oleh

Benarkah Politik Adalah Panggung Sandiwara?

 

Oleh: Syifa Humaira

Dalam sebuah panggung sandiwara selalu ada para aktor yang bermain dan memiliki peranan masing-masing di atas panggung. Lalu mengapa politik disebut sebagai panggung sandiwara? Karena adanya aktor politik yang berperan dengan tingkah laku dan karakternya masing-masing dalam dunia politik. Dalam panggung sandiwara politik tersebut hal-hal yang meliputi tingkah laku maupun habit dibahas dalam antropologi politik.

Aktor politik yang berperan dengan tingkah laku dan karakternya masing-masing dalam dunia politik seringkali menjadi faktor kemajuan politik. hal-hal yang meliputi tingkah laku maupun budaya politik dibahas dalam antropologi politik.

Antropologi politik merupakan suatu cara untuk mempelajari masalah – masalah politik dengan memperhatikan tingkah laku dan kebiasaan atau budaya yang dimiliki oleh orang yang memiliki peran sebagai aktor politik dengan tujuan untuk menyelidiki pergerakan perkembangan dan kemajuan politik di suatu negara.

Mungkinkah generasi muda sebagai aktor politik?

Sudah banyak sekali generasi muda yang bergabung dalam politik. Seharusnya hal tersebut bisa menjadi inspirasi bagi muda mudi sekarang dan bisa menjadi warna baru dalam politik. Generasi muda harus bisa membuat budaya politik yang kreatif dan sejahtera. Panggung sandiwara tidak akan ada jika para aktor memiliki karakter yang baik dan memahami tanggung jawab serta peranannya dalam politik.

Sebuah perebutan kekuasaan yang melibatkan banyak kepentingan dengan diwakili oleh para aktor politik seringkali terjadi dalam dunia perpolitikan. Dalam sebuah kampanye untuk menarik perhatian masyarakat agar berhasil mendapatkan kekuasaan biasanya para calon legislatif (CALEG) akan rela melakukan apa saja demi berhasil mendapatkan kekuasaan.

Kampanye sudah menjadi budaya masyarakat setiap menjelang Pemilu. Dalam kampanye biasanya banyak sekali upaya-upaya para caleg untuk mendapatkan suara dari rakyat. Akan banyak caleg yang mengumumkan janji dan programnya untuk pembangunan bangsa dan kesejahterahan rakyat.

Dalam berkampanye biasanya para caleg rela menghabiskan banyak uangnya demi berhasil mengikat hati rakyat untuk mendapatkan suara. Membagikan sembako kepada rakyat, memasang baliho di banyak titik, dan sebagainya. Tentu hal-hal tersebut memerlukan banyak uang dan usaha yang luar biasa. Dan hal tersebut sudah menjadi budaya politik saat menjelang pemilu. Budaya seperti ini bisa menjadi panggung sandiwara jika janji janji para caleg hanya omong kosong semata.

Kebudayaan mempengaruhi pergerakan politik sehingga konsep – konsep antropologi diperlukan untuk memahami kekuasaan dalam sistem sosial. Maka dari itu, antropologi dalam politik lebih berhubungan dengan antropologi budaya dibandingkan dengan antropologi fisik karena antropologi budaya menekankan pada beberapa aspek diantaranya adalah pertimbangan politik dan hubungan kebudayaan dengan kekuasaan yang berporos pada asumsi masyarakat terhadap kebudayaan.

 

Media komunikasi saat kampanye pun bisa jadi suatu cara untuk menaikkan kredibilitas para caleg yang terpampang di baliho atau papan iklan. Namun sangat tidak efektif dalam sebuah baliho yang di jadikan ajang kampanye itu terdapat tulisan-tulisan yang bertujuan untuk membangun citra positif para caleg.

 

Selain itu, budaya kampanye dapat menimbulkan kerusuhan dan bentrok antar masyarakat karena saling membela para caleg dukungan mereka masing-masing. Seringkali masyarakat terbagi menjadi beberapa kubu demi untuk membela para caleg yang mereka dukung dengan kepercayaan penuh. Sehingga menimbulkan perpecahbelahan antara rakyat.

 

Fanatisme adalah salah satu faktor yang menyebabkan perpecahan itu terjadi. Fanatisme adalah paham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan. Budaya fanatisme bisa menjadikan rakyat saling sikut. Maka, dalam hal ini saling menghargai masing-masing pilihan menjadi sebuah cara dari diri sendiri untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan ditengah perbedaan pilihan.

 

Aktor politik adalah aspek yang sangat penting dan sangat menentukan di antara struktur-struktur politik yang lainnya. Kuasa dan authority juga adalah faktor utama dalam menentukan hubungan antara peranan dalam politik. Maka semua aktor politik harus memahami pendekatan tingkah laku dalam menjalankan sistem politik agar paham akan kekuasaan dan tugas yang diberikan.

 

Aliran kekuasaan mengatakan bahwa semua upaya ataupun usaha dalam bentuk apapun yang dilakukan oleh penyelenggara negara dengan hanya bertumpu pada mencari dan mempertahankan kekuasaan. Dalam kekuasaan sering kali terjadi konflik yang mewarnai perpolitikan di sebuah Negara.

 

Aliran konflik berkaitan dengan upaya untuk mempertahankan sumber daya yang dianggap penting dan bisa menjadi keseimbangan. Sebuah konflik dalam politik adalah sebuah transformasi dalam memfasilitasi perubahan dalam politik dan biasanya memberikan keuntungan bagi setiap kelompok – kelompok yang menjadi pemenang dalam konflik. Kelompok – kelompok tersebut dalam antropologi politik disebut sebagai aktor politik yang memiliki peranan dalam memajukan politik

 

Sehingga perilaku dan karakter para aktor politik perlu ditanamkan lagi nilai-nilai kejujuran dalam diri mereka sehingga terciptanya kesejahterahan bagi seluruh rakyat. Rakyat memerlukan kejujuran dari para pemimpin bangsa, dari para wakil-wakil rakyat yang telah mereka percaya dengan sepenuh hati untuk memimpin dan memajukan bangsa.

perilaku elit politik yang menentukan sebuah perubahan  karena negara bersifat abstrak sehingga dalam hal ini pemimpin politik sebagai aktor sangat menentukan kemajuan politik dan negara yang sedang kita bangun bersama. Tumbuhkan lagi nilai-nilai kejujuran yang bisa dipercaya oleh rakyat agar bersama-sama kita membangun negara dengan semangat persatuan dan kesatuan.

Perbaiki budaya politik dengan menggandeng generasi muda yang dapat menumbuhkan nilai-nilai kejujuran agar kelak bisa mewujudkan budaya politik yang memajukan bangsa. Siapkan Indonesia maju dengan generasi emas yang cerdas dan berkualitas.

 

Penulis merupakan mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, FISIP, Jurusan Ilmu Komunikasi semester 1.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed