oleh

Menulis Sebagai Teraphi Agar Akal Terap Sehat

Jacob Ereste :

Menulis itu bagi saya sungguh merupakan teraphis, agar daya ingat tetap prima, data pikir bisa terus terasah, emosional mampu dijaga dan kesehatan dapat dipelihara. Jadi kesannya sungguh luar biasa.

Untuk daya ingat yang prima saya maksudkan adalah berkaitan dengan gairah atau keterpaksaan untuk membaca ketika hendak menulis atau memaparkan suatu pandangan terhadap suatu obyek, termasuk jenis pemberitaan sekalipun.

Karenanya saya bisa menerima titipan tulisan untuk suatu obyek yang sifatnya tidak mengikat dari satu instansi atau media dalam bentuk laporan, atau sekedar pengamatan saya semata selama dalam suatu perjalan ke daerah misalnya.

Persiapan untuk menuliskan paparan saya itu, tentu saja sebelumnya sudah harus mulai membaca banyak hal, mulai dari upaya mencari bahan bacaan sandingan sampai kemungkinan pada banyak petunjuk yang sekiranya bisa membantu memperoleh bahan yang berkaitan dengan obyek yang hendak dibuatkan laporannya itu.

Biasanya, jika bahan acuan untuk tulisan itu sudah dianggap cukup, secara otomatik narasi tulisan untuk laporan itu bisa deras mengucur seperti air di pancuran, yang tak terbendung, atau semacam orgasme yang sempurna dan menimbulkan kepuasan tersendiri.

Jadi dengan cara itu, menulis laporan atau sejenisnya nyaris tidak ada rasa capek. Hingga fisik tubuh yang mulai renta ini yang menyerah kalah. Seperti mata yang tak cukup lama bisa membaca. Atau sergapan kantuk yang sudah menjadi kondrat bawaan usia renta.

Adapun daya pikir, saya kira sejak awal nawaitu untuk menulis tadi itu muncul, maka daya nalar yang dikomando oleh daya pikir secara otomatik langsung bekerja dengan memberi perintah dan petunjuk maupun bimbingan yang rasional untuk menyusun dan memformat tulisan atau laporan itu denga sebaik-baik mungkin dalam selera bahasa yang tertata dengan pilihan yang khas, sehingga laporan atau tulisan itu bernas, seperti punya nyawa sendiri, sehingga mampu membangun dialog yang baik dan enak dengan para pembaca.

Agaknya, seperti itu daya pikir dan akal sehat dapat terus terpelihara dangan baik, selama kesadaran untuk menulis itu terus ada — dalam bentuk apapun termasuk berita yang acap dianggap remeh– sesungguhnya bisa menjadi teraphis bagi akal agar tetap sehat dan dapat terus terasah tajam — bila tak mungkin lagi untuk cerdas — daya analisis dan kemampuanya.

Budaya menulis bagi saya terlanjur menjadi bagian dari upaya teraphi yang sehat untuk ikut menjaga emosi agar tetap seimbang dan terkendali. Jadi sungguh bukan omong kosong. Toh, setiap orang bisa langsung membuktikannya sendiri dengan cara mencoba menulis tentang sesuatu yang bermanfaat untuk dibaca oleh orang lain, tak kecuali sekedar berita atau cerita misalnya, bisa dicoba.

Meski bisa saja duantaranya tidak sedikit diantara berita yang ditulis itu tak memenuhi dasar-dasar standar minomal jurnalistik atau bahkan menjadi sangat overdosis hingga menjadi semacam obat yang malih menjadi racun.

Ikhwal emosional dalam aktivitas dan kegiatan menulis memang akan terjadi dengan sendirinya, karena dalam proses menulis itu sendiri nada dan irama menulis yang terbilang kreatif itu harus harmoni dengan emosi yang memilki porsi tersendiri. Seperti masakan gulai kakap kepala ikan, jangan pernah dikira pasti sedap bkla santen, garem hingga aroma dan rasa pedasnya yang harus harmoni itu tidak sepadan. Karena yang satu tak bisa melebih yang lain, seperti cita rasa yang harus sinkron dengan selera orang lain yang diharap senang untuk melahapny a dan mau menjadi pelanggan tetap.

Jadi menulis itu pun seperti seni menata menu di Warung Tegal. Tak boleh sembrono. Sebab pelanggan — pembaca tulisan kita — pun punya selera yang tidak diperkosa, karena dipaksa harus ikut selera kita. Tentu saja tidak.

Begitulah sekedar pembuka acara diskusi kita dalam acara yang kata panitia pelaksana acara ini adalah pelatihan jurnalis terpakai. Karena itu juga sebagai upaya untuk menghormati panitia dan etika diskusi, paparan dari saya telab diupayakan terkirim, sebab kehadiran saya dapat dipastikan terlambat. Kurang da lebihnya, biarlah menjadi bagian dari materi diskusi kita saat tatap muka nanti berlangsung.

Banten, 17 September 2021

Paparan ini sekedar untuk pegantar diskusi pelatihan jurnalistik terpakai yang diselenggaragan Komunitas Buruh Indonesia kerja sama dengan Atlantika Institut Nusantara sehari di Tangerang, Banten, 19 September 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed