oleh

Budaya di Desa Fatusene, Ketika Seorang Dipanggil Kembali Kepangkuan Sang Pencipta

Kefamenanu – BARANEWS Indonesia. Budaya / Kebiasaan/ Ritual seseorang meninggal di Desa Fatusene Kecamatan Miomaffo Timur Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi NTT, wawancara dengan beberapa tokoh adat oleh Media BARANEWS Indonesia pada Sabtu,(15 Agustus 2020). Tahapan – tahapan sebagai berikut :

Tanda – tanda ketika seseorang dalam keadaan sakit dan keluarga sudah berusaha berobat tetapi kondisinya makin memburuk / parah. kebiasaannya keluarga dari yang sakit tersebut menghampiri / memberitahu kepada atoin amaf (nama jabatan yang dikenakan kepada orang tertentu berdasarkan garis keturunan) sehingga atoin amaf tahu bahwa yang sakit ini entah hidup atau meninggal, apabila tidak tau maka akan mendapat sangsi dari atoin amaf. Apabila yang sakit itu telah berpulang ke bapak di surga maka akan ada tahapan yang perlu dilewati untuk seseorang yang telah meninggal antara antara lain sebagai berikut :

– Koa Atoin Amaf
Kita pergi jemput atoin amaf di rumah / kediamannya dengan membawa sebuah botol sopi dan uang 1 keping uang perak dan setelah dia ( atoin amaf ) datang dan ia melakukan bahasa adatnya taksine (memberitahu bahwa maksud dan tujuan kita datang) dengan bahasa daerahnya naboin hauba te sek neki, ha nana fatuba ta hoa neki ( yang sakit ini sudah dipanggil Tuhan)

– Paenono
(merapatkan tangan dan kaki) atau tangan dan kaki tidak rapat berarti mengikat ibu jari kaki dan tangan untuk menggabungkan itu berarti atoin amaf mengetahui bahwa bersangkutan benar- sudah meninggal. setelah itu atoin amaf keluar dan keluarga dari almarhum menyiapakan satu botol sopi sebagai tanda bahwa cuci tangan setelah proses paenono tersebut. Sebelumnya tempat tidur yang diikat menggunakan tali dibuka dan disimpan ke lantai / tanah. Sehingga setelah dimakamkan esoknya tempat tidurnya ditegakan kembali.

– Teop Asu
Artinya atoin amaf menyiapkan sedikit benih padi, jagung dan seekor hewan sebagai simbol bahwa yang meninggal membawa bekal saat sudah pergi ke alamnya.
Istilah bahasa adatnya Haim binaelne te mui batnes akaha mui hin fin anes ,hin pena in bale mui hin ateus aleke artinya di alamnya dia bisa beternak dan bertani

– Sal Buuf
Artinya proses perdamaian / proses penghapusan dari perselisihan antara orang yang meninggal dengan atoin amaf yang ketika dia masih hidup ada buat sakit hati atau buat salah. Apabila dalam hidupnya ada perselisihan harus dibersihkan. Berarti proses perselisihan itu harus di hapuskan sehingga dia (almarhum) pergi kembali ke Sang Pencipta dengan hati yang bersih jika tidak dibersihkan maka bahasa adatnya Nontupmon ma laistoko artinya tidak selamat sampai pangkuan leluhur dan Sang Pencipta. Apabila atoin amaf merasa selama Almarhum hidup tidak menghormati atau mengenal atoin amaf maka akan diberikan sanksi oleh atoin amaf berupa satu botol sopi, seekor hewan dan sejumlah uang perak sesuai permintaan dari atoin amaf sesuai dengan kesalahannya.

Acara penguburan
– Sembelian/ Pemotongan Hewan dan Tasuki
Potong hewan dan kumpul beras dalam jumlah yang banyak untuk mempersiapkan makan bersama, jadi istilah adatnya Tasuki (Atoin amaf membaca bahasa adat dengan menyiapkan satu botol sopi dan siri pinang sebagai bentuk penyampaian kepada para leluhur agar membantu menjaga tempat penyimpanan daging dan beras. Artinya sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat agar jangan ada roh-roh jahat yang mengganggu tempat persediaan makanan sehingga pada saat perjamuan makan bersama persediaan makan yang telah dipersiapan tidak berkurang.

– Nekanelaf
Anak-anak datang berlutut di atoin amaf dengan tujuan memberikan penghormatan sekaligus memohon perhatian agar mengambil hati atoin amaf walaupun Bapak /mama sudah pergi tetapi mereka tetap ada. sehingga adanya nekanelaf ini membawa restu untuk anak –anak sehingga musibah yang dialami almarhum tidak menimpa anak -anak atau cucu yang ada. Dengan menyiapkan satu botol sopi dan satu uang logam perak yang di kasih ke atoin amaf sebagai tanda penghormatan dan itu berlaku untuk semua anak kandung dari almarhum.

Dilanjutkan dengan mulai mengemas barang-barang almarhum dengan jumlah angka genap seperti angka enam dan delapan yang menjadi barang kesukaan pada saat hidup, semuanya di masukan kedalam peti. Kemudian peti ditutup dan yang melakukan semua itu hanyalah atoin amaf. Sebelum beberapa saat peti mayat digotong keluar diikuti dengan acara tutu kubi yang dilakukan oleh atoin amaf uf (tertua) dengan menyiapkan sebuah tempurung kelapa dengan saling bertukar uang. Atoin am Uf memegang uang senilai Rp 50.000 dan anak-anak dari almarhum senilai Rp 150.000 dan itu merupakan hasil kesepakatan dari kedua belah pihak. Kemudian di keluarkan peti mayat ke depan tetapi masih ada satu acara yaitu memecahkan tempurung kelapa yang berisi sejumlah padi/jagung sebagai tanda membagi makanan dan alat makanan kedua belah pihak.

– Penghormatan terakhir kepada jenazah
Dilakukan oleh suami/istri kepada jenazah sebagai tanda ucapan terakhir dengan harapan ketika almarhum berada di alamnya mendapat tempat yang layak dan sebaliknya yang ditinggalkan mendapat kehidupan yang layak dan terhindar dari sakit penyakit dan selalu sehat-sehat. Kemudian dibawah ke tempat peristirahatan terakhir /pemakaman.

– Hala Natsel artinya ,tempat tidur yang dibongkar sebagai simbol keluarga berduka dan disimpan dilantai itu dilakuan ditahap painono

– Teut Hala artinya tempat tidur yang dibalik atau dibongkar itu diambil dan di tegakan kembali sebagai simbol dukacita menjadi sukacita (gembira) setelah satu hari almarhum di makamkan.

selama almarhum meninggal istri/suami dan anak-anak kandung tidak mandi, kotor sebagai tanda berkabung/berduka cita Esok harinya menjelang subuh,setelah atoin amaf kembali dan mengarahkan anak-anak untuk mandi ditempat pemandian artinya dari berkabung menjadi sukacita walaupun masih dalam suasana duka cita tetapi setelah berkabung anak-anak sudah bisa mandi seperti biasa. Sedangkan istri/Suami dari almarhum sudah diatur oleh orang tertentu yang memandikannya harus seorang janda/duda selama empat puluh hari.

Dilanjutkan dengan acara potong hewan sebagai tanda menegakan kembali tempat tidur (Teut Hala) kemudian melihat isi dari tempat siri pinang (Aulkosu) yang diisi beberapa benda dan uang peninggalan dari almarhum dan diambil, sebagian oleh atoin amaf dan sebagian dipakai untuk membeli sopi dan siri pinang untuk semua keluarga yang berada di tempat itu. Setelah semua rangkaian selesai maka seluruh keluarga dapat kembali kerumah masing- masing untuk menunggu syukuran 40 hari kembalinya almarhum ke pangkuan Bapa di Sorga.

Penulis : ENOS TANU
Narasumber : Petrus Taus, Lukas Fallo, Ruben Lete, Vinsensius fallo, Ignasius Taus

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed