oleh

Gara-Gara Tidak Mengikuti Pertemuan PKH, Penerima Manfaat Bantuan Diblokir Oleh Pendamping

-HEADLINE, NTT-401.563 views

BARANEWS INDONESIA – TARUS (NTT), Program Keluarga Haparan (PKH) merupakan program perlindungan sosial yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Kriteria keluarga penerima manfaat PKH adalah salah satu syarat seperti ibu hamil/ menyusui, memiliki anak balita, anak sekolah dan keluarga lanjut usia 70 keatas.

Hasil penelusuran media baranews Sabtu, 23 Mei 2020 di Desa Mata Air Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang Prov NTT dari laporan warga atas nama Nonci Manu Haning dan Ester Haning  yang berdomisili di RT 25 RW 12 Dusun IV.

Nonci menyatakan, bantuan pkh yang yang selama ini dia terima untuk anaknya yang bersekolah sudah hampir setahun diblokir oleh petugas pendamping, katanya gara-gara tidak ikut sekali pertemuan. Padahal dalam pengakuannya bahwa dia tidak mendapatkan informasi dari ketua kelompok Kartini.

Nonci menuturkan 10 tahun yang lalu suaminya entah kemana perginya meninggalkan dia bersama dua orang anaknya yang masih kecil dan ia seorang diri untuk membesarkan mereka. Dia bekerja sebagai buruh rumah tangga yang ketika membutuhkan tenaganya baru dipanggil. Ia tinggal bersama kedua anaknya di bantaran sungai Manikin ketika musim hujan, banjir selalu masuk dalam rumahnya.

“ Ia berharap bantuan tersebut ada lagi agar anaknya biasa pakai  untuk memenuhi keperluan sekolahnya, apalagi disaat Pandemi Covid-19 untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun tidak cukup  apalagi anaknya belajar On Line dari rumah yang membutuhkan paket data, tuturnya.

Hal senada juga diungkap Ester Haning, bahwa dia punya 3 orang anak, diantara  satu balita dan dua anak sekolah tetapi hanya dapat bantuan satu orang saja. Padahal petugas pendamping yang menyuruhnya untuk memasukan data baru agar semua biasa dapat bantuan  tetapi sudah satu tahun tidak ada kejelasan, hanya 1 orang anak yang dapat bantuan tersebut.

Pendamping PKH Julius Tokan S.TrSos yang dihubungi terpisah lewat panggilan telepon menuturkan pada saat tidak berkomitmen untuk hadir dalam pertemuan itu, sebagai efak jera untuk menekan kehadiran untuk mendapat informasi dan pemutahiran data anak sekolahnya.

“ Bagaiamana petugas mengetahui kalau anak ini bersekolah tetapi ibunya tidak hadir. Sebab infomasi tentang anak sekolah harus dapat dari orang tuanya sendiri baru memverifikasi di sekolah hal tersebut yang mereka dapatkan di lapangan” kata Julius.

“Soal ibu Nonci yang punya 2 orang anak tersebut,  dia kasih efek jera dengan mengurangi 1 anak karena pemutahiran data, ibu dari kedua anak tersebut tidak hadir untuk melaporkan tentang anaknya sekolah sejauh mana, makanya menonaktifkan bantuan tersebut”, tutupnya. (ENOS TANU)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed