oleh

Merintis Usaha Tambak Ikan Nila, Mimpi Besar Guru Honorer di Desa Golo Pongkor Kian Nambah

Thomas E. Sembol (Foto SWIMB) Guru komite pada SMAN 4 Kenari, Desa Warloka, Kec. Komodo, Manggarai Barat-NTT.

LABUAN BAJO- Di bawah payungan langit yang menyengat, Serikat Wartawan Independen Manggarai Barat (SWIMB) menjejak langkah ke Poros Selatan Kota Labuan Bajo.

Agenda akhir pekan SWIMB menjadi jejak petualangan yang menggembirakan, yang sudah terjawadwalkan sebelumnya bersama senior hebat kakanda Robert Perkasa.

Langkah petualangan SWIMB tergerak hati mulai dari keberadaan pasar desa Nggorang kini belum diresmikan oleh pemprov hingga beberapa persoalan sosial yang ada di sepanjang hamparan selatan kota super premium.

Sejanak santai teman-teman SWIMB dikampung Roang, ada cerita menarik yang dibagi penduduk setempat terkait keberadaan kolam ikan nila yang jarang diketahui publik.

Kampung Roang Desa Golo Pongkor, Kec. Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, jejak SWIMB terrekam indah pada Minggu (2/8) pukul 10.00 Wita.

Di desa itu, SWIMB bertemu dengan seorang warga, yang baru mulai merintis usaha budidaya ikan nila. Thomas E. Sembol namanya. Guru komite pada SMAN 4 Kenari, Desa Warloka, Kec. Komodo, Manggarai Barat itu mengaku, bahwa dia mulai merintis usaha ini sejak pandemik covid-19 memaksa warga bekerja dari rumah. Sekitar, pertengahan Maret 2020.

Thomas E. Sembol (Foto SWIMB) Guru komite pada SMAN 4 Kenari, Desa Warloka, Kec. Komodo, Manggarai Barat-NTT.

“Ide membuka usaha tambak ikan ini, hadir saat saya duduk kerja dari rumah. Saya nekat membuat bak ikan dengan ukuran 2m × 4m. Tambak ikan pertama”, terangnya.

Awalnya, pembuatan tambak ikan nila itu merupakan sebuah upaya mengisi waktu luang saat terperangkap dalam situasi pandemik covid-19. Sebuah desakan untuk memuaskan hasrat hobi dan kesenangan semata.

Namun kemudian, walau belum memanen, dia mengaku mulai serius membudidaya ikan nila itu. Keseriusan itu, akunya bertolak dari fakta kebutuhan ikan tambak di Labuan Bajo kedepannya. Labuan Bajo yang kini tengah dipercantik menjadi wilayah super premium, bukan tidak mungkin kelak akan membutuhkan ikan tambak.

Keseriusan itu dia buktikan dengan menambah konstruksi dua bak ikan lainnya dengan ukuran masing-masing 2m × 5m dan 2m× 4m. Asanya, jumlah tambak ikan itu akan terus bertambah memenuhi lahan yang berukuran kurang lebih 5m × 20-an m. Sebab hasratnya, kelak bisa menjadi salah satu pelaku usaha yang bisa memasok ikan tambak ke tempat yang membutuhkan, di Labuan Bajo.

“Saya mulai serius dengan usaha ini”, katanya.

Terpantau SWIMB, dari tiga bak tersebut, hanya dua yang terisi ikan. Sementara satu bak lainnya belum terisi. Itu karena, sebagaimana pengakuannya belum mempunyai modal yang tercukupi.

“Untuk dua bak ini, saya sudah habiskan modal sekitar Rp. 350.000 untuk mendatangkan 350 anakan ikan. Sementara, untuk pembangunan tiga bak itu, saya habiskan biaya kurang lebih Rp. 2.000.000”, jelasnya.

Menariknya, pria berusia 31 tahun ini mempunyai konsep besar untuk membangun, bukan hanya sebatas tambak ikan, tetapi juga memoles tempat sekitar tambak itu, untuk terlihat cantik dan seksi. Artinya, dia mau menyulap tambak ikan itu, agar kelak menjadi tempat rekreasi keluarga pada akhir pekan. Semacam, green tourism, tempat wisata yang menampakan kehijauan.

Konsep besar si pria mileneal ini memang tampak belum maksimal, karena tertatih pada modal dan media penyediaan air. Perihal modal, Tomy, sebagaimana akrab disapa, mengharapkan agar pemerintah bisa menyediakan bibit ikan. Sementara, terkait media penyaluran air, dia berharap pemerintah bisa menyediakan pipa untuk mengalirkan air dari sumbernya, yakni dari bendungan Wae Dongkong, Desa Golo Pongkor, Kec. Komodo, Manggarai Barat.

“Sekarang, saya memasok air sisa dari persawahan warga. Juga untuk modal, saya nekat menggunakan modal sendiri selama ini”, akunya.

Terkait pinta dukungan pemerintah, dia mengakui memang belum mengkomunikasikan harapan dan konsep itu pada pemerintah; pada pemerintah desa misalnya. Karena itu, sejauh ini usaha dan konsepnya ini belum diketahui oleh pemerintah.

Sejauh ini, dia pun masih berjalan sendiri. Dia bergelut sendiri untuk mewujudkan konsep mengawinkan tambak ikan dan green tourism itu. Walaupun belum mendapat dukungan dan sokongan pemerintah, dia masih tetap berusaha untuk merealisasikan konsep besarnya itu.

Terpantau SWIMB, konsep mengawinkan konstruksi tambak ikan dan green tourism di tempat itu sangat pantas. Sebab, lokus pembangunan tambak ikan dan green tourism itu tepat berada di tengah hamparan sawah warga Roang, Desa Golo Pongkor, Kec. Komodo, Manggarai Barat. Tambah lagi, tempat itu mudah dijangkau. Posisinya berada tidak jauh dari jalur poros Selatan.

Walaupun belum dipercantik secara maksimal, nuansa romantika dan eksotismenya sudah mulai terpancar. SWIMB yang mengunjung di tengah teriknya matahari, menemukan kesejukan di sana. SWIMB seakan dijamu dengan hawa sejuk. Semilir angin yang berhembus dari hamparan padi yang masih menghijau, seakan menyambut dan memeluk raga, mengalirkan kesejukan ke dalam pori-pori. Tenggorokan kering karena kehausan, disegarkan dengan air kelapa, yang pohon berdiri tegak di pinggir tambak ikan. Beberapa pohon kelapa itu, tingginya tidak seberapa, kurang lebih 3 m.

Dengan kenaturalannya yang demikian, sensasi eksotisme di sana sudah mulai terpancar. Apalagi, jika tempat itu sudah dipercantik maksimal. Paling tidak, sebagaimana kata Tomy, tempatnya itu bisa menjadi wisata kuliner. Orang bisa bertamasyah sambil mancing dan membakar ikan. Mereka bisa bercerita dan beromantika sambil menikmati hamparan sawah warga. Sebab, sekali lagi, tempat itu tepat berada dalam pelukan sawah warga Roang, desa Golo Pongkor, Kec. Komodo, Manggarai Barat.

Setidaknya, dari kisah ini pemerintah bisa memperhatikan dan menyokong para perintis usaha kontruktif seperti ini. Para perintis ini mesti disupport dengan berbagai fasilitas pendukung. Atau dengan kata lain, pemerintah seyoginya menfasilitasi perintis usaha seperti ini.

Jangan biarkan mereka bating-tulang bergerak sendiri. Sokonglah kreatifitas mereka. Pemerintah jangan hanya sibuk mengembangkan pariwisata super premium. Jangan hanya fokus melayani para korporat. Layani terlebih dahulu rakyat yang punya kreativitas seperti ini. (SWIMB)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed