oleh

Rela Jadi Pemulung Dan Kuli Serabutan, Dua Bocah Cilik Labuan Bajo Jadi Tulang Punggung Keluarga

Rusdiawan Saputra (14) dan Wildan Saputra (12) saat ditemui awak Media Baranewsaceh.co (2/8) Lokasi TPA Labuan Bajo, Kampung Kenari, Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Mabar-NTT pukul 15.00 Wita

LABUAN BAJO- Kerasnya kehidupan keluarga menuntut dua orang anak laki-laki hebat berusia 14 dan 12 tahun harus bertahan hidup. Diantaranya Rusdiawan Saputra (14), Wildan Saputra (12) si bocah kecil rela menjadi pemulung, kerja serabutan demi memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya.

Saat fajar terbit, hingga tertutup gelap di Bumi Super Premium ini, Rusdian dan Wildan harus mengumpulkan sampah-sampah plastik berupa botol aqua, besi tua, tas bekas, sendal maupun plastik lainnya untuk dijualnya ke pembeli barang bekas, saat berbagi cerita dengan awak Media Baranewsaceh.co di TPA Labuan Bajo, Desa Warloka Dusun Kenari, Kecatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat-NTT, Minggu (2/8) pukul 15.00 WITA.

Rusdian dan Wildan harus tinggal bersama ibunyadi di RT 04 Dusun 02 Desa Warloka, Kampung Kenari sejak ditinggalkan ayahnya Muhamad Saidi (Alm.2010) suami karna sakit.

Keluarga Rusdian dan Wildan yang dominan disabilitas tak berdaya lagi memaksa keduanya tegar dan menjadi tulang punggung keluarga kecil mereka, tutur Nurbia (39) ibu dari dua anak tersebut saat ditemui awak media Baranewsaceh.co dikediamananya pukul 19.00 WITA.

Keluarga ibu Nurbia (39) saat ditemui awak media Baranewsaceh.co dikediamananya pukul 19.00 WITA.

Nurbia (39) orangtua sebagai petani kesehariannya rela bekerja serabutan demi menafkai keluarga kecilnya. Ibu Nurbia menaruh beban berat ini ke dua anaknya sebagai tulang punggung keluarga, jelasnya.

Aktivitas keseharian keluarga ibu Nubia (39), mengumpulkan kayu api untuk dijual ke tetangga tetangga, untuk memperoleh beras 1 hingga 2 liter rela ibu Nurbia tukar kayu api dengan beras, ungkapnya dengan nada sedih saat malam hari dipancar lampu pelita.

Harga kayu api per ikatnya Rp 20.000, itupun tidak setiap hari orang membelinya, untuk makan sehari itupun terbatas, kadang makan siang dan malam itu sekali saja, tambah Nurbia.

Rusdiawan Saputra (14) anak ketiga yang sedang mengampuh pendidikan kelas 1 SMP Negeri 4 Komodo, Wildan Saputra (12) Kelas 5 SDI Lengkongbot, tetap tegar menjalani kehidupan ini, walaupun keluarganya begitu banyak kekeurangannya, ungkap ibunya.

Anak pertama Rusmiati 1998 (Disabilitas), Anak kedua Maulana Saputra (Disabilitas), Anak kelima Ati Risma bungsu 2013, tambah ibu Nurbia.

Selama Pandemi Corona, keluarga Nurbia (39) mendapat sumbangan diantaranya 3 kg beras, 5 butir telur dan 1 kg gula dikasih langsung oleh Camat Komodo. Nurbia Penerima PKH Rp 300.000, per tiga bulan Lampu Pelita, kadang aliran listrik dari rumah bapak dewan Sewar Gading, gratis, terangnya.

Keberadaan Sewar Gading anggota DPRD Mabar Fraksi PKB dikampung Kenari, cukup membantu beban kelurga ibu Nurbia (39), kami tidak bisa gambar seperti apa kebaikan pak Gading lagi, jujurnya.

Hasil dari pengumpulan kayu api, kerja serabutan dan mulung digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah keduanya.

Rumah panggung sederhana dan kecil layak huni inilah Rusdiawan dan Wildan tinggal bersama ibu, kakak dan seorang adiknya bersama keluarga yang lainnya.

Penglihatan tetengga terkait kehidupan sehari-harinya, susah mereka mencari nafka, Rusdin dan wildan adalah tulang punggung utamanya dalam keluarga ini, jelas Abudul Sahir warga desa Tiwu Nampar.

Intinya sedih, kami tidak bisa menceritakannya lagi, tambah Abdul Sahir, ditambah tidak punya lahan garapan baik itu kebun maupun sawah saat berbagi cerita dengan awak Media Baranewsaceh.co dikantin samping rumah ibu Nurbia. (Rikardus Nompa)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed