oleh

Kisah Danru Tim Kejar Operasi Tinombala Tertembak di Poso Hingga Kaki Kanannya Diamputasi

Bali. Menjadi seorang prajurit Bhayangkara yang siap ditugaskan kemana saja adalah sebuah kewajiban. Aipda Andrew Maha Putra, S.H. harus siap dengan penugasan yang ia terima dari atasan demi mempertahankan NKRI, Senin (18/11/19).

Saat bertugas di Satuan Brimob Polda Sulawesi Tengah (Sulteng), ia ditunjuk menjadi anggota Tim Kejar Satgas Operasi Tinombala bergabung dengan TNI untuk menangkap kelompok teroris pimpinan Ali Kalora di Poso.

Menjadi anggota Satgas pengamanan bukanlah tugas yang ringan. Ia pun menjadi korban penembakan oleh kelompok Ali Kalora di perbukitan wilayah Salubose, Sausu, Sulteng pada 31 Desember 2018.

Akibat tembakan tersebut, Aipda Andrew Maha Putra, S.H. yang saat ini bertugas di Poliklinik Biddokkes Polda Bali harus kehilangan kaki kanannya setelah diamputasi.

Saat ditemui, Aipda Andrew Maha Putra menceritakan pengalaman hidupnya sejak menjadi anggota Polri. Suami Ni Luh Maharini ini adalah anggota Brimob lulusan Diktukba Polri Gelombang I tahun 2005.

Usai mengikuti pendidikan di Watukosek Jawa Timur, pria asal Desa Banyuning Singaraja ini bertugas di Mako Korps Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Kemudian pada April 2006, Aipda Andrew pindah tugas menjadi anggota organik Sat Brimob Polda Sulteng dan ikut Operasi Tinombala.

“Saat tugas di Intelmob Satgas Operasi Tinombala, punggung dan kaki saya kena tembak,” ungkap Aipda Andrew di Polda Bali, Senin (18/11/19).

Dijelaskannya, peristiwa penembakan itu berawal dari informasi masyarakat yang melaporkan adanya penemuan kepala manusia tanpa badan pada Minggu (30/12/2018) sekitar pukul 14.00 Wita. Informasi tersebut kemudian dilaporkan ke Kasat Brimob Polda Sulteng, Kombes Pol. Susnadi, S.I.K.

“Saat itu Kasat Brimob memerintahkan kepada kami untuk memastikan kebenaran informasi tersebut,” imbuh anak pertama dari pasangan Alm. Kompol (Purn) I Gede Ngurah Sugandhi, S.H. dan Mince Lembang

Sesuai perintah Kasat Brimob, sekitar pukul 19.30 Wita, satu regu berjumlah 10 orang berangkat naik ke perbukitan  mengecek lokasi penemuan kepala dan melakukan penyisiran untuk mencari badan orang tersebut.

Pencarian yang dilakukan sampai larut malam akhirnya membuahkan hasil. Badan korban ditemukan di pinggir sungai tidak jauh dari lokasi penemuan kepala.

Selanjutnya pada Senin (31/12/18) sekitar pukul 07.00 Wita, tim turun kembali membawa mayat korban dengan menggunakan kendaraan. Saat kembali, Aipda Andrew selaku Komandan Regu (Danru) ditemani Briptu Baso berangkat lebih awal untuk mengecek situasi dan kondisi jalur untuk dilalui dengan mengendarai sepeda motor.

“Saat mengecek situasi itu, ditemukan ada kayu melintang di jalan. Saya bersama Briptu Baso menyingkirkan kayu tersebut agar tim yang membawa mayat bisa lewat. Baru mau melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ada 4 kali suara tembakan dari arah perbukitan” terang mantan Bintara Satbrimob Sulteng tersebut.

Penembakan yang terjadi sekitar pukul 08.00 Wita itu mengenai bagian punggung atas kiri Aipda Andrew. Meskipun darah mengalir ditubuhnya, ia masih sempat melakukan perlawanan. Melihat Briptu Baso kena tembak, Aipda Andrew berusaha memberikan pertolongan untuk menyelamatkannya.

“Nah saat memberikan pertolongan tersebut betis kaki kanan saya kena tembak. Berselang 30 menit, 8 orang anggota yang membawa mayat tiba dan langsung memberikan bantuan.” Jelas mantan anggota Tim Kejar Ops Tinombala itu.

Aipda Andrew dan Briptu Baso langsung dievakuasi ke mobil patroli. Sempat dibawa ke Puskesmas Sausu, tetapi karena kondisi luka yang cukup parah dan membutuhkan banyak kantong darah kemudian dirujuk RSD Parigi Moutong untuk mendapatkan pertolongan donor darah baik dari persediaan Rumah Sakit maupun dari anggota polres parigi serta donor darah dari leting seangkatan Aipda Andrew Leting ZLS STS Nusantara yang berada diparigi. Setelah itu, Aipda Andrew dibawa ke RS Bhayangkara Palu yang ditempuh selama 9 jam.

Tiba di RS Bhayangkara Palu, Aipda Andrew langsung mendapat penanganan medis oleh dokter.

“Sempat dirawat selama 5 hari di ICU, kondisi saya justru semakin memburuk dan akhirnya saya sendiri meminta untuk dirujuk ke RS Sanglah, Denpasar,” imbuh Aipda Andrew.

“Kenapa saya meminta dirujuk ke RS Sanglah? Bayangan saya waktu itu pasti akan mati. Kalau mati di RS Sanglah, setidaknya saya tidak menyusahkan keluarga. Syukur saya bisa melewati cobaan tersebut,” sambungnya.

Dokter di RS Sanglah menilai bahwa luka tembak di kaki Aipda Andrew sudah infeksi. Apabila tidak diamputasi akan menyebabkan kematian karena sudah tidak ada aliran darah ke kaki bagian bawah.

“Saya langsung shock dan sedih mendengar penjelasan dokter. Saat itu juga saya bersama keluarga memutuskan dan menyetujui dilakukan operasi amputasi di atas lutut tanggal 17 Januari 2019. Saya sudah dioperasi sebanyak 8 kali untuk mengangkat serpihan peluru,” tuturnya.

Semangat hidup Aipda Andrew datang dari istri dan ketiga anaknya, Putu Ayu Rania Putri (5), Made Ngurah Satya Putra (3) dan Ngurah Arya Wiguna (7 bulan). Ia tetap semangat melaksanakan tugas meskipun menggunakan kaki palsu.

“Saya berjalan harus pelan-pelan. Akibat kaki dipotong di atas lutut maka saya jalan harus menggunakan pinggul,” bebernya.

Ia mengaku bahwa kaki palsu yang digunakannya sangat tidak nyaman sehingga sering merasa nyeri. Rasa nyeri itu dirasakan setiap hari sehingga mengganggu waktu tidurnya.

“Saya berharap rasa sakit ini segera hilang. Saya juga mohon dukungan dan perhatian dari pimpinan agar lebih semangat melaksanakan tugas sehari-hari. Saya menjadi tulang punggung di keluarga, istri juga belum bekerja sejak saya pindah ke Bali,” tutup Leting Diktukba Brimob Angkatan 15.1 itu.

(ng/sw/hy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed