oleh

“Manusia Penyendiri” Ibnu Bajjah Dan Kaitannya Dengan Politik Dan Akhlak”

 

Sumber Gambar: https://tebuireng.online/mengenal-ibnu-bajjah-seorang-filsuf-muslim/

Definisi pemimpin hari ini bisa kita kenal jauh lebih universal, tak sebatas pemerintah atau pejabat. Dr. Kartini Kartono dalam bukunya “Pemimpin dan Kepemimpinan” mendefinisikan pemimpin adalah seorang individu yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan-kelebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan. Didalam kitab Ta’lim Muta’alim dijelaskan tentang pentingnya ilmu, bahwa barang yang berharga bagi seorang mukmin adalah hikmah ilmu, darimanapun sumbernya, sesuatu yang baik dan bermanfaat diambil dan sesuatu yang tidak bermanfaat ditinggalkan.

Ilmu merupakan anugerah pemberian yang merupakan suatu kelebihan bagi mereka yang mau memanfaatkannya dan menjadikannya untuk membawa kebaikan bagi umat manusia. Seorang pemilik ilmu tentunya memiliki kecakapan dibidangnya dengan syarat terus melatih dan mengulang apa yang telah dipelajari. Malas, bosan dan tidak konsisten tentunya akan menghambat sampainya hikmah ilmu. Maka benarlah apa yang sering terdengar didalam ajaran islam, bahwa tiap manusia adalah khalifah diatas bumi. Khalifah yang membawa kebaikan dan menunjuki arah kebenaran untuk sampai pada tujuan.

Peran Ibnu Bajjah tidak terlepas dari perkembangan dan perluasan ilmu pengetahuan yang membawa sumbangsih pengetahuan besar dan penting bagi dunia Islam. Melihat dinamika politik serta etika pemerintahan saat ini hal yang patut diimplementasikan dari beberapa hasil pemikiran Ibn Bajjah oleh para petinggi negara hari ini. Memiliki nama asli Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya al-Sha’igh yang berasal dari keluarga Al-Tujib karena itu ia dikenal sebagai Al-Tujibi yang bekerja sebagai pedagang emas (Bajah=emas). Dikenal dengan sebutan Avempace dalam dunia Barat. Ia lahir pada era menjelang Andalusia runtuh, pada abad sekitar 11 Masehi atau abad V Hijriah dan besar di kota Zaragoza, Spanyol. Jenjang akademisnya diselesaikan pula di kota Zaragoza sehingga ketika pergi menuju Granada, ia telah menamatkan sarjana bahasa dan sastra Arab dan menguasai 12 macam ilmu pengetahuan.

Keaktifannya dalam dunia politik sempat menjadikannya seorang wazir atau menteri yang diangkat ketika masa Gubernur Zaragoza Daulat al-Murabith, Abu Bakar ibn Ibrahim al-Sahrawi. Tetapi kemudian tahun 512 H/1118 M Zaragoza diambil alih oleh Raja Alfonso I pemimpin wilayah Aragon, dari Sevilla kemudian ia pindah ke Granada. Dalam perhentiannya di Syatibah, ia sempat ditangkap oleh karena tuduhan bid’ah, tetapi segera setelahnya Ibn Bajjah dilepaskan. Setelah bebas, ia melanjutkan perjalanan ke Fez (Maroko) di Afrika Utara. Disana ia menjadi pejabat tinggi karena kemampuan dalam pemahaman dan pengetahuannya.

Konsep pemikiran filsafatnya yang terkenal dalam karyanya yaitu “manusia penyendiri (Al-Insan Al-Munfarid” dalam kitab “Tadbirul Mutawahhid” berkaitan erat dengan akhlak dan politik mengandung usaha-usaha seseorang menjauhkan diri dari segala bentuk keburukan dalam negara dan bernegara. Tadbir merupakan lafal dari bahasa Arab, definisi atau pengertian dari lafal tersebut cukup banyak, namun yang diinginkan oleh Ibn Bajjah ialah aturan yang sempurna, mengatur perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan pengertian lafal tadbir tersebut, maka lafal tersebut tentu khusus ditujukan bagi manusia. Sebab pengertian itu hanya dapat dilakukan dengan perantaraan akal, sedangkan akal  hanya terdapat pada manusia. Dan juga perbuatan manusia  berdasarkan ikhtiar.

Ibn Bajjah membagi perbuatan manusia kepada dua bagian, pertama motif naluri dan kedua perbuatan dari pemikiran yang lurus yang memiliki kemauan bersih dan tinggi. Perbedaan  terletak pada motifnya. Ibnu Bajjah memberikan contoh seseorang yang terantuk batu, kemudian terluka, lalu ia melemparkan batu tersebut. Bila kehendak melempar tersebut didorong oleh pikiran karena telah melukainya, maka perbuatan tersebut karena naluri hewani yang dilakukan untuk memusnahkan hal yang mengganggunya.

Berbeda dengan tujuan melemparkan batu atau memindahkan batu tersebut agar tidak menganggu orang lain, maka perbuatan tersebut adalah tindakan kemanusiaan. Pekerjaan inilah yang disebut dengan akhlak. Bagi Ibn Bajjah, orang yang bekerja atau melakukan perbuatan berdasarkan dibawah pengaruh dan kendali pikirannya lah yang sudah melaksanakan segi kemanusiaannya. Ini menjadi tanda seseorang mampu menundukkan segi hewaninya dan meninggikan segi kemanusiaannya dan menjadikan manusia dengan tidak berkekurangan, karena kekurangan tersebut berasal dari ketundukkan terhadap naluri.

Keutamaan bagi jiwa manusia yang dapat memundurkan hasrat jiwa hewani yang selalu menentangnya. Perbuatan itulah yang diharapkan Ibn Bajjah bagi tatanan masyarakat bernegara. Yaitu tindakan manusiawi yang mengarah pada tujuan esensi yang kekal, disinilah pula kita dapat mengambil kesimpulan bahwa segala perbuatan atau tindakan manusia tergantung niat yang sejalan dengan hadist yang terdapat didalam kitab Majalis Tsutsaniyah bahwa segala sesuatu diawali dengan niat.

Dalam hal politik, ia memberi sumbangan pemikiran tentang teori pemerintahan. Pandangan politiknya berkaitan dengan pemikiran Al-Farabi yang sama-sama mementingkan etika dalam berpolitik. Dalam buku Ara’ Ahl alMadinat al-Fadhilat, Ibn Bajjah membagi negara utama atau negara sempurna (Al-Madinah Al-Fadhilah) dan negara tidak sempurna seperti negara fasiq, jahil dan lainnya.

Tentang hak-hak lainnya dalam suatu negara, ia juga mengemukakan pemikiran tentang persyaratan kepala negara dan tugas-tugasnya selain mengatur negara, juga pengajar dan pendidik yang sependapat dengan Al-Farabi. Titik tekan perbedaan ada pada kepala negara (Al-Farabi) dan warga negara (Ibn Bajjah) dimana bagi Ibn Bajjah negara dikatakan sempurna bila warga negara didalamnya terpenuhi hajatnya yang utama yaitu kesehatan dan keadilan. Negara juga dikatakan sempurna bila individu telah mencapai kesadaran sempurna, hidup dalam kasih sayang, saling menghormati, terhindar dari perselisihan dan seluruh komponen negara memiliki kesadaran untuk mematuhi aturan dan undang-undang.

Inti pemikiran Ibn Bajjah dari konsep “Manusia Penyendiri” dalam kehidupan perpolitikan adalah tindakan atau sikap menyendiri mengambil jalan kehidupan didalam negara yang tidak sempurna yang membawa kebahagiaan bagi mereka yang sadar dengan terus membentuk kesadaran kepada yang belum memiliki kesadaran. Ini untuk mencapai kesempurnaan Al-Fadhilah yang dimaksud. Bahwa Ibnu Bajjah ingin menyempurnakan makna kesempurnaan dari Al-Madinah Al-Fadhilah yang dimaksud Al-Farabi menjadi benar-benar sempurna Al-Fadhilah (kelebihan).

Maksudnya Al-Madinah (Kota) terbebas dari unsur-unsur kekurangan untuk mencapai Al-Fadhilah, bebas dari keredupan, bebas dari sebutan kota kegelapan sehingga Al-Madinah kembali terang dengan Al-Fadhilah (kelebihan). Al-Madinah Al-Fadhilah bebas dari nawabit (sempalan) yang dimaksud Al-Farabi, karena bila masih terdapat nawabit (sempalan), seiring waktu tetap akan menggeser Al-Madinah Al-Fadhilah menjadi Al-Madinah Ghair Al-Fadhilah. Seluruh masyarakat bersatu dan tergabung dalam unsur yang mulia untuk membentuk kesempurnaan Al-Madinah Al-Fadhilah.

Kata Mutawahhid dalam kitab “Tadbirul Mutawahhid” bukan dimaksud sebagai perilaku menjauhkan diri secara total karena manusia memiliki kebutuhan berhubungan dengan manusia lain untuk hidup bersama, namun dimaksud ialah harus meninggalkan perbuatan-perbuatan tercela dan mampu menahan diri, agar seseorang tidak terperangkap dalam perbuatan buruk masyarakat. Inilah yang dimaksud dengan tindakan manusiawi dan uzlah falsafi. Sebuah tindakan yang mengantarkan pada kebahagiaan.

Oleh: Rafika Zhalila, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Syiah Kuala

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed