oleh

Adat & Budaya Masyarakat Lampung Diambang Kepunahan (Bagian II)

Jacob Ereste

Pola hubungan antar manusia dalam adat istiadat kebiasaan bagi warga mayaramat Lampung selalu dijaga. Setidaknya tidak boleh ada sikap dan perbuatan yang boleh mengusik atau mengganggu kenyamanan dan ketenteraman orang lain. Di dalam lingkungan keluarga dan kerabat, yang lebih muda akan selalu memberi penghornatan yang patut seperti yang telah diberikan tuntunannya oleh adat istiadat setempat. Sedangkan yang tua akan senantiasa memberi contoh dan bimbingan sekakigus perlindungan yang diperlukan oleh mereka yang lebih muda. Oleh karena itu jika sampai ada perikaku yang menyimpang, baik dari mereka yang muda maupun dari mereka yang dituakan dalam tata aturan adat istiadat setempat, maka sikap dan sifat atau pun perilaku yang tidak sesuai dengan fuggsi dan kedudukan dari orang yang bersangkutan menjadi tercela atau bahkan jadi cemoohan orang banyak.

Sebagai makhluk hidup, manusia Lampung sangat ketat dalam menghayati dan melaksanakan perintah agama. Namun belum dapat duketahui secara pasti sejak kapan agama Islam dijadikan tuntunan hingga dominan kuat dan kental mewarnai kehidupan masyarakat Lampung secara keseluruhan. Sebab bisa dikata tidak ada satu orang pun dari warga asli masyarakat setempat yang menganut agama lain, selain Islam. Karenanya bangunan masigit (masjid) sapat dipastikan selalu ada di setiap kampung, atau bahkan lebih dari satu jumlahnya. Sehingga bahasa ucap akan sholat je hilir atau hulu sering menjadi penuturan mereka sehari-hari. Dan biasanya, Imam di setiap mesigit itu sudah pernanen dilakukan oleh seorang yang dipercaya oleh warga masyarakat dan umumnya sang Imam ini mempunyai ilmu dan pengetahuan tentang agama yang lebih dari orang kebanyakan serta nampu mengobati warfa masyarakat yang sakit dan memerlukan bantuan dari sang Imam.

Pemahaman dan kesadaran sosok manusia Lampung sebagai makhluk sosial sangat kuat. Karenanya mereka pandai menempatkan diri dan mengambil peran dan memposisikan diri dalam fungsi yang dapat dilakukan. Oleh karena itu, jati diri manusia Lampung mempunyai karakteristik yang khas. Meski sangat sensitif, tetapi juga tidak hendak mau menyinggung privasi orang lain, termasuk sesama warga masyarakat Lamoung itu sendiri. Agaknya, kepekaan dari sensitifitas ini, seperti karakter yang bertumbuh dari tradisi dan budaya kesenian sastra bertutur mereka yang cukup kuat. Sebab bahasa ucap yang dilontarkan dalam percakapan sehari-hari pun tidak diungkap secara langsung. Boleh disebut bahasa dalam bentuk sindiran seperti telah menjadi bagian dari keindahan dan kebanggaan tersendir. Oleh karena itu tibgkat intelektualitas, kepahaman, pengetahuan serta wawasan dan pengalaman yang luas dan dalam serta tinggi dapat ditakar oleh semua orang yang mampu menyimak secara seksama dari arah dan tujuan dari pembicaraan tersebut

Untuk upacara yang bersifat ritual dalam pola budaya masyrakat Lampung tidak ada, karena semua sudah ditumpukan pada upacara adat. Dalam upacara maupun upakara dan mantram dari proses ritual seperti yang ada pada suku bangsa lain bisa dikatakan tidak ada. Namun untuk usaha dan upaya mengorbati orang yang sakit, memiliki caranya sendiri. Adapun kemampuan dan kehahlian untuk mengobati orang yang sakit ini biasa diperoleh secara turun temurun dari para leluhur. Biasanya pun tidak akan dikenakan ongkos atau biaya apapun, kecuali hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan dari proses selama pengobatan itu berlangsung.

Pada intinya usaha pengobatan yang dilakukan terhadap orang yang sakit dalam tradisi dan budaya masyarakat Lampung adalah implementasi dari jalinan ikatan persaudaraan yang terus terpelihara dengan cukup baik sampai sekarang. Oleh karena itu, sistem kekekuargaan, gotong royong, saling tolong menolong tanpa harus diminta dengan dasar tenggang rasa yang kuat, pola hubungan seperti itu masih dominan dapat dirasakan sampai hari ini.

Untuk mengadakan upacara kelahiran, perkawinan hingga upacara kematian pun semua saudara dan kerabat umumnya yang berdekatan tempat tinggalnya akan mengambil bagian dalam beragam bentuk ucara maupun upacara yang hendak dikaksanakan oleh sanak keluarga maupun family atau tetangga sebelah yang telah terbangun dengan sendiri dalam ikatan dan bubungan kekeluargaan. Meski dalam hubungan genetik atau darah boleh dikuta tidak ada hubunganya sama sekali.

Sikap dan sifat kekeluargaan serupa inilah agaknya yang telah banyak membuat putra daerah asal Lampung selalu bisa surfive dalam perantauan. Sebab dari sikap dan sifatnya yang familyar dan selalu at home di semua tempatnya yang baru dapat segera adaptasi menyesuaikan diri hingga dapat hidup bersama warga masyarakat yang lain tanpa harus merasa terusik dan merasa terganggu.

Intinya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kesejahteraan pribadi, keluarga maupun kerabat dalam masyarakat Lampung pada umumnya sangat gigih dan kuat. Karena harkat dan martabat setiap orang sangat tergantung serta diandalkan dari perbuatan yang banyak untuk berbuat kebaikan terhadap orang lain, mulai dari orang tua sendiri, paman dan bibi dari pihak ibu maupun dari pihak Bapak hingga saudara kandung dan saudara sepupu. Pola untuk memenuhi kebutuhan primer dan fisik, seperti makanan, minuman, tempat tinggal seakan dilakukan untuk keperluan bersama untuk semua anggota keluarga. Itulah sebabnya dalam tatanan kekeluargaan dan kekerabatan masyarakat Lampung cukup kuat dan langgeng terpelihara dalam tata hubungannya yang khas. Setiap orang mempunyai gelar panggil yang khusus, tanpa kecuali. Untuk anak kemenakan hingga cucu kepada kekek dan neneknya, baik yang memiliki hubungan langsung maupu hubungan tidak langsung untuk yang bersangkutan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed