oleh

Waduh…!!! Oknum Notaris dan Developer Akan Dilaporkan Yudi Irsandi, SH

Yudi Irsandi, SH Akan Menempuh Jalur Hukum Terkait Oknum Notaris Yang Diduga Keras Bersebahat Dengan Developer

Labuhan Batu – Berawal dari perjanjian kerjasama antara Muhamad Ishak, SP warga jalan Dusun Suka Mulia, Desa Damuli Pekan, Kecamatan Kualu Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara sebagai pihak pertama dan Adiansyah warga Sei Berombang, Kecamatan Kualu Selatan, Kabupaten Labuhanbatu sebagai pihak kedua menuai polemik, terkhusus bagi pihak pertama.

Bagaimana tidak, pasal nya pihak pertama yaitu Muhamad Ishak, SP mempunyai sebidang tanah yang mana diatasnya sebidang tanah tersebut berisi tanaman Kelapa Sawit yang mana
sebidang tanah negara seluas kurang 11.385 M2 (sebelas ribu tiga ratus delapan puluh lima meter persegi) yang terletak di Lingkungan Purwodadi C, Kelurahan Bakaran Batu, Kecamatan, Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara.

Tidak sampai di situ saja, perjanjian kerjasama antara Muhamad Ishak, SP sebagai pihak pertama yang memiliki tanah dan Adiansyah sepakat akan membangun perumahan KPR dengan ukuran tanah seluas 7 x 14 meter persegi, yang mana bahwa pembayaran pertama dilakukan saat penandatanganan Surat perjanjian kerjasama yaitu sebesar Rp. 10.000.000( Sepuluh juta rupiah dan menjelaskan bahwa pihak ke dua yaitu Adiansyah akan memberikan uang sebesar Rp. 1.500.000 ( Satu juta lima ratus ribu rupiah ) setiap bulan nya dengan tujuan pembersihan lahan.

Dari hasil surat perjanjian kerjasama tersebut menegaskan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk pembayaran selanjutnya, apabila setelah ada akad kredit perumahan pada Bank yang akan ditunjuk yaitu sebesar Rp. 22.000.000 ( Dua puluh juta rupiah ) / unit /rumah.

Kemudian kedua belah pihak saling sepakat apabila ada kelebihan tanah, maka pihak pihak ke dua akan membayar kepada pihak pertama sebesar Rp. 200.000(Dua ratus ribu rupiah)permeter. Dan semua perjanjian surat kerjasama tersebut telah dibuat oleh Notaris Dessy Aryany, S.H., M.Kn yang beralamat dijalan Perdamean No. 16, Rantauprapat, dan teregestrasi dengan nomor 2074/LEG/DA/III/2017 tertanggal 30 Maret 2017.

Ternyata dari hasil surat perjanjian kerjasama tersebut terdapat keganjilan bahkan mengarah ketindak pidana yang jelas-jelas melanggar hukum yang di duga dilakukan Oleh Oknum Notaris dalam hal ini Notaris Dessy Aryany, S.H., M.Kn.

Sebagaimana yang diketahui bahwa tentang pelanggaran yang bisa terjadi dalam hal ini Notaris yang diduga terlibat pemalsuan data autentik.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, apabila ditinjau dari aspek Hukum Positif, praktik Pemalsuan Akta Otentik dibagi menjadi dua sub poin, pertama pertanggungjawaban pidana tersebut dilimpahkan kepada para pihak/penghadap apabila akta yang akan dibuat mengandung unsur yang bertentangan dengan Undang-Undang, hal ini sesuai dengan ketentuan pidana dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP jo. Pasal 55 ayat (1).

Kedua, pertanggungjawaban pidana Pemalsuan Akta Otentik dilimpahkan kepada Notaris apabila Notaris membuat surat atau akta palsu, atau memalsukan surat atau akta berdasarkan pasal 263 jo 264 KUHP.

Dan inilah yang kini menimpa Muhamad Ishak, SP dan keluarganya, ketika dikonfirmasi wartawan tadi sore Rabu 8 April 2020 ketika memastikan polemik surat perjanjian kerjasama yang diduga syarat rekayasa.

” Sudah hampir 3 tahun permasalahan ini belum juga selesai dan tidak ada titik terang, sehingga saya meminta bantuan hukum kepada Bapak Yudi Irsandi, SH untuk menyelesaikan permasalahan ini sampai selesai ” Ungkap Muhamad Ishak, SP

Sementara itu menurut Yudi Irsandi, S.H selaku kuasa hukum dari Muhamad Ishak, SP adanya dugaan pemalsuan identitas atasnama Adiansyah yang dilakukan Notaris Dessy Aryany, S.H., M.Kn sebagai berikut :

1. Pada tanggal 30 Maret 2017 terkait surat perjanjian kerjasama dituliskan bahwa alamat Adiansyah di Sei Berombang, Desa Sei Berombang , Kecamatan Kualu Selatan, Kabupaten Labuhanbatu dengan NIK : 12100191505930001
2. Pada tanggal 18 April 2017 terkait pelepasan hak dengan ganti rugi dituliskan bahwa alamat Adiansyah di Sei Berombang, Desa Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu dengan NIK : 1210191505930001
3. Kemudian pada tanggal 18 April 2017 terkait pelepasan hak dengan ganti rugi dituliskan bahwa kelahiran tahun Muhamad Ishak, SP dituliskan tanggal 10 Juli 1952, sementara yang benar adalah 10 Juli 1978 yang sesuai KTP
4. Tidak hanya itu saja pada tanggal 18 April 2017 terkait pelepasan hak dengan ganti rugi dituliskan bahwa istri dari Muhamad Ishak, SP yang bernama Asnidar berkelahiran tanggap 28 Desember 1958, dengan nomor NIK : 1223086804580005, padahal kelahiran istri dari Muhamad Ishak, SP sebenarnya adalah tanggal 28 April 1981

” Kami sudah melayangkan undangan untuk klasifikasi sebanyak dua kali yang ditujukan saudara Adiansyah selaku Developer dan saudari Dessy Aryany, S.H., M.Kn selaku Notaris, namun tidak ada respon dari keduanya ” Ungkap Yudi Irsandi, SH

Sebelum menutup wawancara terkait permasalahan yang menimpa Muhamad Ishak, SP yang ditanganinya Yudi Irsandi, SH menegaskan akan menempuh jalur hukum sehingga permasalahan yang menimpa Klien nya yang bernama Muhamad Ishak, SP akan terbuka jelas, siapa oknum dibelakang yang melancarkan aksi tersebut.

( Mulya Koto )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed