oleh

Kasus Kematian Meningkat Saat Isoman, Negara Mempertontonkan Kegagalan

 

Oleh : Fani Ratu Rahmani  (Aktivis dakwah dan Pendidik)

Jutaan penduduk di tanah air telah menunjukkan positif mengidap covid-19. Bukan hanya itu, pandemi ini telah menelan banyak nyawa. Kasus kematian meningkat setiap harinya. Dari Covid.go.id, Jumlah kasus kematian akibat Covid-19 rekor lagi, mencapai 1.566 jiwa meninggal dunia, angka ini meningkat dibanding kasus kematian Covid-19 di hari sebelumnya, Kamis (22/7) sebanyak 1.449 jiwa. Miris !

Yang lebih membuat hati teriris adalah munculnya ‘tren’ meninggal pengidap virus Corona yang terjadi saat isolasi mandiri (isoman). LaporCovid-19 melaporkan, ada 675 orang yang menjalani isolasi mandiri karena virus Corona dinyatakan meninggal dunia per Juni lalu. Beberapa di antaranya karena mengalami penolakan dari rumah sakit.

Tak cukup hanya itu, pasukan yang berada di garda terdepan yakni Tenaga Kesehatan (Nakes) pun harus menelan pil pahit dengan kabar meninggal yang terus bertambah. Ada 206 tenaga kesehatan yang turut gugur saat menangani pasien yang terpapar virus Corona. Ini disampaikan langsung oleh Koordinator LaporCovid-19, Irma Hidayana, dalam konferensi pers virtual, Minggu (18/7/2021).

Kejadian demi kejadian ini sungguh membuat kondisi semakin runyam dan menambah kekhawatiran di tengah masyarakat. Hari demi hari kondisi semakin buruk meski kebijakan dengan beragam istilah telah diberlakukan pemerintah. Namun, kasus yang terinfeksi makin meninggi seiring dengan kasus kematian. Apakah ini bukti bahwa solusi dan kinerja pemerintah tidak bisa diandalkan?

Sudah seharusnya kita menyadari bahwa pemerintah kini berada di ujung tanduk. Sejatinya, solusi telah dijalankan namun justru berbuah kegagalan. Ya, kegagalan itu melekat erat pada pemerintah. Rapor merah dalam beberapa aspek turut ditampilkan di antaranya :

Pertama, pemerintah terbukti gagal menyiapkan rakyat menghadapi covid-19. Sebenarnya bukan tak bisa, tapi kegagapan pun terlihat dari kinerja pemerintah. Inilah sebuah konsekuensi logis atas sikap remeh-temeh yang ditunjukkan di awal kemunculan wabah ini. Berlagak jumawa, seolah negeri ini tidak akan terjangkiti.

Sehingga, adalah wajar sikap rakyat pun terpolarisasi. Ada rakyat yang tidak percaya wabah ini dengan dalih konspirasi. Kemudian, ada rakyat yang penuh kekhawatiran terjangkiti. Dan ada juga rakyat yang dilema sebagai akibat wabah yang menyerang membuat ekonomi keluarga terancam.

Kedua, perekonomian yang anjlok. Berdalih perbaikan ekonomi sehingga menolak solusi lockdown atau karantina wilayah ternyata tidak bisa memulihkan keadaan ekonomi negeri. Tetap saja ekonomi ‘tekor’ bukan ‘meroket’. Ya, bagaimana mungkin ekonomi bisa diperbaiki apabila ternyata kesalahannya terletak pada perkara fundamental sistem negara ini?

Ketiga, Sebagai buah sistem ekonomi yang cacat, pemerintah juga gagal dalam hal memfasilitasi masyarakat dengan mutu yang baik di tengah pandemi. Ini bisa terlihat dari ambruknya fasilitas kesehatan yang ada mulai dari daya tampung rumah sakit, jumlah nakes yang sedikit, sarana dan prasarana yang kurang memadai, misalnya ketersediaan oksigen dan peralatan lainnya. Ini tidak bisa diingkari karena wabah semakin membludak, sedangkan faskes tetap gagap. Dan pemerintah tidak cepat tanggap.

Apa buah dari gagalnya pemerintah menyiapkan faskes yang baik untuk masyarakat? Ya, masyarakat jadi harus memilih isolasi mandiri tanpa pemahaman dan perangkat yang memadai. Tidak ada edukasi yang baik dan jelas untuk masyarakat saat isolasi mandiri. Kemudian, apabila kondisi semakin drop atau buruk pun, tidak ada tabung gas atau obat-obatan yang mendukung.

Negara sepertinya menunjukkan berlepas tangannya terhadap urusan masyarakat. Padahal, kehadiran negara sangat dibutuhkan di tengah kondisi buruk ini. Ya negara hanya hadir saat pergantian kebijakan dan penindakan tegas masyarakat yang ‘ngeyel keluar’ saat PPKM darurat, tapi akar masalahnya tidak bisa dituntaskan oleh negara.

Walhasil, masyarakat harus berpikir secara mandiri bagaimana bertahan hidup saat isolasi mandiri. Kalaupun ada bantuan, maka bantuan itu sifatnya minim, bahkan justru komunitas dan orang sekitar yang ikut mengurusi. Negara lagi-lagi absen dan tidak peduli. Justru kalangan pejabat meminta previllage seperti rumah sakit khusus dengan fasilitas yang memadai. Memalukan !

Ya, memang menyedihkan sekali hidup dalam negara berasaskan kapitalisme ini. Negara hanya berperan sebagai fasilitator dan regulator saja. Prinsip pengurusan pemimpin atas rakyatnya adalah untung rugi. Semua dipandang dengan kacamata materi apabila harus berbuat lebih untuk masyarakat. Sehingga, kita akan temui pernyataan kekurangan dana untuk masalah pandemi ini.

Berbeda dengan Islam, Negara dalam sudut pandang Islam berfungsi sebagai raa’in (pengurus) dan Junnah (pelindung). Negara sebagai raa’in (pengurus) didasari dalam sebuah hadits yaitu,

Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Raa’in (pengurus atau pelayan) bagi umat telah ditunjukkan Khalifah Umar bin Khathab dan Umar bin Abdul Aziz. Beliau telah mencontohkan bagaimana peran seorang pemimpin negara terhadap rakyatnya. Ada sebuah ketulusan dan tanggung jawab penuh semata-mata karena ketaatan pada Allah.

Sedangkan, dalil Khalifah (pemimpin) sebagai Junnah sebagai berikut, Rasulullah SAW bersabda,

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Ungkapan kalimat pemimpin layaknya perisai adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya. Inilah yang dibutuhkan oleh umat, Negara yang bersiap melindungi dan menjaga nyawa rakyatnya.

Sehingga, akan kita dapati bahwa negara dalam Islam tidak akan membiarkan masyarakat menderita. Kezhaliman yang dilakukan negara akan dipertanggung jawabkan kelak hingga akhirat. Negara dalam Islam, akan berusaha maksimal mengurusi umat termasuk dalam kondisi wabah.

Negara akan mengambil kebijakan yang bersandar pada hukum Islam. Ketika wabah terjadi, maka lockdown atau karantina wilayah adalah satu-satunya solusi. Maka, ini yang perlu dilakukan negara. Kemudian, selama lockdown maka negara tidak berhenti untuk mengedukasi dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Mengurusi yang sakit dengan fasilitas terbaik, sehingga wabah segera tuntas.

Keberhasilan Islam menangani wabah tidak perlu diragukan lagi. Dan tinta sejarah negara dalam Islam telah menunjukkan kepengurusan (ri’ayah) terbaik yang pernah ada di dunia. Inilah negara khilafah islamiyyah. Satu-satunya negara yang berasaskan Islam dan berpegang pada syariat. Inilah kebutuhan umat yang harus kita wujudkan dengan perjuangan. Wallahu a’lam bish shawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed