oleh

Kembali Pada Kejayaan Bangsa Nusantara (2)

Gagasan untuk kembali pada kejayaan bangsa Nusantara secara institusional baik sekali jika dimulai merevitalisasi TNI Angkatan Laut kita dengan cara membangun pasukan marinir yang tangguh dan handal serta cukup untuk menguasai seluruh perairan laut dan sungai di Indonesia termasuk mengamankan seluruh bandar pelabuhan laut yang ada. Begitu juga keamanan di laut lepas, sehingga tidak lagi boleh ada kapal asing — apalagi hanya sekedar kapal nelayan dari negara tetangga yang mencuri ikan — tidak boleh lagi terjadi sehingga Kementerian Kelautan yang harus langsung menenggelamkannya.

Sebagai negara yang memiliki pantai terbilang panjang di dunia dan lautan yang lebih dominan dari luas daratan, jadi terkesan naib bagi Indonesia tidak memiliki Angkatan Laut yang kuat dan menjadi andalan. Inilah salah satu dari fenomena salah dari orientasi kebijakan pilihan pembangunan di Indonesia. Sebab cetatan sejarah masa silam dari negeri suku bangsa Nusantara sungguh pernah menjadi penguasa laut yang sangguh tangguh. Minimal sejarah mencatat keperkasaan Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya misalnya, serta ketangguhan Panglima Wanita Malahayati lebih dari cukup untuk menjadi petunjuk yang paling bijak untuk memulai kejayaan suku bangsa Nusantara yang justru harus lebih kuat menjadi penguasa laut yang mumpuni dan handal dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun realitasnya yang terjadi justru sebaliknya.

Agaknya, untuk kembali pada masa kejayaan negeri suku bangsa Nusantara, motto utamanta adalah kembali ke laut. Bantak kekayaan laut Indonesia yang belum dimaksimalkan pemanfaatannya.

Sementara di atas bumi Indobesia, kita dapat kembali mengolah, membudi-dayakan semua yang ada di kulit bumi dan didasar bumi Ibu Pertiwi ini. Sejarah masa lalu juga mencarat, bangsa asing yang berdatangan ke Nusantara ini karena kasmaran pada hasil bumi petani kita yang melimpah ryah dan bermutu baik. Namun mengapa sekarang justru di impor dari negeri asing ?

Ragam hasil rempah-rempah dari negeri kita dahulu seperti kisah dari negeri dongeng. Begitu juga dengan ragam macam pakawija hingga garam dan kopra, seperti bersaing banyak hasilnya yang melimpah seperti kopi dan lada hingga cengkih serta buah pala dan gula maupun tembakau serta getah karet. Lalu dimana semua kebun petani dan tradisi serta budaya kaum petani kita itu sejarang ?

Setiap daerah atau begeri ideal sekali bisa tampil dengan komoditas hasil pertanian yang menjadi unggulan masing-masing. Sehingga bahan pangan termasuk bahan bangunan infrastruktur tidak lagi di impor dari negeri orang. Setiap negeri di Nusantara patut didukung untuk oleh semua pihak — utamanya pemerintah — agar dapat segera menghasilkan produk unggulan bahan pangan dan bahan bangunan untuk memenuhi keperluan kita sendiri di dalam negeri. Hingga pada babak berikutnya segera dapat menjadi unggulan impor yang mampu bersaing di pasar internasional.

Agaknya, hanya dengan strategi serupa itu, basis pertahanan dan ketahanan negara kita dalam arti luas dapat terjamin. Mandiri, berdaulat dan berkepribadian tangguh serta unggul dalam persaingan atau berperang secara asimetris yang tengah melantak kita dari segenap penjuru, bahkan dari dalam negeri kita sendiri sekarang ini.

Karena itu, Gerakan Kembali Ke Nusantara (GKKN) seperti gsgasan mantan Kadispenal TNI AL, Laksamana Muda Untung Suropati harus berbasis budaya sungguh tepat dan mendapat sambutan dari semua pihak, utamanya TNI AL sendiri yang mempunyai posisi paling strategis dibanding instansi yang ada dalam jajaran penerintah.

Sebab bukan cuma ikan di laut kita yang menjadi incaran para pencuri dari negara asing, tetapi juga pasir laut kita sudah jutaan ribu kubik yang mereka keruk di sekitar Kepulauan Riau (Kepri) sejak berapa tahun silam. Dan kini bibir pantai mereka pun sudah semakin melebar. Sekarang batas laut Singapura dengan negara kita, realitasnya semakin menyempit. Artinya, wilayah laut kita sudah mereka geser memasuki wilayah laut kita. Kecuali itu yang tidak kalah pasti, dampak dari kerusakan biota laut kita semakin parah.

Realitas yang terjadi sekarang, begitulah kondisi nyata dari alam budaya serta lingkungan hidup kita terus terdesak dan didesak mundur dan hancur seperti cagar alam dan cagar budaya yang tidak berbekas. Dan anak cucu kita kelak, bukan saja tidak dapat meniliknya menjadi pelajaran yang menarik, tapi sekedar untuk bisa menyaksikan pun nanti mungkin hanya dalam angan belaka.

Bekasi, 7 Juli 2019

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed