oleh

Setengah Juta Generasi Putus Kuliah Saat Pandemi, Butuh Solusi Hakiki

 

Oleh : Nor Hilmi Wati (Mahasiswi)

Pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Pendidikan juga dijadikan sebagai salah satu tolak ukur dalam menilai maju atau tidaknya suatu negara. Suatu negara dapat dikatakan maju apabila memiliki kualitas pendidikan yang baik, contohnya Finlandia yakni salah satu negara yang termasuk dalam daftar jajaran negara maju sebab memiliki kualitas pendidikan yang baik bahkan terbaik nomor satu di dunia saat ini.

Lain halnya dengan Indonesia, yang berada pada urutan ke-55 dari total 73 negara, meski terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya tapi tetap saja posisi tersebut belum menunjukkan status yang baik. Tidak heran jika Indonesia sampai saat ini masih termasuk negara berkembang apabila dilihat dari tingkat pendidikannya, ditambah dengan faktor-faktor lainnya seperti angka harapan hidup, pendapatan perkapita, dsb.

Sejak jauh sebelum pandemi hingga sekarang problematika pendidikan dalam negeri terus terjadi setiap tahunnya, baik adanya kemunculan masalah baru maupun permasalahan lama yang tidak kunjung teratasi seperti kasus putus kuliah yang justru semakin meningkat saat pandemi terjadi. Dilansir dari laman JawaPos.com lebih dari setengah juta mahasiswa putus kuliah selama masa pandemi. Informasi tersebut disampaikan Kepala Lembaga Beasiswa Baznas Sri Nurhidayah dalam peluncuran Zakat untuk Pendidikan di Jakarta secara virtual Senin (16/8).

Mengutip data dari Kemendikbudristek, Sri mengatakan sepanjang tahun lalu angka putus kuliah di Indonesia mencapai 602.208 orang. Sri mengatakan pada tahun sebelumnya angka putus kuliah sekitar 18 persen. Kemudian di masa pandemi ini naik mencapai 50 persen. Kondisi ini tidak lepas dari bertambahnya penduduk miskin akibat dampak ekonomi, sosial, dan kesehatan dari pandemi Covid-19.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dampak yang disebabkan oleh pandemi sudah merasuk ke berbagai sendi kehidupan, mengingat semua permasalahan yang terjadi saat ini saling terkait satu sama lain. Hal ini disebabkan karena lambannya penanganan yang diberikan pemerintah sejak kasus pertama ditemukan di Indonesia. Berbagai upaya yang dilakukan pun nampaknya bukanlah solusi tepat yang dapat menyelesaikan permasalahan secara tuntas, seolah-olah tidak ada keseriusan untuk mengatasi pandemic. Sebab bukannya menyelesaikan masalah tapi justru malah menambah permasalahan baru sehingga membuat polemik masalah di negeri tak kunjung usai.

Salah satu yang terdampak adalah bidang pendidikan, kebijakan pembelajaran jarak jauh (daring) diterapkan tak lama semenjak kasus Covid-19 mulai merambat ke berbagai daerah di Indonesia, sebagai bentuk upaya pemutusan mata rantai virus dengan mengurangi aktivitas di luar rumah. Untuk mendukung kegiatan pembelajaran jarak jauh ini pemerintah khususnya Kementrian Pendidikan dan Budaya juga Kementrian Agama memberikan bantuan kepada siswa/mahasiswa dan guru/dosen berupa distribusi paket internet.

Juga adanya kebijakan di beberapa perguruan tinggi mengenai potongan SPP/UKT bagi mahasiswanya yang terdampak seperti orang tua yang mengalami PHK saat pandemi, dll. Sayangnya beberapa kebijakan di atas belum terlaksana secara merata dan belum cukup untuk mengatasi permasalahan yang ada, karena kebijakan penanganan pandemi belum mencakup pembebasan biaya sekolah/kuliah, yang ada hanya potongan biaya seperti yang disebutkan di atas. Faktanya selain biaya paket internet dan SPP/UKT yang harus dikeluarkan, orang tua siswa masih harus menebus uang buku, seragam dan perlengkapan sekolah lainnya.
Belum lagi sarana prasarana penunjang pembelajaran jarak jauh seperti gadget yang belum tentu semua siswa/mahasiswa memilikinya meskipun saat ini gadget merupakan salah satu item wajib di era digitalisasi seperti sekarang. Namun, tidak menutup kemungkinan masih ada segelintir siswa/mahasiswa yang memiliki keterbatasan untuk mendapatkannya. Adapun bantuan yang diberikan berupa beasiswa kepada siswa/mahasiswa nyatanya belum diberikan secara adil dan merata, bahkan tak jarang pendistribusiannya yang salah sasaran serta diperparah berbagai persyaratan yang tak jarang terkesan menyulitkan.

Sungguh sangat disayangkan jika generasi yang diharapkan menjadi penerus tonggak peradaban justru tidak dapat melanjutkan pendidikan karena terkendala ekonomi. Hal ini benar-benar merupakan ancaman nyata akan hilangnya potensi intelektual generasi melihat 602.208 orang bukanlah jumlah yang sedikit. Sebelum semakin banyak bertambah jumlah kasus putus kuliah, masalah ini harus segera diselesaikan dengan menerapkan solusi tepat yang benar-benar mampu mengatasi masalah ini sampai tuntas yakni Islam.

Islam memiliki berbagai solusi tepat atas segala permasalahan dalam kehidupan tak terkecuali permasalahan dalam bidang pendidikan. Dalam sistem Islam, baik saat terjadi pandemi atau pun tidak negara akan menjamin terpenuhinya kebutuhan tiap individu rakyat, termasuk pendidikan. Di mana pendidikan seratus persen dibiayai oleh negara dan diperuntukkan untuk seluruh rakyat tanpa memandang apakah ia berasal dari keluarga mampu atau tidak.

Kualitas pendidikan benar-benar dijaga dengan memberikan fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai juga tenaga pendidik yang berkualitas dan kompeten. Sehingga tidak ada lagi yang namanya sekolah unggulan atau sekolah tertinggal apalagi kasus putus sekolah/kuliah dengan alasan faktor ekonomi. Dalam Islam, memenuhi kebutuhan rakyat merupakan tanggung jawab negara yang harus dilaksanakan tentu saja bukan dengan melimpahkan tanggung jawab tersebut kepada yang lain.
Hal ini hanya akan dapat terjadi apabila sistem Islam diterapkan dalam kehidupan secara menyeluruh, oleh karena itu sudah seharusnya kita kembali pada Islam dengan menjadikan Islam sebagai aturan dalam kehidupan dan solusi atas setiap permasalahan agar setiap langkah perbuatan kita mendapatkan keberkahan dari Allah swt. wallahu’alam bisshawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed