oleh

Kondisi Pembangunan Jalan Bokong Lelogama di Nilai Tidak Sesuai Dengan Standar Operasional Pembangunan (SOP)

BARANEWS INDONESIA – LELOGAMA – Proyek trans Bokong Lelogama sepanjang 40 Km, sesuai dengan pantauan awak media Senin, 1 Juni 2020 kami menilai bahwa pembangunan jalan Bokong- Lelogama tidak sesuai dengan standar operasional prosedur pembangunan yang ada.

Yang mana masa kontrak selama 210 hari tidak dimaksimalkan secara baik oleh PT yang memenangkan tender proyek trans Bokong Lelogama sepanjang 40 Km itu. menemukan beberapa titik terutama Segmen satu dan Segmen dua masih sekitar 60% saluran air dan tembok penahan dari jalan tersebut sudah tidak kerjakan lagi. Di beberapa titik juga sudah mulai terkikis oleh sisa air hujan di akhir tahun ini.

Hal ini dibenarkan juga oleh salah satu Anggota DPRD Kabupaten Kupang yang kami hubungi melalui saluran telepon mengatakan bahwa memang untuk Segmen satu dan dua sudah tidak melanjutkan lagi pekerjaan tersebut. Ia berharap agar semua pihak bisa terlibat dalam mengawasi setiap pembangunan yang ada di kabupaten Kupang.

Lebih lanjut Jan Windi sebagai salah satu anggota DPRD provinsi NTT asal kabupaten Kupang, yang kami hubungi melalui saluran telepon mengatakan bahwa proyek trans Bokong Lelogama masih menjadi tanggung jawab dari pihak ketiga sebagai pemenang tender karena ini masih dalam masa pemeliharaan dan ia juga meminta agar pihak hukum juga terlibat dan melihat ini sebagai suatu permasalahan yang harus segera diatasi.

layah strategis yang menjadi program prioritas dari Pemerintah provinsi NTT dan personal ini harus menjadi perhatian serius dari pemerintah dan juga penegak hukum, tegas Anggota Fraksi partai Gerindra tersebut.

Lebih lanjut Ia menegaskan bahwa pihak ketiga harus bertanggung jawab atas proyek ini, jangan beralasan bahwa proyek ini terhambat akibat wabah Covid-19. Karena ini dikerjakan lebih awal sebelum ada wabah Corona, tegasnya.

“Harapannya agar kedepannya proyek apapun pihak ketiga yang ingin terlihat dalam suatu proyek pembangunan harus benar-benar siap dan real, baik itu kesiapan modal maupun tenaga kerja. Dan apabila kesiapannya kurang maksimal sebaiknya mundur karena masih banyak pihak ketiga yang lebih siap untuk terlibat dalam suatu proyek pembangunan”, tutupnya. ( Yoseph Fobia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed