oleh

LAGI-LAGI: Sopir Mobil Ikan Asal Sikka Dipukul Petugas Covid-19 di Paubuku-Ngada

MAUMERE- Nasib sial kembali dialami Benediktus Anang, sopir mobil ikan asal Sikka. Ia dipukul oleh petugas Covid-19 yakni oknum Satpol PP dan oknum polisi di pos jaga Paubuku, Ngada, Minggu (31/05/2020).

Ia dan mobil ikannya tidak diijinkan masuk ke wilayah Kabupaten Ngada. Mirisnya, ia dipukul di hadapan oknum polisi yang bertugas di posko tersebut.

Anong menjelaskan kepada beberapa awak media, saat itu ia hendak mengantarkan ikan ke Ruteng. Lantaran tidak diijinkan lewat, Ia harus menyalin muatan ikan ke mobil lokal setempat.

Usai itu, ia hendak membuat video dengan handphone . Saat sedang membuat video, ada seorang anggota polisi di pos jaga tersebut memanggilnya lalu menanyakan kenapa dirinya membuat video.

“Saya buat video sebagai bukti supaya saya lapor ke Dinas Perhubungan Sikka. Sebab selama ini mobil ikan asal Sikka dilarang melintas,” jelasnya.

Ia menambahkan, tiba-tiba datang seorang oknum Pol PP langsung memukulnya di pelipis kiri. Tak lama berselang datang seorang oknum polisi lalu memukulnya di tengkuk sebanyak dua kali.

Usai dipukul, Anong mengaku dirinya dibawa menggunakan mobil ambulance ke salah satu kantor pemerintah oleh satu anggota Satpol PP, seorang polisi dan seorang petugas kesehatan.

Disitu ia diinterogasi perihal dirinya membuat video. Usai diinterogasi, videonya kemudian dihapus. Setelah itu ia disuruh pulang.

“Saya akhirnya pulang naik ojek. Saya heran, kenapa saya dipukul?. Salah saya apa?. Kami masyarakat kecil hanya mau cari hidup,” jelasnya.

Kejadian yang dialami Benediktus Anang bukan yang pertama kali. Sebelumya Raymundus Moat Thomas, juga mengalami tindak kekerasan serupa.

Saat itu ia bersama rekan sopir mobil ikan lainnya ditahan oleh petugas jaga di pos tersebut dan disuruh kembali.

Saat itu ia hendak mengambil foto dengan handphone. Namun entah alasan apa ia ditendang oleh salah satu oknum petugas lantas.

“Handphone saya kemudian diambil, foto yang saya ambil tadi kemudian dihapus lalu saya disuruh push up. Saya tidak mau tetapi saya ditendang di kaki,” jelasnya.

Sopir lainnya, Lambertus Sino mengatakan, ia bingung dengan larangan melintas oleh petugas jaga di pos jaga Paubuku, Ngada.

Padahal, kata Lambertus, mereka telah mengantongi keterangan rapid test mandiri dari Dinas Kesehatan Sikka, Surat Jalan dari Dinas Perhubungan (Dishub) Sikka dan Kantor Dinas Perikanan Flores Timur-tempat mereka mengambil ikan.

“Kami sempat tanya alasanya kami tidak bisa lewat. Padahal semua dokumen yang kami bawah lengkap dan telah ditunjukan kepada petugas yang jaga di posko itu. Mereka tidak bisa menjelaskan kepada kami mengapa kami tidak boleh lewat,” jelasnya.

Anehnya lagi, kata Lambertus, mobil logistik lainnya dan mobil ayam potong diijinkan lewat.

Lantaran itu, kata Lambertus, mereka terpaksa menyalin muatan ke mobil lokal setempat untuk diteruskan kepada pelanggan dengan ongkos mobil Rp.750 ribu- 1 juta.

“Kenapa ada pembedaan terhadap mobil ikan asal Sikka?. Sedangkan mobil logistik lainnya dibiarkan lewat,” tandasnya.

Sekretaris Dishub Sikka, Verdinando Lepe, dikonformasi menjelaskan, dirinya sudah berkoordinasi dengan Dishub kabupaten Ngada.

“Sudah koordinasi berulang kali. Dan Dishub Ngada sudah sampaikan bahwa tidak ada larangan untuk mobil logistik. Namun kejadian ini terulang lagi dan tetap ada pelarangan di Pos Paubuku,” jelasnya. (VT/Rikardus Nompa).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed