oleh

Demi Dapat Sinyal Untuk Belajar Daring, Siswa- Siswi di SMAN 4 Komodo Rela Ke Tengah Hutan

Meltidis Kristina Halum bersama teman-temannya (Foto Rikardus Nompa) Lokasi Hutan Jati Mbuhung 1, Selasa (4/8).

LABUAN BAJO- Sejumlah siswa-siswi di Desa Tiwu Nampar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat-NTT, terpaksa belajar online di tengah hutan. Hal ini dikarenakan sulitnya mendapatkan jaringan internet saat para siswa mengerjakan tugas sekolah.

Kebijakan pemerintah mengenai pembelajaran jarak jauh secara daring di tengah pandemi Covid-19, dirasa memberatkan bagi sejumlah siswa di SMAN 4 Komodo Kampung Kenari, Desa Warloka.

Pasalnya, mereka susah mendapatkan sinyal internet di rumah, bahkan belum masuk sinyal sama sekali, sehingga harus berjalan kaki menuju tengah hutan sejauh 500 meter hingga 1 kilometer dari kampung demi mendapatkan jaringan internet yang bagus.

Awak tergerak hati dengan informasi warga setempat melihat keberadaan hutan hutan jati yang ada dikampung Mbuhung tersebut jadikan tempat berburu jaringan internet tersebut.

Mau tidak mau, belajar di tengah hutan pun terpaksa dijalani oleh para siswi yang duduk di kelas XI SMAN 4 Komodo ini, agar dapat mengerjakan tugas sekolahnya, jelas Meltidis Kristina Halum program studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) saat ditemui awak Media Baranewaceh.co pada Selasa (4/8) pukul 11.00 Wita.

Meltidis Kristina Halum siswa kelas XI SMAN 4 Komodo, Program Studi IPS (Foto Rikardus Nompa) Lokasi Hutan Jati Mbuhung 1, Selasa (4/8).

Meltidis Kristina Halum siswa SMAN 4 Komodo dan teman-temannya berharap, Pandemi Covid-19 ini segera berakhir, agar bisa kembali belajar di sekolah secara normal dan kumpul bersama teman-teman yang lainnya seperti sebelum-sebelumnya.

Sementara itu, salah satu orangtua siswa, sistem pembelajaran jarak jauh secara daring telah menimbulkan sejumlah masalah baru, mulai dari sinyal internet, ketiadan listrik hingga biaya ekstra yang harus dikeluarkan oleh orang tua demi membelikan kuota internet untuk anaknya, apalagi akses kami ini jauh dari kota Labuan Bajo, ungkap TI (49) saat ditemui dikediamannya di Kampung Mbuhung 1.

Ketertinggal ini sudah dari dulu, pemerintah maupun pengawas yang masuk ke kampung kami hanya nonton saja, tambah TI (49).

Kekhwatiran kami sebagai orang tua disini, yaitu saat anak-anak kami sedang mencari sinyal. Ada apa-apa disana kita tidak tau, disinilah letak kesedihan itu. Apalagi saya punya anak gadis yang sedang sekolah, tuturnya.

Harapannya kami sebagai orang tua murid, Gubernur, Bupati, DPRD, dan lain-lainnya jangan tutup mata saja, disini kami seperti dijajah. Semoga dengan hadirnya orang media bisa membantu lanjutkan informasi ini, tutup TI (49).

Hal serupa yang ditemukan awak media di kampung Kaca, Dusun Mbuhung, Desa Tiwu Nampar. Siswi kelas XI SMAN 4 Komodo sedang mencari sinyal untuk mengerjakan tugas sekolahnya.

Wihelmina Melda mengambil program studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), mendapat banyak kendala saat sekolah daring diantaranya listrik tidak ada, sinyal tidak ada, persedian pulsa data juga disini tidak ada dan terpasa harus ke kampung tetangga atau kita langsung ke Labuan Bajo, jelasnya.

Wihelmina Melda siswi kelas XI SMAN 4 Komodo, Program Studi IPS ( Foto Rikardus Nompa) Lokasi hutan samping kampung Kaca,Dusun Mbuhung, Desa Tiwu Nampar.

Hambatan ini tidak menyurut semangat seorang Wihelmina Melda yang sedang duduk dibangku kelas XI SMAN 4 Komodo ini, saat berbagi dengan awak, pukul 11.41 Wita.

Tugas yang diberikan dari sekolah harus di kerjakan dan itu tuntutannya, hal ini tidak ada batasan yang ditentukan. Kapan pun itu asal tugasnya terkumpul, dan pihak guru tidak menekan hal tersebut tambahnya.

Harapan melihat keadaan ini, semoga pihak sekolah dan pemerintah Kabupaten Manggarai Barat jangan diam diri saja. Apalagi wilayah kami ini sering dikunjungi orang banyak dengan viralnya bukit teletubbies itu dan beberapa daerah lainnya, masa di sisi ini saja tidak bisa diatasi. Ditambah jarak ibukota Labuan Bajo dan kampung kami ini tidak jauh, tutup Wihelmina Melda. (Rikardus Nompa)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed