oleh

Dua Kementerian Suport Petani “Ndege Komodo” di Kecamatan Mbeliling

Pose bersama Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika bersama Camat Mbeliling, Robertus Resmianto; Kades Golo Ndoal, Plasidus Jao Ngampu; Pelaku Usaha Porang, Siprianus Sangkata dan Tokoh masyarakat Golo Ndoal, Jumat (19/11/2021). Foto Rikardus Nompa.

LABUAN BAJO, BARANEWS – Para petani Porang di Desa Golo Ndoal, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT mendapat suport langsung dari pihak Kementrian Perindustrian RI dan Kementerian Perekonomian RI. Salah satu dukungannya dari kedua pihak tersebut yaitu meningkatkan produksi Porang tersebut melalui injeksi teknologi.

Warga Desa Golo Ndoal antusias menyambut Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika dan Asisten Deputi Fasilitasi Industri Kemenko bidang perekonomian Atong Soekirman beserta rombongan. Keduanya disambut secara adat Manggarai, Jumat (19/11/2021) petang.

Dihimpun Baranewsaceh.co, sebelumnya Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perekonomian melakukan rapat “Pengembangan Potensi Porang” di Hotel Meruorah Labuan Bajo dengan berbagai pihak diantaranya, Pemerintah Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika dalam kunjungan kerja di Desa Golo Ndoal, Kecamatan Mbeliling, Jumat (19/11/2021) petang menyampaikan, Manggarai Barat merupakan pengekspor Porang terbesar se-Indonesia sepanjang tahun 2019-2020.

Dalam sambutan Dirjen Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, sektor industri agro memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Hal ini menandakan bahwa kinerjanya sebagai sektor hilir pertanian siap mengoptimal dalam meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri, lebih khususnya di Manggarai Barat.

“Intinya kunjungan hari ini menindaklanjuti arahan pak Presiden suatu peningkatan tambah tentang pengembangan budidaya tanaman porang dengan konsep injeksi teknologi. Banyak diskusi tadi, potensinya cukup bagus dan sudah banyak yang jual keluar daerah dan itu diterima dengan bagus. Walaupun dalam bentuk chip dan jemur pakai matahari”, kata Putu Juli Ardika kepada Baranewsaceh.co, usai diskusi dengan sejumlah petani Porang di kantor Desa Golo Ndoal.

Dalam kunjungan tersebut, Putu Juli Ardika akan mendorong pengembangan industri Porang di Kecamatan Mbeliling.

“Tentu kita mendorong petani yang ada di Kecamatan Mbeliling ini. Sekarang untuk meningkatkan nilai tambahnya paling tidak nanti kita coba lihat untuk pengeringan itu paling bagus di daerah ini pakai apa, sehingga hasilnya bagus minimal dengan alat tertentu”, ujar Putu Juli Ardika.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menjelaskan, Porang merupakan komoditas ekspor yang saat ini sangat potensial dikembangkan. Umbi porang mengandung glukomanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan berfungsi sebagai bahan baku berbagai macam industri.

Rombongan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perekonomian RI bersama warga meninjau langsung lahan Porang, di Kampung Mantang desa Golo Ndoal, Jumat (19/11/2021). Foto Rikardus Nompa.

“Dalam industri pangan, Porang nantinya akan di olah menjadi bahan makanan, seperti olahan mi shirataki, beras konyaku, pasta porang, dan pengental. Sedangkan yang non pangan itu baik kosmetik, cat, kertas, pelembab dan juga digunakan industri kimia dan bahan lainnya”, jelasnya.

Selain pengembangan melalui komoditas Porang dengan basis pemberdayaan masyarakat di kecamatan Mbeliling, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika juga mengungkapkan, pihaknya siap bekerjasama dengan lembaga-lembaga tertentu dalam peningkatan kualitas dan pemasaran.

“Kita siap memberdayakan masyarakat dan terus mendorong dalam hal budidaya porang ini. Juga berkomunikasi dengan beberapa perusahaan yang ada. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas dan pemasaran produk olahan porang di Kecamatan Mbeliling ini, sehingga bisa masuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan global”, ungkap Direktur Kemenperin Putu Juli Ardika diwarnai antusias petani Porang.

Lebih lanjut ia mengatakan, Pasarnya kita kembangkan, pasarnya berbasis dalam negeri. Karna pasar dalam negeri memiliki peluang untuk berkembang, baik pangan maupun non pangan.

Perwakilan Kementerian Perindustrian, Hendy Yudianto (kedua dari kanan), bersama Kadis Pertanian Mabar Laurensius Halu (kanan), Pelaku Usaha Porang, Siprianus Sangkata (kedua dari kiri) dan Kabid Penyediaan dan Pengembang Sarana Produksi Pertanian Mabar, Blasius Apen, meninjau langsung lahan Porang, di Kampung Mantang desa Golo Ndoal, Jumat (19/11/2021). Foto Rikardus Nompa.

Ditempat yang sama, Plt. Kepala Dinas Pertanian Manggarai Barat, Laurensius Halu, S. ST menyampaikan Porang dengan variatas lokal “Ndege Komodo” sudah terdaftar di Kementerian Pertanian melalui unit organisasi Pusat Perlindungan Variatas Tanaman dan Perizinan Pertanian (Pusat PVTP).

“Variatas lokal ini hasil penelusuran antara BPTP dan dinas Pertanian Manggarai Barat dan kita punya legalitas sekarang. Jadi orang yang datang beli Ndege Komodo di Manggarai Barat ini tidak ada masalah”, kata Laurensius Halu.

Lebih lanjut ia mengatakan, Manggarai Barat secara potensial memang menjamin dan meyakini bahwa gudangnya Ndege Komodo. Dari aspek budidaya yang terapkan saat ini memang masih konvensional. Artinya apa, yang ditanam saat ini dan dihasilkan saat ini masih alamiah. Jadi Ndege Komodo yang ada di kabupaten Manggarai Barat ini tidak tersentuh dengan bahan kimia sekali pun dan itu terjamin.

Dirinya menegaskan, estimasi Porang di Manggarai Barat itu tersebar di 11 kecamatan, dan penyebaran paling tinggi itu di Kecamatan Sano Nggoang, diikuti kecamatan Macang Pacar kemudian diikuti kecamatan Mbeliling dan serta diikuti kecamatan lain yang tidak kalah potensinya cukup besar.

Berdasarkan data yang peroleh, pihaknya mengestimasikan hasil panen tahun 2021 meski di fase Covid-19 mencapai 13 ribu ton dengan luas areal 405 hektar. Kembali ia menggambarkan wilayah Manggarai Barat dengan luas areal 2.940 hektar. Sekarang kita kurang yang dipanen 400 hektar maka sudah jelas 2.400an hektar itu belum dipanen. Potensi panen Porang per hektar itu rata-rata 80 ton, sebutnya.

Dihadapan Dirjen Kemenperin Putu Juli Ardika dan Asisten Deputi Fasilitasi Industri Kementerian Perekonomian, Atong Soekirman, Kadis Pertanian Manggarai Barat Laurensius Halu menggambarkan penuh optimis potensi Ndege Komodo.

“Kita optimis Porang atau Ndege Komodo ini di Manggarai Barat potensinya besar. Hanya sekarang kembali ke pasar dan saat ini petani sangat siap memenuhi kebutuhan itu”, ungkapnya.

Pemerintah kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Pertanian Manggarai Barat menyatakan komitmen dan kesiapannya untuk menjadikan pengembangan olahan Porang sebagai salah satu prioritas daerah.

“Oleh karna itu, yang perlu kita pikirkan bersama karna yang hadir kesempatan ini dua Kementerian Perindustrian dan Perekonomian soal hilirisasi. Jadi Labuan Bajo merupakan pintu masuk dan keluar mungkin salah satu tempat yang paling strategis untuk ditempatkan soal industri untuk pengolahan Ndege Komodo ini setidaknya di Manggarai Barat terdapat satu atau dua unit pabrik pengolahan, sehingga rantai pasar antara Manggarai Barat-Surabaya, Kediri, Malang dan Madiun itu kita perpendek. Sehingga tidak lagi bahan mentahnya yang kita harus pasarkan keluar daerah Manggarai Barat tetapi mungkin produk hasil olahan itu yang kita pasarkan keluar daerah. Mungkin itu mimipi besar kami di Manggarai Barat ini, tentu atas nama pemerintah daerah ini yang kami harapkan tolong bawa harapan kami ke tingkat kementerian untuk didiskusikan lebih lanjut”, beber Laurensius Halu.

Selain pemkab Mabar, Kepala Desa Golo Ndoal, Plasidus Jao Ngampu juga turut bangga dan apresiasi atas kunjungan dua kementrian di desanya.

Perwakilan Kementerian Perindustrian, Hendy Yudianto (kedua dari kanan), bersama Kadis Pertanian Mabar Laurensius Halu (kanan), Pelaku Usaha Porang, Siprianus Sangkata (kedua dari kiri) dan Kabid Penyediaan dan Pengembang Sarana Produksi Pertanian Mabar, Blasius Apen, meninjau langsung lahan Porang, di Kampung Mantang desa Golo Ndoal, Jumat (19/11/2021). Foto Rikardus Nompa.

Hal senada disampaikan pelaku usaha Ndege Komodo kecamatan Mbeliling Siprianus Sangkata. Ia mengapresiasi dinas Pertanian Manggarai Barat, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perekonomian RI atas atensi yang luar biasa kepada petani Porang Desa Golo Ndoal, kecamatan Mbeliling.

“Terimakasih kepada kepala dinas pertanian kabupaten Manggarai Barat, Dirjen Perindustrian, Dirjen Perekonomian berserta rombongan telah hadir di desa kami lebih khusus di kecamatan Mbeliling. Saya rasa bangga dan berterimakasih datang jauh-jauh ditempat saya, ini demi cinta kepada masyarakat Manggarai Barat terlebih petani Porang di Desa Golo Ndoal”, kata Siprianus Sangkata.

Ia menggambarkan, Porang diwilayahnya sudah budidaya sejak 2018. Porang yang tadinya dibudaya untuk target panen tahun 2021, tapi karna wabah Covid-19 harganya anjlok. Tahun ini kita targetkan Porang dari Manggarai Barat untuk ekspor keluar Jawa itu puluhan ribu ton, sedangkan kecamatannya ditergetkan 6000 ton itu estimasi terendahnya.

Siprianus Sangkata berharap dengan kunjungan kerja dua Kementerian itu membawa terang bagi petani Porang di Kecamatan Mbeliling.

“Mungkin kondisi Covid-19 tak kunjung usai ini, petani Porang di wilayah Mbeliling lebih khusus desa Golo Ndoal mengalami lesuh, tapi dengan kehadiran ini membangkitkan kembali semangat dan motivasi untuk terus budidaya porang”, ujarnya.

Dirinya juga menjembatani dinas pertanian kabupaten Manggarai Barat, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perekonomian menitip pesan kepada Kementerian Desa untuk perhatian sektor pertanian diwilayahnya.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut diantaranya Camat Mbeliling Robertus Resmianto, Kades Golo Ndoal Plasidus Jao Ngampu, Kades Golo Damu Stefanus Dansi, Kades Tiwu Riwung Martinus Tanus, beserta tokoh masyarakat perwakilan masing-masing desa.

Berikut Data Porang Kecamatan Mbeliling Tahun 2021;

1. Tiwu Riwung 182 hektar
2. Golo Damu 60 hektar
3. Golo Sembea 164 hektar
4. Golo Ndoal 123 hektar
5. Tondong Belang 115
6. Cunca Lolos 20 hektar
7. Golo Desat 29 hektar
8. Watu Galang 19 hektar
9. Liang Ndara 24 hektar
10. Compang Liang Ndara 16 hektar
11. Kempo 31 hektar
12. Watu Wangka 79 hektar
13. Wae Jare 77 hektar
14. Golo Tantong 5 hektar
15. Cunca Wulang 98 hektar
Total 944 hektar yang tergabung dalam Poktan. [RN]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed