oleh

Adat & Budaya Masyarakat Lampung Diambang Kepunahan  (Bagian l)

Jacob Ereste

 

Pada dasarnya pemahaman masyarakat Lampung terhadap hidup dan kehidupan ini sesungguhnya fana, tidak bisa dilukiskan seperti kematian itu sebdiri yang penuh misteri. Karenanya hidup bagi masyarakat Lampung adalah penerimaan seadanya dari segala yang datang dan pergi seperti kelahiran dan itu sendiri.

Di dalam kehidupan masyarakat Lampung yang terdiri dari beberapa buai, arti perkawinan dan kelahiran hingga kematian mempunyai makna tersendiri. Karenanya dalam mempertandainya biasa dibuat acara khusus yang diselenggarakan dengan cara yang khas.

Dalam adat perkawinan masyarakat Lampung nyaris tidak ada istilah lamar melamar. Agaknya pilihan sikap serupa ini erat kaitannya dengan istilah fi’il pesengiri untuk menghindari penolakan dari pihak yang dilamar. Namun  di dalam keyakinan tradisi kawin lari yang dominan menjadi pilihan ini, terdapat keyakinan bahwa tidak ada masalah yang kelak tidak bisa diselesaikan dengan cara bermusyawarah untuk mencari jalan penyelesaian, termasuk dalam tradisi kawin lari yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Lampung pada umumnya. Meski begitu tidak berarti proses lamar melamar tidak sama sekali ada, namun sangat jarang dan sangat langka dijadikan pilihan.

Upaya untuk menyelesaikan masalah kawin lari ini, biasa menjadi  tugas khusus para pemungka adat dari masing pihak keluarga atau marga — karena umumnya perkawinan dilakukan tidak sesama marga, tetapi dilakukan dengan marga yang lain — sehingga utusan yang melakukan perundingan bisa diwakili oleh pihak keluarga atau yang diwakili oleh tokoh-tokoh yang ada di dalam marga masing-masing.

Adat istiadat kawin lari ini bisa saja sebelumnya telah merjadi kesepakatan antara masing-masing pasangan calon pengantin. Tetapi juga, bisa saja terjadi dari perkenalan sekejap hingga melarikan seorang calon pengsntin perempuan itu dilakukan dengan sikap pemaksaan. Yang tidak kalah unik dan menarik ada juga pihak keluarga dari calon mempelai laki-laki yang bersikap memaksa calon pengantin laki-laki mereka sendiri untuk dinikahkan dengan seorang wanita pilihan keluarga. Biasa kasus semacam ini terjadi akibat dari calon pengantin laki-laki yang tersebut tidak punya inisiatif untuk menikah, sementara usianya menurut keluarga sudah seharusnya berkeluarga.

Dalam perspektif politik, orang Lampung pada umumnya sikap pilihsn terhadap sikap kawin lari ini merupakan keyakinan dari cara menganut prinsip yang teguh –fi’il pesengiri — yang terbilang cukup ketat untuk menjaga martabat dan harga diri. Agaknya, itulah sebabnya kawin lari menjadi pilihan sikap yang umum sifstnya. Sebab cara melamar seorang calon pengantin resikonta bisa saja ditolak oleh pihak keluarga yang dilamar. Jika saja penolakan sampai terjadi, maka arti dari martabat atau harga diri  pihak pengantin laki-laki akan merasa jatuh dan sangat memalukan dalam pemsgaman keluarga maupun warga masyarakat setempat. Oleh  sebab itu, untuk mendapatkan seorang calon pengantin lebih disukai ditempuh dengan cara kawin lari. Yaitu melarikan seorang gadis yang mau dijadikan  pengantin oleh seorang laki-laki. Dan biasanya, bagi seorang calon pengantin yang sudah diboyong ke rumah keluarga calon pengantin pria itu, menjadi famali  hendak diambil kembali. Sebab jika kejadian serupa sampai terjadi, ia akan menjadi aib bagi kedua pihak dalam pandangan masyarakat setempat.

Karenanya, upaya menjemput paksa calon pengantin peremluan yang sudah dilarikan secara paksa tadi bisa menimbulkan perseteruan yang sangat sengit. Boleh jadi akan  terjadi semacam benturan fisik,  tetati pihak-pihak lain — termasuk aparat keamanan kampung atau negeri setempat– bisa ikut melerai dengan sikap netral yang ingin mencaptakan suasana damai. Dalam konteks ini sikap diplomasi dan ugahari dari para pihak pun dapat menjadi pembelajaran tersendiri. Rasionalitas cara berpikir jauh untuk masa depan yang masih tetap dapat ditata lebih baik, menjadi pertimbangan dan acuan untuk menerima realitas yang terjadi didepan mata. Acara perdamaian pun biasanya bisa dicapai.  Meski nyaris tak pula ada calon pengantin wanita yang bisa diambil kembali oleh pihak keluarganya Sebab resikonya akan menjadi aib yang tidak bisa diterima oleh pihak manapun, termasuk bagi warga masyarakat sekitarnya. Tentu saja dari tradisi kawin lari dalam masyarakat Lampung ini, bisa dipahami sebagai kepiawaian warga masyarakat Lampung dalam berdiplomasi dan melakukan cara negosiasi seperti masyarajat yang tangguh dalam diplomatis politik tanpa kekerasan dan kemampuan bermusyawarah mufakat yang konsisten serta senantiasa mengedepankan sikap jujur dan terbuka. Sehingga semua persyatan dari perdamaian yang diajukan pihak keluarga dari mempelai perempuan akan diupayakan sepenuhnya dan dilaksanakan dalam rangkaian acara pernikahan kedua mempelai  itu kelak. Itulah sebabnya sering ada permintaan untuk upacara perkawinan ada yang dirayakan dengan syarat menyembelih 7 (tujuh) ternak kerbau. Dan dalam taranan adat warga masyarakat Lampung, sosok hewan ternak kerbau menjadi simbol tertinggi dari daging  hewan yang wajib disajijan dalam semua bentuk upacara adat.

Ekspresi kejujuran dari masyarakat Lampung pada umumnya akan terungkap dalam kerendagan hati mengakui semua kesalahan serta kekurangan yang ada dari pihak krluarga mempelai  laki-laki  secara terbuka dalam musyawarah dan mufakat untuk melangsungkan acara pernikahan secara resmi yang harus dilakukan dengan segera dalam waktu dekat. Karena posisi calon mempelai wanita sudah tersandera dalam keluarga pihak calon pengantin pria. Kondisi serupa ini bisa menimbulkan kesan yang tidak baik bila terlalu lama diresmikan pernikahannya.

Tentu saja lain ceritanya jika suatu rencana perkawinan dari seorang warga masyarakat Lampung dengan warga dari suku bangsa yang lain. Cara pernikahan yang umumnya dilakukan jelas bisa sangat berbeda caranya. Namun yang unik pada umumnya anak tertua dari keluarga warga masyarakat Lampung juga ada semacam penekanan untuk menikah sesama suku bangsa Lampung sendiri. Namun dalam pernikagan itu tetap diidealkan calon pengantin tidak berasal dari marga yang sama, jadi ada pula semacam keharusan  dari marga yang lain. Tetapi pada akhir belakangan ini kecenderungan serupa sudah mulai ditinggalkan. Jadi ada pemahaman bahwa pasangan pengantin baik yang perempuan maupun yang laki-laki untuk anak pertama tidak lagi begitu fanatis diharuskan untuk menikah dengan sesama suku bangsa Lampung. Apalagi untuk anak-anak urutan berikutnya dalam suatu keluarga.

Dalam upacara perkawinan biasanya akan selalu diupayakan  semeriah mungkin. Apalagi hendak mengikuti tata cara adat yang cukup rumit. Karena untuk sang pengantin pada saat perayaan pernikahan dilakukan, akan diberi gelar tertentu sesuai dengan derajat kedudukannya dalam keluarga. Sehingga posisinya pun dalam tatanan masyarakat adat diantara keluarga maupun se marga dengannya kelak mempunyai  posisi dan kedudukan yang jelas dalam tatanan adat.  Oleh karena itu, semua tatanan dari prosesi perta adat wajib untuk dilakukan sesuai dengan aturan adat yang berlaku. Karena syatar dari  perkawinan yang memenuhi tatanan adat mutlak dan harus  disaksikan oleh segenap para pemangku adat setempat untuk kemudian memberi pengukuhan dan  legalitas dari para pemangku adat.

Jika pesta adat dalam ptosesi pernikahan suku bangsa Lampung tidak dilakukan, karena memilih cara yang lain, konsekuensinya bagi yang bersangkutan tidak bisa ikut dalam semua pesta adat yang diadakan di daerah setempat dan sekitarnya.

Saat jabang bayi lahir bagi warga masyarajat Lampung pun mempunyai dan pemaknaan tersendiri. Karensnya serangkaian upacara penyambutan anggota keluarga yang baru ini bisa dirayakan dengan berbagai upacara adat, mulai dari sepekan dari hari kelahiran sang bayi, hingga acara pengguntingan rambut sampai khitanan, baik untuk anak bayi laki-laki maupun untuk anak bayi perempuan. Sama saja perlakuan dalam tata cara adatnya, termasuk saat acara memberi nama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed