oleh

Pengadaan Bibit Porang Tidak Transparan, Kades Cunca Wulang Enggan Berkomentar

Tanaman Porang. Foto Ist.

LABUAN BAJO, BARANEWS –Ketua Badan Permusyawatan Desa (BPD) Cunca Wulang, Mikael Mat menilai program pengadaan bibit Porang dari dana pemberdayaan masyarakat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Cunca Wulang 2021 tidak transparan.

Pada APBDes Cunca Wulang 2021 dialokasikan anggaran sebesar 136 Juta untuk membeli Porang.

Pemerintah Desa (Pemdes) Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, mengadakan bibit porang sebanyak 1.300 kilogram atau 1,3 ton dan akan dibagikan kepada 300 keluarga di Cunca Wulang.

“Dalam rapat Musrembangdes mengatakan bahwa pengadaan bibit Porang dalam APBDes yang artinya nanti untuk biaya pembersihan, pemagaran, pengobatan, dan lain-lain sebagainya. Karna di desa Cunca Wulang ini, semua KK memiliki Porang. Tibalah saatnya membagi Porang tanpa diketahui oleh BPD”, kata Mikael Mat saat ditemui Baranewsaceh.com, Senin (28/2/2022) dikediamannya.

Menurut Mikael harga satu kilogram Porang tersebut tidak sesuai dengan harga di pasaran.

“Harga 1 kilo porang ini senilai Rp 100.000. Lalu waktu itu saya bentak mereka (Pemdes-red), eh stop dulu stop. Porang yang bagaimana dulu bentuknya yang harga 100.000 per kilo. Sementara porang yang ada sekarang ini cuma 10.000/kilo. Untuk sementara kita bahas kembali ini, dan mereka (Pemdes-red) bilang tidak ada bahas kembali sekarang kita tinggal bagi saja”, jelasnya.

Dikatakannya, sebelum menyepakati program tersebut, pihaknya mengadakan pertemuan dan kemudian ia membahas tentang pengadaan bibit Porang tersebut.

Ketua BPD Cunca Wulang, Mikael Mat saat ditemui Baranewsaceh.com, Senin (28/2/2022) dikediamannya. Foto Rikardus Nompa.

“Warga dusun Watu Weri termasuk RT, RW ini mengadakan pertemuan. Lalu saya membahas tentang itu (pengadaan bibit Porang tidak transparan). Usulan warga waktu itu, kalau biji katak yang bagi mungkin-mungkin saja. Kalau umbi (Porang), berarti mereka ini mau korupsi diatas kita”, tambahnya.

Yang lebih miris lagi, Mikael menjelaskan sebelum diajukan APBDes perubahan anggaran yang digelontorkan untuk pengadaan bibit Porang senilai Rp 159 juta dengan target 1,3 ton.

“Anehnya berdasarkan data yang saya dapat anggaran pengadaan bibit Porang itu senilai 136 juta sementara dalam buku APBDes anggarannya senilai 159 juta, kemana yang lain uang itu”, jelasnya.

Terkait dengan penolakan dari masyarakat dirinya sangat mendukung karena proses penanaman bibit Porang itu dilaksanakan pada awal bula bulan November.

“Saya sangat mendukung penolakan dari masyarakat, Karna apa tanam umbi saat sekarang ini sama halnya tanam di lumpur. Mana jelas hidup nanti, yang ada malah lapuk dibawah nanti. Bibit Porang prosesnya itu tanaman yang paling pasnya diterakhir bulan November pada akhir tahun itu. Sekarang itu bukan musim tanam lagi, yang ada malah musim panen. Panen yang pertama sekarang itu biji kataknya sampai pada bulan Mei, bulan Juni sudah bisa gali dia punya umbinya”, tambahnya.

Ia pun berharap kepada pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah kabupaten Manggarai Barat agar menindak tegas terhadap kepala desa Cunca Wulang.

“Saya berharap agar pemerintah daerah perhatikan persoalan di desa kami ini, kalau bisa harus menindak tegas terhadap pemerintah desa yang menerbitkan aturan semau gue, dan inikan uang diperuntukan ke masyarakat tetapi mereka kelola untuk makan sendiri saja”, harapnya.

Sementara Kepala Desa Cunca Wulang, Silvester Sendi ditemani Sekdes Cunca Wulang, Petrus Selis saat ditemui Baranewsaceh.com dikediamannya Senin malam belum bersedia diwawancara. Keduanya bersedia diwawancara pada Rabu (2/3/2022) mendatang, saat pertemuan tingkat desa bersama jajaran perangkat desa dan masyarakat. [RN]

Connects once per page in :

Jangan Lewatkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.