oleh

Bantuan Sembako Dari Anggota DPR RI Untuk Masyarakat Desa Sunu Dibarter Dengan Kayu Api dan Uang Rp 10.000

BARANEWS. INDONESIA – SUNU- Tindakan tidak terpuji kembali dipertontonkan Aparat Desa Sunu, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur disaat Pemerintah, Swasta, LSM serta masyarakat bahu membahu mengatasi kesulitan yang dialami akibat serangan COVID-19.

Bantuan yang diberikan dengan tulus Anggota DPR RI Fraksi PKB Bapak  Eduard Tanur berupa paket sembako yang ditujukan kepada masyarakat Desa Sunu, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan Prov- NTT, yang tiap paketnya berisi beras 2 Kg dan 3 bungkus abon yang harus diterima secara gratis oleh masyarakat Desa Sunu, ternyata harus dibarter/ ditukar dengan seikat kayu kering/kayu bakar dan uang tunai Rp. 10.000,- bagi setiap masyarakat yang menerima bantuan tersebut.

Hal ini diungkap seorang  warga penerima bantuan tersebut kepada  Media baranews ini yaitu Lazarus Tefi menyatakan bahwa  ia menyayangkan sekaligus mempertanyakan, apakah memang ada aturan bila ada bantuan dari pemerintah/ lembaga, LSM, maupun perorangan harus ditebus dengan uang dan kayu api seperti ini? Jikalau bukan aturan tapi kebijakan di Desa karena alasan tertentu, tapi harus disepakati melalui rapat bersama Aparat Desa bersama BPD sebagai wakil masyarakat dan diketahui secara terbuka oleh masyarakat.

Lanjut  Lasarus Tefi , mewakili warga yang menerima bantuan tersebut mengatakan, Ia sempat mempertanyakan mengapa bantuan kepada masyarakat harus ditebus dengan uang dan kayu bakar,bukankah ini bantuan murni dari untuk masyarakat dan bukan pasar murah yang hanya bisa diperoleh dengan membayar sejumlah uang? jawaban yang didapat dari sekretaris desa bahwa bila tidak memberikan uang dan kayu api, maka selanjutnya anda tidak akan dapat bantuan lagi.

Hal yang sama diungkapkan Roby Tefa dan juga beberapa warga lainnya yang sudah menyerahkan uang tunai dan kayu bakar baru menerima bantuan sembako tersebut. Kepala Dusun dan Ketua RT di Desa Sunu untuk mewajibkan dan menagih uang dan kayu bakar dari masyarakat untuk diserahkan dan diantar ke rumahnya Sekretaris dengan alasan untuk menjemput tamu yang akan mengantarkan bantuan sembako ke Desa Sunu.

Bahkan menurut masyarakat Bantuan sembako dari Eduard Tanur, semula hendak diantar oleh Teamnya ke Desa Sunu untuk dibagikan kepada masyarakat secara gratis tanpa pungutan, diam diam dijemput oleh Sekretaris Desa di Oinlasi dari Team dan dibawa ke Desa, selanjutnya dibagikan kepada masyarakat pada tanggal 24 Mei 2020, bukan gratis tapi ada tebusan yang diatur sendiri  bahkan disinyalir ada kerja sama dengan ketua dan anggota  BPD.

“Pembagian sembako ini pun tidak merata, ada yang mendapat dengan paket lengkap dengan isi 2 Kg beras dan 3 bungkus Abon, ada pula yang hanya mendapatkan beras 2 Kg tanpa Abon,” ungkap Yuliana Kase.

Sekretaris Desa Sunu Ebenhezer Kamlasi yang dihubungi lewat telepon selulernya menyatakan bahwa benar ada uang dan kayu api karena untuk menjemput tim yang antar  bantuan  tersebut. tetapi  hanya sampai Desa Oinlasi karena hujan. Untuk menjemput barang bantuan itu untuk sampai di Sunu harus pakai oto dan motor untuk mengambil barang tersebut karena tidak ada biaya.

“ Uang dan kayu api itu bukan  pungutan tetapi itu kesepakatan dengan  dusun dan merupakan tradisi di desa Sunu untuk menjemput barang tersebut di Oinlasi dan tim relawan kumpul 200 ribu saja. Untuk pakai 4 motor tetapi setelah sampai di sebuah kali banjir karena hujan jadi motor tidak bisa lewat terpaksa pakai mobil travel dari Oinlasi sampai ke Netutnana saja dan pakai 6 motor sampai dikali tersebut dijemput relawan dengan 23 motor untuk jemput sampai ke Sunu  dan kayu api itu dipakai oleh relawan di posko  jaga untuk masak dan sebagian diambil tetangga terdekat  semua  saya transparan dan semua tau ” tegas Kamlasi. (Red)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed