oleh

Apakah Syarat “Perbuatan Tercela” Akan Berdiri Tegak di Ruang Sidang BAWASLU, DKPP, dan PTUN?

Jon Kadis, SH Pengamat Pilkada Manggarai Barat (Foto Ist)

Pencalonan Edistasius Endi (EE) sebagai Calon Bupati Manggarai Barat pada Pilkada 2020 terus menjadi sorotan dan pemberbincangan publik. Meskipun sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Manggarai Barat, Rabu (23/9/2020).

Publik kembali disuguhkan coretan singkat Pengamat Pilkada Manggarai Barat, Ia memberikan pandangan yang berbeda dengan situasi menuai pro dan kontra selama ini.

Sekedar case pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di Kabupaten Manggarai, jika dihubung-hubungkan, rata-rata punya kaitan keluarga. Ini karena perkawinan. Disadar itu terjadi karena kawasan ini begitu lama terisolasi dengan sesama di wilayah lain, di pulau lain. Sejak tahun 1980-an baru mulai berelasi luas dengan sesama di luar daerah, karena infrastruktur lalulintas darat laut udara mulai lancar.

Dengan semua paslon di Manggarai Barat ini, rata-rata hampir semua punya hubungan keluarga. Contohnya saya dengan Edi-Weng. Saya respek sama EE, orang muda cerdas dan berpengaruh. Di keluarga Lembor, hia koa gaku. Sedih, karena berbulan-bulan ia menjadi sorotan panas. Yah….,keluarga mohon agar dijagalah supaya dia tidak tercemar dalam proses yang agung ini yakni proses politik pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Saya sedikit menyesal jika dalam proses agung ini ia harus dipanggil polisi gara-gara sebagai korban “paslon ia tercemar” oleh laporan teman-teman timses, pendukung atau apalah. Yah, apa mau dikata, sudah basah. Lanjut sudah untuk yang ini. Saya hanya berdoa agar hukum ditegakkan dalam proses yang normal-normal saja.

Sebagai  teman-teman generasi usia saya dan sebagin besar generasi muda saat ini, benci dengan UU Pilkada dan PKPU-nya. Kenapa…..kok ada pasal-pasal yang bikin kesel lajunya demokrasi. Cukaminyak tah!

Mungkin, maaf, sekali lagi mungkin, KPUD sana dengan saya. Bedanya mereka bertugas di situ. Pencar nggerpeang si mosnter penghalang “Syarat perbuatan tercela ini”. Monggo Tuan-tuan/Ibu-ibu paslon, masuklah! Guabraak Stempel PENETAPAN, semua memenuhi syarat!

Tapi bro. Rupanya si Perbuatan Tercela akan bangkit berdiri di BAWASLU. Ia bangkit berdiri di DKPP. Apalagi ia bangkit tegar di ruang pengadilan TUN. Disana akan diputuskan,  keadilan berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa. Bukan keadilan berdasarkan Rupiah.

Karena itu marilah kita berteman, basodara biasa-biasa saja. Kita mo tahu seperti apa UU Pilkada itu di ruang diatas Tuan-tuan Komisioner KPUD Mabar.

Oleh karena itu saya, dengan segala kekurangan, mengapresiasi teman-teman praktisi hukum untuk berdinamika tentang ini. Semua. Saya bebas independen. Kebetulan dalam coretan sederhana ini, saya senantiasa bersama Pak Plasidus Asis Deornay.

Jika UU dan PKPU Pilkada ini adalah sebuah agama, maka keindependenan saya padanya adalah : IMAN. Iman pada “aturan agama ini”.

Di wilayah pariwisata super premium inilah, dunia luar melihat kesuperan iman pada hukum itu. So pasti mereka tidak ragu membawa dollar ke sini bro!

Ome manga salang bepeang jaong gaku situ eta sngaji, saya legowo dibilang ‘melakukan perbuatan tercela”

Kita ada di sini bukan untuk saling bersaing. Kita ada di sini untuk saling melengkapi. – Bill Mccartney.

Labuan Bajo, 28 September 2020

Jon Kadis, SH (Pengamat Pilkada Manggarai Barat)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed