oleh

Pertobatan Metanoia: Transformasi Diri dari Sikap Egoistik Menjadi Solider


Oleh: Raymundus Tanu

Momentum perayaan Prapaskah tahun ini memang masih belum pada fase kenormalan sebagaimana mestinya dirayakan pada setiap tahun oleh kaum beriman Nasrani. Hal demikian diakibatkan karena pengaruh pandemi covid-19 yang masih terus melanda seluruh dunia. Meskipun demikian, kesempatan untuk merayakan Prapaskah tetap dilaksanakan oleh Gereja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Masa Prapaskah dalam situasi pandemi ini mengajak setiap orang untuk kembali merefleksikan semangat solidaritas dan kepedulian sosial dengan sesama manusia. 

 Masa Prapaskah adalah masa refleksi, introspeksi diri atas ketidakbaikan hidup selama ini, terutama dalam relasi dengan sesama manusia. Kesempatan permenungan pada masa Prapaskah ini secara khusus mengarahkan setiap orang untuk kembali merefleksikan dinamika sosialitasnya. Oleh sebab itu, Gereja perlu merevitalisasi kembali semangat hidup rukun antar sesama dan solidaritas sosial yang sementara dalam tahap degradasi. Gereja juga perlu merefleksikan kembali spiritualitas persaudaraan, yaitu persaudaraan yang universal yang saat ini telah tergerus oleh sikap individualisme, egoisme, dan pula sentimentalisme, yang berakibat pada ketidakharmonisan bersama. Mirisnya lagi bahwa di tengah pandemi covid-19 masih terdapat pula aksi-aksi ketidakpedulian sosial, acuh tak acuh dengan sesama yang menderita, saling menyebarkan ujaran-ujaran kebencian antar sesama, bahkan saling menghakimi di antara sesama manusia. Situasi sosial ini tak dapat disangkal. Itulah realitas manusia dewasa ini. Terciptanya problematika sosial ini diprakarsai oleh sikap diri yang cenderung egoistik-individualistik. Terperangkap dalam spirit eksklusivitas ini menghantar setiap pribadi untuk bersikap tidak saling peduli, solider, dan toleran dengan sesamanya.

Fenomena asosial yang terus terjadi ini merupakan bagian dari tanda duka dan kecemasan para murid Kristus. Sehingga sudah merupakan suatu keharusan bagi Gereja untuk menyuarakan kembali semangat persekutuan dan persaudaraan yang universal. Gereja sebagai sakramen yaitu tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia, harus menyatakan dirinya dalam dinamika sosialitas manusia hari ini untuk menciptakan dan menghidupkan kembali semangat persatuan dan persaudaraan antar sesama dalam perjalanan menuju kesatuan dengan Allah. Gereja dalam hal ini hendaknya memampukan setiap pribadi untuk menumbuh-kembangkan sikap hormat terhadap manusia, dan wajib memandang sesamanya sebagai dirinya sendiri.

Dengan demikian, manusia perlu bertobat dari sikap yang cenderung eksklusif untuk semakin terbuka dan melihat sesama sebagai saudaranya. Aktus pertobatan yang berciri horizontal ini sejatinya pula merujuk pada aktus tobat dari pelbagai praktik ketidakadilan, intoleran, sinisme, penyebaran ujaran kebencian dan pelbagai praktik asosial yang kerapkali terjadi dalam relasi sosialitas manusia saat ini. Pertobatan inilah yang lazimnya disebut pertobatan metanoia.

Kasih dalam aktus Metanoia: Dasar Persaudaraan

Pertobatan metanoia (terdiri dari kata “meta” yang berarti “dengan, atau setelah”, dan kata “noieo”, artinya saya pikir) merujuk pada tindakan perubahan pikiran, cara dan pola hidup. Perubahan ini lebih dari sekedar mengadopsi suatu sikap, filosofi, atau cara hidup yang baru dan sejati, karena melibatkan perjumpaan dengan Allah. Pertobatan metanoia merupakan suatu panggilan untuk ber-duc in altum ke kedalaman hati setiap pribadi untuk menyadari kembali keberadaan dirinya di hadapan Allah. Bertobat secara metanoia adalah upaya untuk ‘pergi ke dalam hati dan mendengar suara hati’ untuk menemukan cahaya kebenaran dan kebaikan untuk menjadi spirit bagi setiap tindakan yang dilakukan. Pertobatan metanoia ini merupakan panggilan untuk berjumpa kembali dengan Allah.

Dalam perjumpaan dengan Allah, setiap pribadi dirahmati dengan kasih. Kasih inilah yang menjadi inspirasi bagi manusia untuk menaruh kepeduliannya terhadap sesama. Inilah bentuk kasih sosial dengan yang harus menjadi habitus manusia dewasa ini. Kasih yang tercipta dari pertobatan ini memampukan individu untuk keluar dari penjara egoismenya untuk bersolider dengan sesama, toleransi, dan saling menghormati martabat manusia. Kasihlah yang memungkinkan manusia untuk dapat berelasi dengan sesama. Kasih menjadikan sikap seseorang atau kelompok menjadi lebih inklusif. Kasih menjadi sumber persaudaraan yang universal. Santo Thomas Aquinas, pun menegaskan bahwa kasih itu menggerakan seseorang dari kedalaman dirinya untuk terarah kepada sesama.  Hal ini pula ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam Ensikliknya Fratelli Tutti, bahwa terciptanya persatuan dan persaudaraan universal hanya di saat setiap orang yang memiliki kasih mampu membuka diri dan keluar dari sikap hati yang egois.

 

Oleh sebab itu, momentum prapaskah ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan sikap hati yang cenderung egois, individualis, dan tertutup dengan sesama. Kesempatan Prapaskah ini menghantar setiap pribadi untuk saling membangun kembali dinamika komunikasi sosial, solidaritas, dan persaudaraan yang urgen dalam kebersamaan dengan sesama manusia. Sehingga apa yang menjadi pesan Paus Fransiskus pada masa Prapaskah tahun ini menjadi terealisasi, bahwa kesejatian dari pertobatan adalah sebagai bentuk panggilan untuk membantu kita baik sebagai komunitas maupun sebagai individu untuk menghidupkan kembali iman yang akan datang dari Kristus yang hidup, pengharapan yang diilhami oleh nafas Roh Kudus, dan cinta yang mengalir dari hati Bapa yang penuh belas kasihan. Dengan iman, haparan, dan cinta inilah, cita-cita persaudaraan dan persatuan hidup bersama menjadi riil.

Kita perlu bertobat dari cara hidup, cara berpikir, dan cara bertindak kita selama ini yang cenderung untuk mengeksklusifkan sesama, mengganggap sesama sebagai “musuh”.  Dengan rahmat kasih, kita dimampukan untuk memulai cara hidup yang baru terutama dalam membangun relasi yang baik dengan sesama. Kasih memampukan kita untuk bergerak keluar dari sikap hati yang egois menjadi solider denga sesama. Inilah aktus pertobatan kita yang sesungguhnya, “bertobat dari egoisme menjadi solider”. Kita perlu menghidupi prinsip tersebut untuk mencapai cita-cita bersama, yakni persaudaraan. 

Editor : Enos
 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed