunakan istilah ‘fenomena merangkul’ (phenomenology of embrace). Tetapi, penulis di sini memilih untuk menggunakan istilah filosofi merangkul (philosophy of embrace). Hal ini dikarenakan bahwa sekalipun sebagai seorang Teolog, gagasan Miroslav Volf ini sangat filosofis-praktis. Ia menekankan bahwa dalam membangun komunitas sosial yang bersahabat setiap individu harus sampai pada titik ‘saling’ merangkul’. Dalam dan melalui ke-salingan dalam ‘merangkul’, makna cinta menjadi aktual.

Tindakan merangkul adalah sebuah bahasa tubuh yang mengekspresikan kesanggupan seseorang untuk keluar dari penjara egoismenya dan menjumpai-menerima yang lain sebagai sahabat. Sebagaimana diketahui secara general terkait habitus merangkul ini, bahwa dalam merangkul ada tindakan untuk melingkarkan lengan pada pundak (tubuh, pinggang, dan sebagainya) atau adalah tindakan memepetkan badan pada badan dan sebagainya dari yang lain sambil melingkarkan kedua lengan. Dalam relasi saling merangkul ini, kedua individu secara personal saling menerima-melengkapi kekurangan dan kelebihan. Keduanya saling belajar terbuka dan membuka ruang agar dapat menyambut satu sama lain. Namun, tindakan rangkulan ini tidak mengingkari adanya kebebasan dan otonomi individu. Justru tindakan merangkul seyogianya mengungkapkan pula kesetaraan dengan menjadikan sesamanya tetap bebas, merdeka, dan tuan bagi dirinya sendiri. Tanpa mereduksi kebebasan dan otonomi pribadi, kedua individu yang ada dalam dinamika merangkul justru sedang dalam tahap tranformasi diri. Artinya bahwa kehadiran yang lain dalam dan melalui epifani wajah dan rangkulannya dalam dinamika persahabatan harus dimaknai sebagai momen untuk transformasi diri.

Terciptanya dinamika rangkulan dalam persahabatan menghantar setiap individu pada kesempatan untuk transformasi diri. Analoginya demikian: bahwasannya kehadiran yang lain sebagai sahabat datang mengetuk dunia kehidupanku, saya menerimanya sebagai kesempatan untuk membangun persahabatan dengannya. Membangun persahabatan dengan yang lain selalu berarti membangun relasi etis. Relasi etis yang tampak dalam bentuk solidaritas dan tanggung jawab terhadap yang lain adalah kesempatan transformasi diri, yakni dari aku yang egoistik menjadi aku yang solider, dari aku yang totaliter menjadi aku yang lebih bersahabat, dan dari aku yang tertutup menjadi aku yang lebih terbuka. Dalam relasi dengan yang lain sebagai sahabat, saya berubah. Saya menerima diri sebagai bagian dari yang lain dan dengan itu seluruh eksistensi saya diperbaharui. Pada titik ini, putusannya demikian bahwa jalan persahabatan adalah kesempatan bagi dua individu untuk membaharui diri, menjadi lebih baik. Sebab dalam persahabatan kedua individu menyatakan keterbukaannya untuk saling menerima-melengkapi, saling belajar. Kenyataan bahwa kedua individu itu bersahabat dengan berbasiskan cinta adalah melalui dinamika saling ‘merangkul’.

Dengan demikian, sudah sepatutnya realitas saling merangkul itu kita realisasikan dalam kebersamaan hidup dengan sesama kita. Tindakan saling merangkul dapat menghantar setiap orang untuk keluar dari penjara egoisme dan individualimenya. Dengan rangkulan sebenarnya membawa setiap kita untuk menciptakan zona hidup yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan. Rangkullah sesamamu sebagai saudara.

Editor : Enos Tanu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed