oleh

Postingan Foto Bupati Dula Sebut Angka Kamatian Babi Tinggi, Itu Hoax

 

Tangkapan Layar Postingan Akun atas nama Maria Dite di Grup Facebook Demokrasi Mabar New, Rabu (11/11/2020).

LABUAN BAJO- Postingan pedas yang beredar di media sosial mengecam kasus kematian babi di Kabupaten Manggarai Barat menuai kontroversi. Tak hanya itu kecaman pun datang dari para netizen pengguna media sosial Facebook. Mereka menganggap bahwa, kematian ribuan ekor babi tersebut adalah kegagalan dari Wakil Bupati Maria Geong, pada Rabu (11/11) Petang.

Awal mula postingan itu berasal dari akun Facebook atas nama Radhus Gagung yang termuat di beranda Facebook nya. Demikian isi tulisan itu” Sedihnya tu di masyarakat”.

Dalam postingan akun Facebook Radhus Gagung termuat foto Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch Dula dengan narasi yang bertuliskan “1800 babi mati tidak main-main. Saya juga kaget, terlebih lagi wakil saya seorang Dokter Hewan amat sangat disayangkan”.

Melihat postingan tersebut, awak Media Baranewsaceh.co mencoba mengkonfirmasi yang bersangkutan dengan maksud meminta keterangan lebih lanjut, dan Radhus Gagung menjawab “Nana ke pak Bupati sekarang..Pintu terbuka di Rujab Untuk Nana”.demikian isi komentar pemilik akun itu.

Tangkapan Layar Postingan Akun pribadi atas nama Radhus Gagung , Rabu (11/11/2020).

Terlihat akun Facebook atas nama Radhus Gagung aktif mengkampanyekan paket Edi-Weng dalam unggahan berandanya.

Selain Radhus Gagung, hal serupa ditemukan di laman grup DEMOKRASI MABAR NEW, akun bernama Maria Dite menulis “Bapak katakan saja: “Mia, cukup sdh menipu masyarakat dengan gelar dokter phd bohongan itu” ,Kami masyarakat akan sangat gembira. Hehehe ayoo pak”.

Akun Facebook atas nama Maria Dite yang dianggap akun palsu oleh ribuan pengguna media sosial di Mabar, kerap menyerang pribadi calon bupati Manggarai Barat, drh. Maria Geong, Ph.D, dalam hal ini paslon Maria-Sil (MISI) Nomor Urut 2.

Banyak netizen beranggapan, bahwa postingan pertama ditemukan yakni akun bernama Radhus Gagung dan Maria Dite tidak pantas menyebar luas informasi yang tidak jelas kepastiannya, apalagi kedua sosok nama yang dibahas merupakan pemimpin di Kabupaten Manggarai Barat saat ini. Komentar netizen pun terus berdatangan tanpa henti menghujat postingan Radhus Gagung dan Maria Dite.

Untuk menelusuri kebenaran tulisan yang sudah mencatut nama Bupati Manggarai Barat itu, Baranewsaceh.co mencoba menghubungi Bupati Agustinus Ch Dula.

Berikut tanggapan Bupati Manggarai Barat atas postingan foto hoax yang beredar luas di media sosial itu.

“Buta mata dan hati yang tulis ini. Jangan kau tidak tulis”, kata Bupati Dula.

“Termasuk orang yang desain itu buta sempula”, katanya lagi.

Demikian Bupati Dula menjelaskan, dirinya mengaku kaget dengan kejadian kematian ratusan ekor babi di Kabupaten Manggarai Barat, akhir-akhir ini.

“Saya kaget karena terlalu banyak babi itu”, tulis Bupati Dula melalui pesan WhatsApp nya.

Bahkan Kadis Peternakan bersama para dokter hewan sudah berjuang luar biasa terhadap babi yang tertular penyakit demam Afrika.

Ditanya soal pernyataan dirinya seperti yang ditulis pada akun Facebook Radhus Gagung dan Maria Dite, Bupati Dula membantah dengan keras

“Tidak akan, ibu Wabub dan saya itu sangat rasional. Jangan buat kontaminasi berlebihan”,tutup Bupati Mabar dua periode itu.

Dikonfirmasi secara terpisah Kepala Dinas (Kadis) Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Manggarai Barat, drh. Theresia P. Asmon, pukul 20. 46 wita Rabu (11/11) malam.

Ney Asmon, sapaan drh. Theresia P. Asmon, menjelaskan, angka maupun penyataan yang termuat dalam fotografis yang beredar luas itu tidak benar.

Saya tidak tau itu pernyataan siapa dan dimana. Setahu saya saat pembahasan di kantor DPRD tidak ada pernyataan seperti itu. Sama sekali tidak ada, kata Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan saat dikonfirmasi Media Baranewsaceh.co, melalui sambungan telepon selular.

Setahu saya saat pembahasan di DPR kemarin itu, Bupati malah mendukung untuk apapun upaya dari dinas peternakan guna penanganan yang dilakukan. Dan tidak ada pernyataan seperti itu dari bupati, beber Ney.

“Total keseluruhan kasus yang menimpa ternak babi tidak sebesar itu”, tegasnya.

Demikian lanjut Kadis Keswan Mabar, 1800 ekor itu, bukan angka yang disampaikan dinas peternakan, melainkan angka yang disampaikan pak DPR, kata Ney lagi, Saat persidangan itu saya hadir dan menanggapi, guna memberi penjelasan dihadapan bupati dan DPRD saat itu.

“Data 1800 itu diperoleh salah satu anggota DPRD yang berasal dari Kades Daleng saat dikonfirmasi.

Tadi kita datangi kades Daleng yang mensupport data guna mejelaskan angka tersebut dan melihat langsung beberapa peternak, ungkap drh. Theresia P. Asmon.

Pengakuan kades Daleng katanya, dia hanya minta masyarakat lapor babi yang mati dan data tanpa identifikasi secara teknik.

“Kematian babi itu banyak penyebabnya, karena kita tidak tau apa betul-betul karena wabah atau apa, karna ada kriterianya. Kita harus mendata semua, misalnya baik babi yang baru lahir, semua jenis usia didata dan jenis kelamin. Sehingga data tidak sebesar itu”, lanjut Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Manggarai Barat.

Selama ini kami selalu berkoordinasi dengan bupati Manggarai Barat terkait tindakan pencegahan. Hal yang sama, selama ibu Maria Geong menjabat sebelum wabah ASF ini terjadi di Flores, ibu Maria selalu memberi edukasi kepada kami terkait antisipasi penularan flu babi.

Menurutnya, kematian terbanyak di kecamatan Lembor terjadi di kelurahan Tangge. karena ada beberapa peternak yang memiliki populasi babi sangat banyak.

Untuk diketahui, berdasarkan laporan dan investigasi petugas Keswan di wilayah itu baru terdapat 506 ekor babi yang mati. Dengan rincian penyebaran berasal dari 7 Desa, diantaranya desa Pong Majok, Daleng, Liang Sola, Ngancar, Tangge, Persawahan wae Bangka dan Poco Rutang.

“Sample negatif itu dari desa Liang Sola. Yang lainnya positif ASF dari hasil uji Lab dari sample yang kami kirim hari Rabu lalu. Desa Poco Rutang juga Samplenya Negatif”, tukas Ney Asmon.

Hingga diturunkan berita ini, Calon Bupati Manggarai Barat periode 2020-2025, drh. Maria Geong, Ph.D belum dapat dikonfirmasi. (Rikardus Nompa)

Connects once per page in :

Jangan Lewatkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.